{"id":215013,"date":"2026-03-03T12:25:43","date_gmt":"2026-03-03T05:25:43","guid":{"rendered":"https:\/\/www.blj.co.id\/?p=215013"},"modified":"2026-03-03T12:26:31","modified_gmt":"2026-03-03T05:26:31","slug":"riset-terbaru-teknologi-digital-dan-ai-dapat-mendukung-pekerja-dengan-demensia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/2026\/03\/03\/riset-terbaru-teknologi-digital-dan-ai-dapat-mendukung-pekerja-dengan-demensia\/","title":{"rendered":"Riset terbaru Teknologi digital dan AI Dapat Mendukung Pekerja Dengan Demensia"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"85\" data-end=\"361\">(Business Lounge &#8211; Human Resources) Orang dengan demensia dilaporkan dapat menikmati kehidupan kerja yang produktif dan bermakna di era digital, bertentangan dengan stereotip luas yang menyatakan bahwa demensia tidak sejalan dengan penggunaan teknologi modern, menurut penelitian terbaru dari University of Bath.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"363\" data-end=\"883\">Studi berjudul <em>Working lives with dementia: A digital futures perspective<\/em>\u00a0menyatakan bahwa revolusi digital berisiko memperlebar ketimpangan di antara individu dengan kebutuhan yang beragam. Namun demikian, studi tersebut menekankan bahwa organisasi dapat dan seharusnya mengembangkan, menyesuaikan, serta menerapkan teknologi digital dan lingkungan kerja untuk membantu mereka yang hidup dengan demensia agar tetap dapat bekerja. Penelitian ini dipublikasikan di <em>Journal of Occupational and Organizational Psychology<\/em>.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"885\" data-end=\"1326\">Dr. James Fletcher dari University of Bath School of Management menyatakan bahwa populasi dan angkatan kerja yang menua akan semakin diwarnai oleh kasus demensia, sehingga kondisi tersebut seharusnya dapat diakomodasi melalui penggunaan teknologi digital secara bijak dan penyesuaian kondisi kerja. Ia menilai bahwa hingga saat ini isu tersebut belum ditangani secara bermakna dan sangat jarang terdapat strategi yang benar-benar diterapkan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1328\" data-end=\"1840\">Dr. Fletcher juga menyampaikan bahwa terdapat prasangka luas yang menganggap individu dengan demensia tidak mampu mengatasi atau mengambil manfaat dari teknologi digital dan kerap disamaratakan dengan kelompok lansia tertua. Menurutnya, pandangan tersebut perlu diluruskan karena seorang karyawan berusia sekitar 60 tahun dengan demensia tahap awal telah tumbuh bersama revolusi digital, internet, dan media sosial, sehingga dengan dukungan yang tepat mereka masih memiliki kontribusi signifikan untuk diberikan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1842\" data-end=\"2187\">Studi tersebut dipublikasikan bertepatan dengan pengumuman rencana reformasi kesejahteraan oleh pemerintah Inggris, yang salah satu tujuannya adalah mendorong lebih banyak penyandang disabilitas untuk bekerja. Dr. Fletcher berharap riset itu dapat menjadi contoh yang berguna dalam melihat peluang dan tantangan untuk mewujudkan tujuan tersebut.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2189\" data-end=\"2515\">Ia juga mencatat bahwa penyesuaian yang relatif sederhana pada lingkungan kerja, seperti peningkatan pencahayaan meja kerja, penggunaan jenis huruf dan skema warna yang sesuai, serta penyediaan kalender, kontrol berbasis suara, dan pengingat otomatis, dapat memberikan perbedaan besar bagi seseorang yang didiagnosis demensia.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2517\" data-end=\"2955\">Lebih lanjut, Dr. Fletcher menjelaskan bahwa kecerdasan buatan menawarkan peluang yang sangat menarik karena dinilai unggul dalam membantu menyelesaikan berbagai persoalan yang dihadapi individu dengan demensia, seperti menemukan kata, menyusun teks, dan menempatkan kata dalam urutan yang tepat. Ia menambahkan bahwa jika dikombinasikan dengan potensi kerja hibrida, manfaat tersebut dapat dirasakan baik oleh karyawan maupun perusahaan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2957\" data-end=\"3391\">Dr. Fletcher bersama rekan penelitinya, Dr. Olivia Brown, berpendapat bahwa demensia tidak secara inheren bersifat melumpuhkan dan dampaknya sangat bergantung pada lingkungan serta situasi tempat seorang karyawan bekerja. Mereka mencontohkan bahwa seorang karyawan dengan demensia mungkin masih mampu mengakses gedung menggunakan kartu akses, tetapi dapat mengalami kesulitan apabila sistem akses mengharuskan pengingat kode tertentu.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"3393\" data-end=\"3845\">Dr. Brown menyatakan bahwa pendekatan terhadap pekerja dengan demensia seharusnya dilakukan sebagaimana organisasi merespons individu dengan kebutuhan beragam lainnya, sesuatu yang sebenarnya sudah akrab di lingkungan kerja. Ia juga menilai bahwa terdapat kecenderungan keliru untuk melihat diagnosis demensia secara hitam-putih, padahal dampaknya dapat bervariasi dari hari ke hari bahkan dari jam ke jam, tergantung pada lingkungan dan relasi sosial.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"3847\" data-end=\"4306\">Dr. Fletcher turut menyampaikan bahwa karyawan dapat mengalami stres yang sangat besar akibat diagnosis demensia maupun saat mengungkapkannya kepada pemberi kerja, sehingga sebagian memilih mengembangkan strategi untuk menyembunyikan kondisi tersebut. Ia menambahkan bahwa meskipun data statistik yang komprehensif masih terbatas, tampaknya sebagian besar individu yang didiagnosis demensia berakhir dalam pengangguran, sering kali bukan atas kemauan sendiri.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"4308\" data-end=\"4573\">Ia juga menegaskan bahwa terdapat banyak individu yang sebenarnya masih dapat bertahan di dunia kerja namun tidak melakukannya, dan bahwa kondisi ini bukan semata isu usia lanjut karena jumlah individu yang lebih muda dengan diagnosis demensia juga terus meningkat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"4575\" data-end=\"4868\">Para peneliti mencatat bahwa demensia kerap dianggap sebagai fenomena pasca-pensiun. Namun, perkiraan menunjukkan bahwa sekitar 9% dari 35,6 juta orang di seluruh dunia yang hidup dengan demensia berusia di bawah 65 tahun, dengan sekitar 370.000 kasus baru demensia onset muda setiap tahunnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"4870\" data-end=\"5568\">Di Indonesia, isu pekerja dengan demensia dinilai masih relatif jarang dibahas dalam konteks ketenagakerjaan formal. Sementara itu, Indonesia tengah memasuki fase penuaan penduduk, sebagaimana ditunjukkan oleh data Badan Pusat Statistik yang mencatat peningkatan proporsi lansia. Kondisi tersebut mengindikasikan bahwa risiko kasus demensia berpotensi meningkat dalam satu hingga dua dekade mendatang. Namun, demensia masih sering dipandang sebagai persoalan keluarga atau kesehatan semata, bukan sebagai isu produktivitas dan desain tempat kerja, sehingga belum banyak perusahaan yang memiliki kebijakan khusus untuk mempertahankan pekerja dengan gangguan kognitif ringan atau demensia tahap awal.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"5570\" data-end=\"6251\">Dari sisi regulasi, perlindungan terhadap pekerja dengan disabilitas telah diatur dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas yang mewajibkan perusahaan swasta dan BUMN mempekerjakan penyandang disabilitas dalam persentase tertentu. Akan tetapi, dalam praktiknya, kategori disabilitas yang lebih dipahami publik dan dunia usaha umumnya merujuk pada disabilitas fisik atau sensorik. Kondisi seperti demensia, terutama pada tahap awal, sering kali tidak teridentifikasi atau bahkan disembunyikan karena kekhawatiran terhadap stigma dan kehilangan pekerjaan, yang pada akhirnya mendorong sebagian pekerja untuk pensiun dini atau keluar secara tidak sukarela.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"6253\" data-end=\"6969\" data-is-last-node=\"\" data-is-only-node=\"\">Meski demikian, transformasi digital yang tengah berlangsung di Indonesia\u2014mulai dari sistem kerja berbasis aplikasi, otomatisasi administrasi, hingga penggunaan AI sederhana di perkantoran\u2014sebenarnya membuka peluang untuk menciptakan lingkungan kerja yang lebih inklusif. Penyesuaian seperti pemanfaatan pengingat digital, antarmuka yang ramah pengguna, fleksibilitas kerja jarak jauh, serta budaya kerja yang suportif dinilai dapat membantu pekerja dengan gangguan kognitif ringan tetap produktif. Tantangan utamanya terletak pada tingkat kesadaran perusahaan dan kesiapan manajemen untuk memandang demensia bukan sebagai akhir dari karier, melainkan sebagai kondisi yang dapat dikelola melalui dukungan yang tepat.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(Business Lounge &#8211; Human Resources) Orang dengan demensia dilaporkan dapat menikmati kehidupan kerja yang produktif dan bermakna di era digital, bertentangan dengan stereotip luas yang menyatakan bahwa demensia tidak sejalan dengan penggunaan teknologi modern, menurut penelitian terbaru dari University of Bath. Studi berjudul Working lives with dementia: A digital futures perspective\u00a0menyatakan bahwa revolusi digital berisiko memperlebar ketimpangan di antara individu dengan kebutuhan yang beragam. Namun demikian, studi tersebut menekankan bahwa organisasi dapat dan seharusnya mengembangkan, menyesuaikan, serta menerapkan teknologi digital [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":32,"featured_media":199952,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_editorskit_title_hidden":false,"_editorskit_reading_time":0,"_editorskit_typography_data":[],"_editorskit_blocks_typography":"","_editorskit_is_block_options_detached":false,"_editorskit_block_options_position":"{}","om_disable_all_campaigns":false,"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"_uf_show_specific_survey":0,"_uf_disable_surveys":false,"footnotes":""},"categories":[1044,4,7941],"tags":[9777],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/215013"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/32"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=215013"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/215013\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":215014,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/215013\/revisions\/215014"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/199952"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=215013"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=215013"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=215013"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}