{"id":213483,"date":"2025-12-24T11:41:21","date_gmt":"2025-12-24T04:41:21","guid":{"rendered":"https:\/\/www.blj.co.id\/?p=213483"},"modified":"2025-12-24T12:19:30","modified_gmt":"2025-12-24T05:19:30","slug":"musik-sebagai-garis-darah-bangsa-taras-filenko-ukrainian-pianist","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/2025\/12\/24\/musik-sebagai-garis-darah-bangsa-taras-filenko-ukrainian-pianist\/","title":{"rendered":"Musik sebagai Garis Darah Bangsa &#8211; Taras Filenko, Ukrainian Pianist"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">(Business Lounge Journal &#8211; Interview Session)<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"307\" data-end=\"650\">Di tengah hiruk-pikuk dunia yang semakin terpolarisasi, musik kembali membuktikan dirinya bukan sekadar hiburan, melainkan bahasa kemanusiaan yang melampaui batas negara. Bagi Taras Filenko, seorang musisi, etnomusikolog, dan musikolog asal Ukraina, musik adalah cara bertahan\u2014bahkan melawan\u2014di tengah ancaman terhadap identitas bangsanya.\u00a0\u201cNama saya Taras Filenko. Saya mendedikasikan hidup saya untuk membawa budaya dan musik Ukraina ke seluruh dunia,\u201d ujarnya kepada Business Lounge Journal. Sejak perang berskala penuh Rusia terhadap Ukraina dimulai, misi itu berubah menjadi panggilan hidup.<\/p>\n<h3 style=\"text-align: justify;\" data-start=\"879\" data-end=\"923\">Musik sebagai Benteng Identitas Nasional<\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"925\" data-end=\"1133\">Bagi Ukraina, perang bukan semata perebutan wilayah, sumber daya, atau kekuasaan. Lebih dari itu, ini adalah perang terhadap identitas nasional. Budaya\u2014musik, sastra, tari, dan seni\u2014menjadi sasaran utama.\u00a0\u201cIni bukan hanya perang fisik. Ini adalah upaya untuk menghancurkan jati diri bangsa Ukraina,\u201d kata Filenko. Dalam konteks ini, seni berfungsi layaknya tulang punggung bangsa, sebagaimana gamelan, batik, dan tari bagi Indonesia.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1369\" data-end=\"1590\">Di tengah tekanan tersebut, musik justru tampil sebagai bentuk perlawanan paling sunyi namun paling kuat. Bukan melalui pidato politik, melainkan melalui nada, harmoni, dan memori kolektif yang diwariskan lintas generasi.<\/p>\n<h3 style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1592\" data-end=\"1619\">Dua Rhapsody, Satu Jiwa<\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1621\" data-end=\"1900\">Di Indonesia, Filenko mendapat kesempatan langka untuk memperkenalkan musik Ukraina kepada publik internasional. Salah satu momen penting dalam programnya adalah ketika ia memainkan dua karya dalam genre yang sama\u2014Rhapsody\u2014namun berasal dari dua bangsa dan dua zaman berbeda.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1902\" data-end=\"2196\">Yang pertama adalah karya Ananda Sukarlan dari Indonesia, dan yang kedua karya Mykola Lysenko, komponis besar Ukraina. Meski terpaut hampir satu abad, keduanya memiliki pendekatan yang nyaris identik: mengangkat elemen musik rakyat dan lagu anak-anak ke dalam kerangka musik klasik.\u00a0\u201cInilah esensi identitas nasional,\u201d jelas Filenko. \u201cFolk elements bukan sekadar ornamen, tapi fondasi.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2303\" data-end=\"2458\">Pertemuan dua Rhapsody ini menjadi simbol dialog lintas budaya\u2014bahwa bangsa yang berbeda dapat berbicara dalam bahasa yang sama ketika seni menjadi medium.<\/p>\n<h3 style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2460\" data-end=\"2492\">Warisan yang Terancam Hilang<\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2494\" data-end=\"2719\">Namun membawa musik Ukraina ke panggung dunia bukanlah perkara mudah. Repertoar Ukraina membentang dari era Barok, Klasik, Romantik, hingga kontemporer\u2014ratusan tahun sejarah yang mustahil dirangkum dalam satu jam pertunjukan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2721\" data-end=\"2962\">Lebih menyedihkan lagi, banyak karya indah tersebut masih belum dikenal luas, sebagian karena represi budaya yang telah berlangsung lama. Sekolah, institusi seni, monumen budaya, bahkan para seniman dan akademisi turut menjadi korban perang.\u00a0\u201cSaya kehilangan murid saya\u2014seorang pemain biola yang luar biasa. Saya juga kehilangan sepupu kedua saya, seorang profesor,\u201d tuturnya lirih. Di balik setiap karya yang hilang, ada manusia, ada masa depan intelektual yang terputus.<\/p>\n<h3 style=\"text-align: justify;\" data-start=\"3196\" data-end=\"3230\">Musik sebagai Pernyataan Moral<\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"3232\" data-end=\"3495\">Filenco menegaskan bahwa ia tidak datang untuk menyampaikan pernyataan politik secara eksplisit. Namun, ia mengakui bahwa musik itu sendiri adalah pernyataan politik\u2014dalam bentuk yang lebih jujur dan lebih mudah dipahami dibandingkan forum diplomasi mana pun.\u00a0\u201cMelalui musik, orang bisa merasakan, bukan hanya mendengar.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"3560\" data-end=\"3766\">Dalam sejarah banyak bangsa yang mengalami penindasan, tradisi lisan sering kali menjadi penyelamat budaya. Musik diwariskan dari mulut ke mulut, dari hati ke hati, ketika tulisan dan institusi dihancurkan.<\/p>\n<h3 style=\"text-align: justify;\" data-start=\"3768\" data-end=\"3812\">Indonesia, Rumah Kedua yang Penuh Empati<\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"3814\" data-end=\"4013\">Selama berada di Indonesia, Filenko merasakan sesuatu yang sederhana namun mendalam: kebaikan. Dari sopir taksi hingga akademisi, dari restoran hingga ruang kelas, ia merasakan empati yang tulus.\u00a0\u201cSejak saya menginjakkan kaki di Jakarta, yang saya rasakan hanya satu hal: <em>kindness<\/em>.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"4103\" data-end=\"4312\">Bagi Ukraina, dukungan moral dari bangsa yang jauh secara geografis namun dekat secara kemanusiaan memiliki makna besar. Sebuah jabat tangan, sebuah ekspresi empati, dapat menjadi penguat di masa paling rapuh.<\/p>\n<h3 style=\"text-align: justify;\" data-start=\"4314\" data-end=\"4358\">Seni, Kepedulian, dan Mereka yang Rentan<\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"4360\" data-end=\"4601\">Hubungan Filenko dengan Ananda Sukarlan juga terjalin melalui nilai kepedulian terhadap kelompok rentan. Filenko sendiri memiliki cucu dengan disabilitas berat\u2014pengalaman personal yang membuatnya semakin peka terhadap penderitaan orang lain.\u00a0\u201cSetiap keluarga punya pergumulannya sendiri. Dan di masa sulit, kita harus saling membantu.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"4698\" data-end=\"4925\">Ia menekankan bahwa kaum intelektual dan pelaku budaya adalah lapisan tipis dalam setiap bangsa\u2014namun justru lapisan inilah yang menjaga arah dan masa depan negara. Ketika lapisan ini hancur, seluruh bangsa berada dalam bahaya.<\/p>\n<h3 style=\"text-align: justify;\" data-start=\"4927\" data-end=\"4963\">Budaya sebagai Antidot Kekerasan<\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"4965\" data-end=\"5152\">Di tengah agresi dan kehancuran, budaya justru menjadi antidot\u2014penangkal terhadap upaya penghapusan identitas. Musik, dalam hal ini, bukan sekadar bunyi, melainkan penanda keberadaan.\u00a0\u201cSelama budaya hidup, bangsa itu masih bernapas.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"5205\" data-end=\"5429\">Dan itulah alasan Taras Filenko berdiri di atas panggung Indonesia: membawa musik Ukraina, membangun kesadaran global, dan mengingatkan dunia bahwa apa yang terjadi di Ukraina hari ini, bisa terjadi di mana saja, kapan saja.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"5431\" data-end=\"5552\">Karena pada akhirnya, musik mengingatkan kita pada satu hal mendasar: kita semua manusia, dan kita semua terhubung.<\/p>\n<p><iframe title=\"United by Music: Taras Filenko, Ukrainian Pianist\" width=\"750\" height=\"422\" src=\"https:\/\/www.youtube.com\/embed\/fGXzhX7GyqQ?feature=oembed\" frameborder=\"0\" allow=\"accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share\" referrerpolicy=\"strict-origin-when-cross-origin\" allowfullscreen><\/iframe><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(Business Lounge Journal &#8211; Interview Session) Di tengah hiruk-pikuk dunia yang semakin terpolarisasi, musik kembali membuktikan dirinya bukan sekadar hiburan, melainkan bahasa kemanusiaan yang melampaui batas negara. Bagi Taras Filenko, seorang musisi, etnomusikolog, dan musikolog asal Ukraina, musik adalah cara bertahan\u2014bahkan melawan\u2014di tengah ancaman terhadap identitas bangsanya.\u00a0\u201cNama saya Taras Filenko. Saya mendedikasikan hidup saya untuk membawa budaya dan musik Ukraina ke seluruh dunia,\u201d ujarnya kepada Business Lounge Journal. Sejak perang berskala penuh Rusia terhadap Ukraina dimulai, misi itu berubah menjadi [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":101075,"featured_media":213485,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_editorskit_title_hidden":false,"_editorskit_reading_time":0,"_editorskit_typography_data":[],"_editorskit_blocks_typography":"","_editorskit_is_block_options_detached":false,"_editorskit_block_options_position":"{}","om_disable_all_campaigns":false,"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"_uf_show_specific_survey":0,"_uf_disable_surveys":false,"footnotes":""},"categories":[1256,1052,2725,8425,8067],"tags":[12686,12687],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/213483"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/101075"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=213483"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/213483\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":213491,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/213483\/revisions\/213491"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/213485"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=213483"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=213483"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=213483"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}