{"id":215039,"date":"2026-03-03T16:33:46","date_gmt":"2026-03-03T09:33:46","guid":{"rendered":"https:\/\/www.blj.co.id\/?p=215039"},"modified":"2026-03-03T16:34:20","modified_gmt":"2026-03-03T09:34:20","slug":"mengapa-kita-tahu-kapan-harus-berhenti-menggaruk-rasa-gatal","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/2026\/03\/03\/mengapa-kita-tahu-kapan-harus-berhenti-menggaruk-rasa-gatal\/","title":{"rendered":"Mengapa Kita Tahu Kapan Harus Berhenti Menggaruk Rasa Gatal"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"75\" data-end=\"251\">(Business Lounge &#8211; Medicine) Harapan bagi jutaan pasien eksim disebut semakin mendekati kenyataan setelah para ilmuwan menemukan alasan mengapa manusia mengetahui kapan harus berhenti menggaruk rasa gatal.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"253\" data-end=\"586\">Para peneliti mengidentifikasi adanya saluran sensorik yang berfungsi sebagai sinyal bawaan tubuh untuk menandakan bahwa aktivitas menggaruk sudah cukup. Mereka menyatakan bahwa terobosan tersebut berpotensi membantu pengembangan pengobatan yang lebih efektif untuk kondisi gatal kronis seperti eksim, psoriasis, dan penyakit ginjal.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"588\" data-end=\"866\">Tim peneliti menjelaskan bahwa ketika seseorang menggaruk rasa gatal, terdapat mekanisme yang memberi tahu otak kapan harus berhenti. Momen kelegaan saat menggaruk terasa sudah cukup bukanlah sesuatu yang terjadi secara kebetulan, melainkan diatur oleh sistem biologis tertentu.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"868\" data-end=\"1133\">Para ilmuwan kemudian berhasil mengidentifikasi mekanisme molekuler dan saraf utama di balik sistem pengereman alami tersebut, yang memberikan pemahaman baru tentang bagaimana tubuh mengatur rasa gatal serta mengapa pengendalian itu dapat gagal pada kondisi kronis.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1135\" data-end=\"1607\">Tim penelitian yang dipimpin oleh Profesor Roberta Gualdani dari University of Louvain di Brussel, Belgia, menemukan adanya peran tak terduga dari saluran ion TRPV4 dalam rasa gatal yang dipicu secara mekanis. Menurut Prof Gualdani, pada awalnya timnya mempelajari TRPV4 dalam konteks rasa nyeri. Namun alih-alih menemukan fenotipe nyeri, mereka justru mendapati adanya gangguan yang sangat jelas pada mekanisme rasa gatal, khususnya terkait pengaturan perilaku menggaruk.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1609\" data-end=\"2062\">Ia menjelaskan bahwa TRPV4 merupakan bagian dari keluarga saluran ion yang berfungsi sebagai \u201cgerbang molekuler\u201d di membran neuron sensorik, memungkinkan ion mengalir sebagai respons terhadap rangsangan fisik maupun kimia. Saluran tersebut membantu sistem saraf mendeteksi suhu, tekanan, serta stres pada jaringan tubuh. Meski telah lama diduga terlibat dalam mekanosensasi, peran TRPV4 dalam rasa gatal, terutama gatal kronis, masih menjadi perdebatan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2064\" data-end=\"2453\">Untuk menjawab pertanyaan tersebut secara lebih akurat, tim peneliti merekayasa model tikus genetik dengan menghapus TRPV4 secara selektif hanya pada neuron sensorik. Pendekatan yang berfokus pada neuron ini disebut mampu mengatasi keterbatasan studi sebelumnya, di mana TRPV4 dihilangkan dari seluruh jaringan tubuh sehingga sulit menentukan lokasi kerja saluran tersebut secara spesifik.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2455\" data-end=\"2700\">Hasil penelitian menunjukkan bahwa TRPV4 diekspresikan pada neuron yang secara klasik terkait dengan sentuhan, yakni A\u03b2-LTMRs, serta pada subkelompok neuron sensorik yang terlibat dalam jalur gatal dan nyeri, termasuk yang mengekspresikan TRPV1.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2702\" data-end=\"2975\">Ketika tim tersebut menginduksi kondisi gatal kronis yang menyerupai dermatitis atopik, hasilnya disebut sangat mencolok. Tikus yang kekurangan TRPV4 pada neuron memang menggaruk lebih jarang, tetapi setiap episode menggaruk berlangsung jauh lebih lama dibandingkan normal.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2977\" data-end=\"3406\">Menurut Prof Gualdani, temuan tersebut sekilas tampak paradoks, namun sebenarnya mengungkap aspek penting mengenai bagaimana rasa gatal diatur. Data penelitian menunjukkan bahwa TRPV4 tidak sekadar menghasilkan rasa gatal. Sebaliknya, pada neuron mekanosensorik, saluran ini berperan memicu sinyal umpan balik negatif, yakni pesan saraf yang memberi tahu sumsum tulang belakang dan otak bahwa aktivitas menggaruk telah mencukupi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"3408\" data-end=\"3661\">Tanpa adanya sinyal tersebut, sensasi kelegaan menjadi berkurang, sehingga aktivitas menggaruk berlanjut secara berlebihan. Dengan demikian, TRPV4 dinilai menjadi bagian dari sirkuit internal sistem saraf yang berfungsi menghentikan aktivitas menggaruk.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"3663\" data-end=\"3984\">Prof Gualdani menjelaskan bahwa ketika seseorang menggaruk rasa gatal, pada titik tertentu ia berhenti karena adanya sinyal umpan balik negatif yang menandakan rasa puas telah tercapai. Tanpa TRPV4, tikus dalam penelitian tidak merasakan umpan balik tersebut sehingga mereka terus menggaruk jauh lebih lama dari biasanya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"3986\" data-end=\"4333\">Ia menambahkan bahwa temuan ini menunjukkan peran TRPV4 dalam rasa gatal jauh lebih kompleks daripada yang diperkirakan sebelumnya. Saluran tersebut pada sel kulit tampaknya memicu sensasi gatal, tetapi pada neuron justru membantu mengatur dan membatasi respons tersebut. Peran ganda ini dinilai memiliki implikasi penting dalam pengembangan obat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"4335\" data-end=\"4622\" data-is-last-node=\"\" data-is-only-node=\"\">Menurut Prof Gualdani, pemblokiran TRPV4 secara luas kemungkinan bukan solusi yang tepat. Ia menilai bahwa terapi di masa depan perlu dirancang secara lebih terarah, mungkin hanya bekerja pada kulit tanpa mengganggu mekanisme saraf yang memberi tahu tubuh kapan harus berhenti menggaruk.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(Business Lounge &#8211; Medicine) Harapan bagi jutaan pasien eksim disebut semakin mendekati kenyataan setelah para ilmuwan menemukan alasan mengapa manusia mengetahui kapan harus berhenti menggaruk rasa gatal. Para peneliti mengidentifikasi adanya saluran sensorik yang berfungsi sebagai sinyal bawaan tubuh untuk menandakan bahwa aktivitas menggaruk sudah cukup. Mereka menyatakan bahwa terobosan tersebut berpotensi membantu pengembangan pengobatan yang lebih efektif untuk kondisi gatal kronis seperti eksim, psoriasis, dan penyakit ginjal. Tim peneliti menjelaskan bahwa ketika seseorang menggaruk rasa gatal, terdapat mekanisme yang [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":32,"featured_media":215040,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_editorskit_title_hidden":false,"_editorskit_reading_time":0,"_editorskit_typography_data":[],"_editorskit_blocks_typography":"","_editorskit_is_block_options_detached":false,"_editorskit_block_options_position":"{}","om_disable_all_campaigns":false,"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"_uf_show_specific_survey":0,"_uf_disable_surveys":false,"footnotes":""},"categories":[1055],"tags":[12918],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/215039"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/32"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=215039"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/215039\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":215041,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/215039\/revisions\/215041"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/215040"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=215039"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=215039"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=215039"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}