{"id":213053,"date":"2025-12-05T15:58:23","date_gmt":"2025-12-05T08:58:23","guid":{"rendered":"https:\/\/www.blj.co.id\/?p=213053"},"modified":"2025-12-05T15:58:23","modified_gmt":"2025-12-05T08:58:23","slug":"setelah-membakar-usd-70-miliar-meta-mulai-meragukan-metaverse-apa-yang-sebenarnya-terjadi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/2025\/12\/05\/setelah-membakar-usd-70-miliar-meta-mulai-meragukan-metaverse-apa-yang-sebenarnya-terjadi\/","title":{"rendered":"Setelah Membakar USD 70 Miliar, Meta Mulai Meragukan Metaverse: Apa yang Sebenarnya Terjadi?"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">(Business Lounge Journal &#8211; News and Insight)<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"292\" data-end=\"715\">Di awal 2020\u20132022, Mark Zuckerberg bertaruh pada sebuah mimpi besar: metaverse \u2014 dunia virtual tempat orang bekerja, bermain, dan bersosialisasi tanpa batas ruang. Meta sampai mengganti nama perusahaan, mengubah narasi, dan menggelontorkan dana seakan-akan sedang membangun kota masa depan. Hasilnya? Sebuah \u201cghost town\u201d senilai USD 70 miliar, dengan pengguna yang minim dan biaya operasional yang terus menggunung.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"717\" data-end=\"1085\">Kini, diam-diam Meta mulai meredupkan lampu di sebagian wilayah metaverse. Bloomberg News melaporkan bahwa perusahaan mempertimbangkan memangkas belanja metaverse hingga 30% pada 2026, termasuk pemotongan pada Horizon Worlds, divisi Quest VR, dan unit Reality Labs yang selama ini menjadi penyedot dana terbesar. Bahkan PHK diperkirakan terjadi sedini Januari.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1087\" data-end=\"1243\">Investor?<br data-start=\"1096\" data-end=\"1099\" \/>Mereka menyambut kabar ini dengan gembira. Harga saham Meta naik sekitar 4%, seolah pasar akhirnya melihat Zuckerberg kembali menjejak bumi.<\/p>\n<h3 style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1250\" data-end=\"1333\">Tiga Tahun, USD 60+ Miliar Kerugian: Metaverse Tidak Berhasil Jadi Kenyataan<\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1334\" data-end=\"1504\">Reality Labs, divisi yang menaungi headset Quest, Horizon Worlds, dan Ray-Ban Meta glasses, telah membukukan kerugian operasional lebih dari USD 60 miliar sejak 2021:<\/p>\n<ul>\n<li data-start=\"1508\" data-end=\"1540\">2021: rugi USD 10,2 miliar<\/li>\n<li data-start=\"1543\" data-end=\"1575\">2022: rugi USD 13,7 miliar<\/li>\n<li data-start=\"1578\" data-end=\"1610\">2023: rugi USD 16,1 miliar<\/li>\n<li data-start=\"1613\" data-end=\"1645\">2024: rugi USD 17,7 miliar<\/li>\n<li data-start=\"1648\" data-end=\"1720\">Q terakhir: rugi USD 4,4 miliar dari pendapatan hanya USD 470 juta<\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1722\" data-end=\"1875\">Metaverse menelan uang.<br data-start=\"1745\" data-end=\"1748\" \/>Sementara itu, Facebook, Instagram, dan WhatsApp terus mencetak keuntungan melalui iklan \u2014 bisnis lama yang masih sangat sehat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1877\" data-end=\"2071\">Pada 2021, ketika Meta rebranding besar-besaran, narasi perusahaan jelas: metaverse adalah \u201cnorth star\u201d\u2014kompas masa depan. Tetapi kenyataan berkata lain. Sebagian besar pengguna tidak ingin:<\/p>\n<ul>\n<li data-start=\"2075\" data-end=\"2111\">bekerja sebagai avatar tanpa kaki,<\/li>\n<li data-start=\"2114\" data-end=\"2152\">rapat dalam ruang virtual \u201cuncanny\u201d,<\/li>\n<li data-start=\"2155\" data-end=\"2227\">atau tinggal lebih lama di headset VR yang berat dan kontennya terbatas.<\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2229\" data-end=\"2449\">Selain itu, industri teknologi tidak menciptakan kompetisi yang cukup untuk memvalidasi taruhan besar Meta. Hardware mahal, konten minim, dan kebutuhan perangkat yang mengganggu kenyamanan membuat adopsi berjalan lambat.<\/p>\n<h3 style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2456\" data-end=\"2520\">Meta Tidak Menyerah pada Hardware \u2014 Hanya Mengubah Cerita<\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2521\" data-end=\"2599\">Meskipun metaverse diperkecil, Meta tidak meninggalkan produk-produk fisiknya:<\/p>\n<ul>\n<li data-start=\"2603\" data-end=\"2640\">Headset Quest tetap diproduksi,<\/li>\n<li data-start=\"2643\" data-end=\"2689\">Horizon Worlds masih hidup (walau sepi),<\/li>\n<li data-start=\"2692\" data-end=\"2784\">Ray-Ban Meta glasses terus terjual \u2014 kini dipasarkan sebagai perangkat AI, bukan AR.<\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2786\" data-end=\"2989\">Meta bahkan merekrut Alan Dye, mantan desainer senior Apple, untuk memperkuat tim kreatif Reality Labs. Namun, semua ini tidak lagi dijual sebagai bagian dari \u201cMetaverse\u201d besar yang menyatukan segalanya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2991\" data-end=\"3063\">Narasi barunya lebih sederhana \u2014 dan jauh lebih cocok dengan pasar 2025:<\/p>\n<h3 style=\"text-align: justify;\" data-start=\"3065\" data-end=\"3086\">AI. AI. Dan AI.<\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"3088\" data-end=\"3219\">Zuckerberg kini mem-branding Meta sebagai perusahaan AI-first, dengan rencana belanja modal USD 70\u201372 miliar di 2025 untuk:<\/p>\n<ul>\n<li data-start=\"3223\" data-end=\"3237\">data center,<\/li>\n<li data-start=\"3240\" data-end=\"3254\">chip kustom,<\/li>\n<li data-start=\"3257\" data-end=\"3284\">dan keluarga model Llama.<\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"3286\" data-end=\"3411\">Meta bahkan mendirikan Superintelligence Lab dan menginvestasikan USD 14,3 miliar untuk mengambil 49% saham Scale AI.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"3413\" data-end=\"3435\">AI adalah bisnis yang:<\/p>\n<ul>\n<li data-start=\"3439\" data-end=\"3468\">punya mitra industri jelas,<\/li>\n<li data-start=\"3471\" data-end=\"3489\">punya pelanggan,<\/li>\n<li data-start=\"3492\" data-end=\"3534\">punya revenue model yang dapat dihitung,<\/li>\n<li data-start=\"3537\" data-end=\"3611\">dan tidak bergantung pada keinginan pengguna memakai headset 3 jam sehari.<\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"3613\" data-end=\"3652\">Tidak heran AI mengambil alih panggung.<\/p>\n<h3 style=\"text-align: justify;\" data-start=\"3659\" data-end=\"3726\">Metaverse Tidak Dibunuh AI \u2014 Ia Kalah Karena Dirinya Sendiri<\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"3728\" data-end=\"3806\">Pada akhirnya, metaverse bukan gagal karena AI muncul. Metaverse gagal karena:<\/p>\n<ul>\n<li data-start=\"3810\" data-end=\"3841\">per-unit economics-nya buruk,<\/li>\n<li data-start=\"3844\" data-end=\"3865\">perangkatnya berat,<\/li>\n<li data-start=\"3868\" data-end=\"3887\">kontennya kurang,<\/li>\n<li data-start=\"3890\" data-end=\"3931\">pengalaman pengguna tidak menyenangkan,<\/li>\n<li data-start=\"3934\" data-end=\"4011\">dan adopsinya terlalu dipaksa ke arah gaya hidup yang tidak dibutuhkan orang.<\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"4013\" data-end=\"4064\">AI hanya masuk ke ruangan rapat dengan cerita yang:<\/p>\n<ul>\n<li data-start=\"4068\" data-end=\"4086\">lebih sederhana,<\/li>\n<li data-start=\"4089\" data-end=\"4107\">lebih realistis,<\/li>\n<li data-start=\"4110\" data-end=\"4132\">lebih menguntungkan.<\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"4134\" data-end=\"4235\">Sementara industri lain menghindari istilah \u201cmetaverse\u201d dan mengganti dengan istilah yang lebih aman:<\/p>\n<ul>\n<li data-start=\"4239\" data-end=\"4269\">spatial computing (Apple),<\/li>\n<li data-start=\"4272\" data-end=\"4312\">digital twins (industri manufaktur),<\/li>\n<li data-start=\"4315\" data-end=\"4354\">3D collaboration (solusi enterprise).<\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"4356\" data-end=\"4574\">Beberapa teknologi dari era metaverse mungkin tetap bertahan\u2014misalnya mixed reality untuk industri atau kacamata pintar untuk penggunaan sehari-hari. Tapi ide besar \u201cdunia virtual baru\u201d kini hanya tinggal catatan kaki.<\/p>\n<h2 style=\"text-align: justify;\" data-start=\"4581\" data-end=\"4636\">Dari Mimpi Besar ke Pos Anggaran R&amp;D<\/h2>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"4638\" data-end=\"4892\">Metaverse kini berubah dari raison d\u2019\u00eatre menjadi sekadar proyek R&amp;D.<br data-start=\"4715\" data-end=\"4718\" \/>Dari bintang utara menjadi eksperimen mahal yang diperkecil skala. Infrastruktur AI \u2014 yang mendukung feed Facebook, sistem iklan, dan chatbot \u2014 kini mendapat semua prioritas.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"4894\" data-end=\"5049\">Metaverse masih ada di peta Meta.<br data-start=\"4927\" data-end=\"4930\" \/>Namun lampu kotanya meredup, digantikan gemerlap pusat data dan model AI yang menjadi tulang punggung pertumbuhan baru.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"5051\" data-end=\"5276\">Dan mungkin ini pelajaran berharga:<br data-start=\"5086\" data-end=\"5089\" \/>Teknologi tidak bisa memaksa manusia berubah hanya karena perusahaan ingin masa depan tertentu. Pada akhirnya, pengguna memilih kenyamanan \u2014 bukan visi futuristik yang tidak mereka minta.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(Business Lounge Journal &#8211; News and Insight) Di awal 2020\u20132022, Mark Zuckerberg bertaruh pada sebuah mimpi besar: metaverse \u2014 dunia virtual tempat orang bekerja, bermain, dan bersosialisasi tanpa batas ruang. Meta sampai mengganti nama perusahaan, mengubah narasi, dan menggelontorkan dana seakan-akan sedang membangun kota masa depan. Hasilnya? Sebuah \u201cghost town\u201d senilai USD 70 miliar, dengan pengguna yang minim dan biaya operasional yang terus menggunung. Kini, diam-diam Meta mulai meredupkan lampu di sebagian wilayah metaverse. Bloomberg News melaporkan bahwa perusahaan mempertimbangkan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":26,"featured_media":186403,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_editorskit_title_hidden":false,"_editorskit_reading_time":0,"_editorskit_typography_data":[],"_editorskit_blocks_typography":"","_editorskit_is_block_options_detached":false,"_editorskit_block_options_position":"{}","om_disable_all_campaigns":false,"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"_uf_show_specific_survey":0,"_uf_disable_surveys":false,"footnotes":""},"categories":[1050],"tags":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/213053"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/26"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=213053"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/213053\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":213057,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/213053\/revisions\/213057"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/186403"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=213053"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=213053"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=213053"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}