{"id":215444,"date":"2026-03-16T16:58:16","date_gmt":"2026-03-16T09:58:16","guid":{"rendered":"https:\/\/www.blj.co.id\/?p=215444"},"modified":"2026-03-16T17:00:03","modified_gmt":"2026-03-16T10:00:03","slug":"asal-usul-peta-dunia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/2026\/03\/16\/asal-usul-peta-dunia\/","title":{"rendered":"Asal Usul Peta Dunia"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">(Business Lounge Journal &#8211; Do you know?)<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Asal usul peta dunia berkaitan erat dengan usaha manusia sejak zaman kuno untuk memahami dan menggambarkan ruang tempat mereka hidup. Sejak peradaban awal, manusia berusaha mengetahui di mana posisi mereka berada serta bagaimana hubungan antara satu wilayah dengan wilayah lainnya. Sungai, gunung, jalur perdagangan, dan lautan mulai digambarkan secara sederhana untuk membantu perjalanan dan aktivitas ekonomi. Pada masa awal, peta sering kali dibuat berdasarkan pengalaman para pelaut, pedagang, dan penjelajah, sehingga bentuknya masih sederhana dan tidak selalu akurat. Meski demikian, peta-peta tersebut mencerminkan cara manusia pada zamannya memandang dunia yang mereka kenal.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Seiring waktu, perkembangan ilmu geografi, penjelajahan, dan teknologi membuat peta dunia menjadi semakin akurat dan kompleks. Para ilmuwan mulai menggunakan perhitungan matematis untuk menentukan posisi suatu tempat, sementara perjalanan ke berbagai wilayah baru terus memperkaya informasi geografis. Perkembangan ini berlangsung selama ribuan tahun, dari peta sederhana yang digambar di tanah liat hingga peta modern yang dibuat dengan bantuan satelit dan sistem digital. Dengan demikian, sejarah peta dunia bukan hanya tentang perubahan bentuk peta itu sendiri, tetapi juga tentang perjalanan panjang manusia dalam memahami planet yang mereka huni.<\/p>\n<h3>Peta Dunia Tertua<\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"455\" data-end=\"642\">Salah satu peta dunia tertua yang diketahui adalah Babylonian World Map sekitar abad ke-6 SM. Peta ini dibuat oleh bangsa Babilonia di wilayah Mesopotamia (sekarang bagian dari Irak).\u00a0Ciri-cirinya:<\/p>\n<ul>\n<li data-start=\"661\" data-end=\"698\">Digambar pada lempengan tanah liat.<\/li>\n<li data-start=\"701\" data-end=\"748\">Menempatkan kota Babylon sebagai pusat dunia.<\/li>\n<li data-start=\"751\" data-end=\"809\">Dunia digambarkan sebagai daratan yang dikelilingi lautan.<\/li>\n<\/ul>\n<h3 style=\"text-align: justify;\" data-section-id=\"1vw8w52\" data-start=\"811\" data-end=\"840\">Peta Dunia Yunani Kuno<\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"842\" data-end=\"927\">Bangsa Yunani mulai membuat peta yang lebih ilmiah dibandingkan peradaban sebelumnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"929\" data-end=\"943\">Tokoh penting:\u00a0Anaximander (sekitar 610\u2013546 SM) membuat salah satu peta dunia pertama berbentuk lingkaran. Selain itu Claudius Ptolemy (abad ke-2 M) menulis buku <em data-start=\"1090\" data-end=\"1102\">Geographia<\/em>, yang memperkenalkan sistem koordinat lintang dan bujur. Sistem ini kemudian menjadi dasar bagi pembuatan peta modern.<\/p>\n<h3 style=\"text-align: justify;\" data-section-id=\"92ly9f\" data-start=\"1223\" data-end=\"1257\">Peta Dunia Abad Pertengahan<\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1259\" data-end=\"1346\">Pada masa abad pertengahan di Eropa, peta sering dibuat berdasarkan pandangan religius.\u00a0Salah satu contohnya adalah Hereford Mappa Mundi (sekitar tahun 1300). Dalam peta ini, kota Jerusalem ditempatkan di tengah peta karena dianggap sebagai pusat dunia menurut pandangan religius pada masa itu.<\/p>\n<h3 style=\"text-align: justify;\" data-section-id=\"z29laf\" data-start=\"1564\" data-end=\"1600\">Peta Dunia Zaman Penjelajahan<\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1602\" data-end=\"1717\">Pada abad ke-15 dan ke-16, era penjelajahan laut mengubah peta dunia secara besar-besaran. Para penjelajah seperti: Christopher Columbus atau Ferdinand Magellan\u00a0memberikan informasi baru mengenai benua dan lautan yang sebelumnya belum dikenal oleh bangsa Eropa.\u00a0Pada tahun 1569, Gerardus Mercator membuat Mercator Projection, yaitu metode proyeksi peta yang sangat berpengaruh dan masih digunakan hingga sekarang, terutama dalam navigasi laut.<\/p>\n<h3 style=\"text-align: justify;\" data-section-id=\"19i9il1\" data-start=\"2071\" data-end=\"2095\">Peta Dunia Modern<\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2097\" data-end=\"2179\">Saat ini peta dunia dibuat menggunakan teknologi yang jauh lebih canggih, seperti: satelit, sistem GPS, dan citra digital.\u00a0Peta digital dapat dilihat melalui berbagai aplikasi modern seperti Google Maps, Google Earth, bahkan aplikasi navigasi seperti Waze.<\/p>\n<h3 style=\"text-align: justify;\" data-section-id=\"1rbgyx\" data-start=\"2614\" data-end=\"2655\">Tokoh Penting dalam Sejarah Peta Dunia<\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-section-id=\"szmlc8\" data-start=\"2657\" data-end=\"2698\">1. Anaximander (sekitar abad ke-6 SM)<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2700\" data-end=\"2825\">Anaximander adalah filsuf Yunani kuno yang sering dianggap sebagai orang pertama yang membuat peta dunia dalam tradisi Barat.\u00a0Petanya menggambarkan dunia yang dikenal pada masa itu, yaitu wilayah Eropa, Asia, dan Libya (Afrika) yang dikelilingi oleh lautan besar.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-section-id=\"ut677g\" data-start=\"2970\" data-end=\"2993\">2. Claudius Ptolemy<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2995\" data-end=\"3078\">Claudius Ptolemy adalah seorang ahli geografi dari Alexandria pada abad ke-2 M.\u00a0Ia menulis buku <em data-start=\"3096\" data-end=\"3108\">Geographia<\/em>, yang menjelaskan cara membuat peta menggunakan koordinat garis lintang dan bujur. Sistem ini kemudian menjadi dasar bagi perkembangan kartografi modern.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-section-id=\"n5ojib\" data-start=\"3264\" data-end=\"3289\">3. Muhammad al-Idrisi<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"3291\" data-end=\"3407\">Muhammad al-Idrisi adalah ilmuwan Muslim pada abad ke-12 yang membuat peta dunia terkenal untuk raja di Sisilia.\u00a0Karyanya dikenal dengan nama Tabula Rogeriana, yang pada masanya dianggap sebagai salah satu peta dunia paling akurat.<\/p>\n<p data-start=\"3291\" data-end=\"3407\"><em>David Oloan\/VMN\/BLJ<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(Business Lounge Journal &#8211; Do you know?) Asal usul peta dunia berkaitan erat dengan usaha manusia sejak zaman kuno untuk memahami dan menggambarkan ruang tempat mereka hidup. Sejak peradaban awal, manusia berusaha mengetahui di mana posisi mereka berada serta bagaimana hubungan antara satu wilayah dengan wilayah lainnya. Sungai, gunung, jalur perdagangan, dan lautan mulai digambarkan secara sederhana untuk membantu perjalanan dan aktivitas ekonomi. Pada masa awal, peta sering kali dibuat berdasarkan pengalaman para pelaut, pedagang, dan penjelajah, sehingga bentuknya masih [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":36,"featured_media":215445,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_editorskit_title_hidden":false,"_editorskit_reading_time":0,"_editorskit_typography_data":[],"_editorskit_blocks_typography":"","_editorskit_is_block_options_detached":false,"_editorskit_block_options_position":"{}","om_disable_all_campaigns":false,"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"_uf_show_specific_survey":0,"_uf_disable_surveys":false,"footnotes":""},"categories":[5845],"tags":[13004],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/215444"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/36"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=215444"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/215444\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":215447,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/215444\/revisions\/215447"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/215445"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=215444"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=215444"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=215444"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}