{"id":215074,"date":"2026-03-04T12:53:06","date_gmt":"2026-03-04T05:53:06","guid":{"rendered":"https:\/\/www.blj.co.id\/?p=215074"},"modified":"2026-04-09T09:38:51","modified_gmt":"2026-04-09T02:38:51","slug":"critically-bali-menyingkap-sisi-lain-pulau-dewata-di-gajah-gallery","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/2026\/03\/04\/critically-bali-menyingkap-sisi-lain-pulau-dewata-di-gajah-gallery\/","title":{"rendered":"Critically Bali: Menyingkap Sisi Lain Pulau Dewata di Gajah Gallery"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\" data-path-to-node=\"2\">(Business Lounge Journal &#8211; Event)<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-path-to-node=\"3\"><span class=\"\">Bali sering kali terperangkap dalam narasi &#8220;paradise island&#8221; yang eksotis di mata dunia.<\/span><span class=\"\"> Namun,<\/span><span class=\"\"> ada sisi Bali yang jarang terlihat oleh turis:<\/span><span class=\"\"> Bali sebagai ruang dialektika yang terus bergerak,<\/span><span class=\"\"> bergejolak,<\/span><span class=\"\"> dan menolak untuk diam.<\/span><span class=\"\"> Inilah yang diangkat oleh <\/span>Gajah Gallery<span class=\"\"> melalui pameran bertajuk <\/span>Critically Bali<span class=\"\">.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-path-to-node=\"4\"><span class=\"\">Setelah sukses memikat audiens di Singapura,<\/span><span class=\"\"> pameran krusial ini akhirnya mendarat di Jakarta.<\/span><span class=\"\"> Mulai <\/span>7 hingga 29 Maret 2026<span class=\"\">,<\/span><span class=\"\"> Gajah Gallery Jakarta membuka ruang untuk melihat Bali bukan sebagai objek statis,<\/span><span class=\"\"> melainkan sebagai lahan subur tempat tradisi diuji,<\/span><span class=\"\"> dikritik,<\/span><span class=\"\"> dan didekonstruksi.<\/span><\/p>\n<h3 class=\"\" style=\"text-align: justify;\" data-path-to-node=\"5\">Melampaui Batas Tradisi<\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-path-to-node=\"6\"><span class=\"\">Critically Bali bukanlah pameran seni biasa yang hanya memajang estetika.<\/span><span class=\"\"> Pameran ini mengajak kita untuk menelusuri jejak sejarah seni rupa Bali selama hampir satu abad.<\/span><span class=\"\"> Dari era kolonial,<\/span><span class=\"\"> masa pasca-kemerdekaan,<\/span><span class=\"\"> hingga tantangan pariwisata massal saat ini,<\/span><span class=\"\"> para seniman yang terlibat dalam pameran ini bertindak sebagai saksi\u2014dan sekaligus kritikus\u2014terhadap perubahan zaman.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-path-to-node=\"7\"><span class=\"\">Pameran ini mempertemukan empat belas seniman lintas generasi,<\/span><span class=\"\"> menciptakan dialog visual yang intens antara masa lalu dan masa depan.<\/span><\/p>\n<h3 class=\"\" data-path-to-node=\"8\">Siapa Saja yang Terlibat?<\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-path-to-node=\"9\"><span class=\"\">Kurasi dalam pameran ini sangat menarik karena menggabungkan maestro legendaris dengan seniman kontemporer yang berani mendobrak pakem:<\/span><\/p>\n<ul data-path-to-node=\"10\">\n<li style=\"text-align: justify;\">\n<p data-path-to-node=\"10,0,0\">Sang Pionir:<span class=\"\"> Menampilkan karya tokoh kunci seperti <\/span>I Gusti Nyoman Lempad, I Gusti Nyoman Tjokot,<span class=\"\"> dan <\/span>Dewa Putu Mokoh<span class=\"\">.<\/span><span class=\"\"> Mereka adalah fondasi yang melepaskan diri dari konvensionalisme lukisan Kamasan klasik menuju bahasa visual Bali Modern yang kita kenal hari ini.<\/span><\/p>\n<\/li>\n<li style=\"text-align: justify;\">\n<p data-path-to-node=\"10,1,0\">Penerus Estetika:<span class=\"\"> Perjalanan seni dilanjutkan melalui karya <\/span>Made Wianta, I Made Djirna,<span class=\"\"> dan <\/span>Putu Sutawijaya<span class=\"\">,<\/span><span class=\"\"> yang memperluas cakrawala identitas Bali dalam lingkup nasional dan internasional.<\/span><\/p>\n<\/li>\n<li style=\"text-align: justify;\">\n<p data-path-to-node=\"10,2,0\">Suara Kritik &amp; Perlawanan:<span class=\"\"> Pameran ini menjadi panggung yang jujur bagi <\/span>I Gusti Ayu Kadek Murniasih<span class=\"\"> dan <\/span>Satya Cipta<span class=\"\">.<\/span><span class=\"\"> Melalui karya mereka,<\/span><span class=\"\"> isu patriarki dan asumsi gender yang sering kali tertutup di balik kata &#8220;tradisi&#8221; akhirnya dibuka dan didekonstruksi.<\/span><\/p>\n<\/li>\n<li>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-path-to-node=\"10,3,0\">Perspektif Kontemporer:<span class=\"\"> Sisi paling memikat dari pameran ini adalah bagaimana seni merespons teknologi dan fenomena sosial.<\/span> Jemana Murti<span class=\"\"> mengeksplorasi pertemuan simbol sakral dengan kecerdasan artifisial (AI),<\/span><span class=\"\"> sementara mendiang <\/span>Ashley Bickerton<span class=\"\"> menyajikan sindiran tajam mengenai eksotisme Bali yang kerap dikomodifikasi oleh pariwisata.<\/span><\/p>\n<\/li>\n<\/ul>\n<h3 class=\"\" data-path-to-node=\"11\">Mengapa Pameran Ini Wajib Dikunjungi?<\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span class=\"\">Critically Bali adalah undangan bagi kita untuk berhenti sejenak dan berpikir ulang tentang apa arti &#8220;tradisi.&#8221; Di sini,<\/span><span class=\"\"> tradisi tidak dianggap sebagai warisan yang harus dibekukan di dalam museum,<\/span><span class=\"\"> melainkan sebuah medan pertempuran ide yang dinamis.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-path-to-node=\"13\"><span class=\"\">Bagi Anda para penikmat seni,<\/span><span class=\"\"> kolektor,<\/span><span class=\"\"> maupun mereka yang penasaran dengan kedalaman budaya Bali di luar hiruk-pikuk liburan,<\/span><span class=\"\"> pameran ini menawarkan perspektif yang tidak akan Anda temukan di kartu pos manapun.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-path-to-node=\"14\">Informasi Pameran:<\/p>\n<ul style=\"text-align: justify;\">\n<li data-path-to-node=\"15,0,0\">Acara:<span class=\"\"> Critically Bali<\/span><\/li>\n<li data-path-to-node=\"15,1,0\">Lokasi:<span class=\"\"> Gajah Gallery Jakarta<\/span><\/li>\n<li data-path-to-node=\"15,2,0\">Tanggal:<span class=\"\"> 7 \u2013 29 Maret 2026<\/span><\/li>\n<li data-path-to-node=\"15,3,0\">Resepsi Pembukaan:<span class=\"\"> 7 Maret 2026,<\/span><span class=\"\"> pukul 18.<\/span><span class=\"\">00 WIB<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-path-to-node=\"16\"><span class=\"\">Jangan lewatkan kesempatan untuk melihat bagaimana para seniman ini &#8220;membaca&#8221; Bali dengan cara yang paling jujur dan menantang.<\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(Business Lounge Journal &#8211; Event) Bali sering kali terperangkap dalam narasi &#8220;paradise island&#8221; yang eksotis di mata dunia. Namun, ada sisi Bali yang jarang terlihat oleh turis: Bali sebagai ruang dialektika yang terus bergerak, bergejolak, dan menolak untuk diam. Inilah yang diangkat oleh Gajah Gallery melalui pameran bertajuk Critically Bali. Setelah sukses memikat audiens di Singapura, pameran krusial ini akhirnya mendarat di Jakarta. Mulai 7 hingga 29 Maret 2026, Gajah Gallery Jakarta membuka ruang untuk melihat Bali bukan sebagai objek [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":26,"featured_media":215075,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_editorskit_title_hidden":false,"_editorskit_reading_time":0,"_editorskit_typography_data":[],"_editorskit_blocks_typography":"","_editorskit_is_block_options_detached":false,"_editorskit_block_options_position":"{}","om_disable_all_campaigns":false,"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"_uf_show_specific_survey":0,"_uf_disable_surveys":false,"footnotes":""},"categories":[1256,8027],"tags":[12926,9131],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/215074"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/26"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=215074"}],"version-history":[{"count":8,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/215074\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":215085,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/215074\/revisions\/215085"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/215075"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=215074"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=215074"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=215074"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}