{"id":212991,"date":"2025-12-04T16:58:22","date_gmt":"2025-12-04T09:58:22","guid":{"rendered":"https:\/\/www.blj.co.id\/?p=212991"},"modified":"2025-12-04T16:58:43","modified_gmt":"2025-12-04T09:58:43","slug":"5-pekerjaan-yang-bikin-karyawan-betah-dan-3-yang-cepat-ditinggalkan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/2025\/12\/04\/5-pekerjaan-yang-bikin-karyawan-betah-dan-3-yang-cepat-ditinggalkan\/","title":{"rendered":"5 Pekerjaan yang Bikin Karyawan \u201cBetah\u201d \u2014 dan 3 yang Cepat Ditinggalkan"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">(Business Lounge Journal &#8211; Human Resources)<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Turn over<\/em> karyawan sebenarnya adalah sinyal penting. Mengapa seseorang dapat bertahan lama dan mengapa seseorang cepat <em>resign<\/em>, perusahaan bisa membaca apa yang benar-benar berguna \u2014 dan apa yang menjadi masalah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Memasuki tahun 2025, perusahaan terus memantau angka retensi. \u201cGreat Resignation\u201d memang mereda, tetapi tanda-tandanya masih terasa. Di beberapa sektor, pekerjaan tertentu ternyata sangat \u201clengket\u201d, sementara di sektor lain, pintu keluar seolah tak pernah berhenti berputar.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">World Economic Forum mencatat bahwa banyak pekerja kini akan menjalani <em>multiple careers<\/em>, bukan sekadar berganti pekerjaan. Perubahan teknologi yang cepat membuat keterampilan inti juga berubah drastis: sekitar 44% <em>skill<\/em> hari ini diprediksi tergeser dalam beberapa tahun ke depan. Kondisi ini mendorong pekerja untuk terus <em>reskilling<\/em> \u2014 dan sekaligus menyebabkan tingkat <em>turnover<\/em> semakin tinggi, terutama pada peran yang tidak memberi kesempatan membangun keterampilan mendalam atau nilai jangka panjang dalam perusahaan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Mengapa ini penting?<br \/>\nBagi perusahaan, <em>turnover<\/em> berarti biaya rekrutmen, pelatihan, hilangnya produktivitas, dan terganggunya kultur tim.<br \/>\nBagi pekerja, posisi yang membuat orang bertahan lama biasanya menawarkan stabilitas, pengetahuan institusional, dan jalur karier yang jelas. Sebaliknya, posisi dengan turnover tinggi bisa menjadi sinyal adanya budaya kerja yang buruk, kompensasi tidak memadai, atau peluang pertumbuhan yang minim.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Berikut adalah lima peran yang cenderung membuat karyawan bertahan lebih lama \u2014 dan tiga peran yang membuat pekerjaan paling cepat ditinggalkan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Mengapa ini penting?<br \/>\nBagi perusahaan, <em>turnover<\/em> berarti biaya rekrutmen, pelatihan, hilangnya produktivitas, dan terganggunya kultur tim.<br \/>\nBagi pekerja, posisi yang membuat orang bertahan lama biasanya menawarkan stabilitas, pengetahuan institusional, dan jalur karier yang jelas. Sebaliknya, posisi dengan turnover tinggi bisa menjadi sinyal adanya budaya kerja yang buruk, kompensasi tidak memadai, atau peluang pertumbuhan yang minim.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Berikut adalah lima peran yang cenderung membuat karyawan bertahan lebih lama \u2014 dan tiga peran yang membuat pekerjaan paling cepat ditinggalkan.<\/p>\n<h3 style=\"text-align: justify;\"><strong>Pekerjaan yang Bikin Karyawan \u201cBetah\u201d<\/strong><\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\">1. Media dan Komunikasi<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Menurut Indeed, pekerja di bidang media, komunikasi, dan seni termasuk yang paling jarang <em>resign<\/em> cepat. Industri kreatif dan industri dengan <em>skill<\/em> khusus cenderung memberi rasa memiliki dan ruang ekspresi, sehingga mendorong loyalitas lebih panjang. Banyak pekerja bertahan karena merasa pekerjaannya bermakna dan memberi ruang identitas profesional.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">2. Manufaktur<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Laporan Second Talent menunjukkan manufaktur memiliki tingkat turnover 18,9% \u2014 jauh lebih rendah dibanding sektor jasa. Banyak pekerjaan manufaktur bersifat teknis dan membutuhkan keterampilan fisik serta pengalaman yang tidak mudah digantikan. Akibatnya, pekerja cenderung bertahan lama setelah menguasai perannya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">3. Teknologi<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Data Mercer memperlihatkan turnover di sektor teknologi sekitar 8,2% di AS \u2014 masih relatif stabil dibanding banyak sektor layanan. Gaji kompetitif, opsi saham, dan peluang pertumbuhan karier menjadi faktor penahan yang kuat. Bagi banyak talent tech, perusahaan menawarkan jalur peningkatan skill yang berkelanjutan, sehingga mereka lebih memilih bertahan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">4. Kepala Sekolah<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Indeed melaporkan kepala sekolah memiliki median masa kerja hampir lima tahun \u2014 salah satu yang terpanjang. Tidak mengherankan, karena peran ini membutuhkan komitmen jangka panjang, hubungan mendalam dengan staf dan komunitas, serta pemahaman institusi yang kompleks.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">5. Dokter dan Ahli Bedah<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Profesional kesehatan dengan keahlian tinggi, seperti dokter dan ahli bedah, memiliki tingkat turnover yang rendah menurut data Indeed. Waktu pendidikan yang panjang, lisensi profesional, serta nilai strategis yang besar membuat mereka cenderung tetap bekerja dalam institusi yang sama.<\/p>\n<h3 style=\"text-align: justify;\"><strong>Pekerjaan yang Cepat Ditinggalkan<\/strong><\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\">1. Ritel<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Merujuk pada Mercer (dikutip NetSuite), industri ritel dan grosir memiliki turnover sukarela hingga 37%. Gaji rendah, jam kerja tidak menentu, dan minimnya jalur karier menjadikan sektor ini salah satu yang paling sering ditinggalkan pekerjanya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">2. Persiapan Makanan dan Layanan Makanan<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Second Talent melaporkan tingkat turnover di hospitality dan food service mencapai 75,2% \u2014 salah satu yang tertinggi. Stres kerja tinggi, sifat pekerjaan yang musiman, dan posisi entry-level membuat pekerja jarang bertahan lama.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">3. Hospitality dan Pariwisata<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Data Indeed menunjukkan lebih dari 25% pekerja di sektor hospitality dan pariwisata hanya bertahan dalam waktu singkat. Ketergantungan pada tenaga musiman dan tingginya tuntutan layanan membuat posisi ini rentan turnover.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dalam lanskap tenaga kerja 2025, retensi menjadi barometer kesehatan organisasi. Peran yang membuat pekerja \u201cbetah\u201d biasanya menawarkan kombinasi antara stabilitas, pengembangan skill, dan nilai institusional yang kuat. Sebaliknya, peran dengan turnover tinggi sering mengindikasikan tantangan struktural yang perlu dibenahi oleh perusahaan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Memahami pola retensi dan turnover bukan hanya penting bagi HR, tetapi juga bagi pekerja yang ingin membangun karier berkelanjutan di tengah perubahan skill dan teknologi yang begitu cepat.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(Business Lounge Journal &#8211; Human Resources) Turn over karyawan sebenarnya adalah sinyal penting. Mengapa seseorang dapat bertahan lama dan mengapa seseorang cepat resign, perusahaan bisa membaca apa yang benar-benar berguna \u2014 dan apa yang menjadi masalah. Memasuki tahun 2025, perusahaan terus memantau angka retensi. \u201cGreat Resignation\u201d memang mereda, tetapi tanda-tandanya masih terasa. Di beberapa sektor, pekerjaan tertentu ternyata sangat \u201clengket\u201d, sementara di sektor lain, pintu keluar seolah tak pernah berhenti berputar. World Economic Forum mencatat bahwa banyak pekerja kini akan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":26,"featured_media":198840,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_editorskit_title_hidden":false,"_editorskit_reading_time":0,"_editorskit_typography_data":[],"_editorskit_blocks_typography":"","_editorskit_is_block_options_detached":false,"_editorskit_block_options_position":"{}","om_disable_all_campaigns":false,"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"_uf_show_specific_survey":0,"_uf_disable_surveys":false,"footnotes":""},"categories":[2725,4],"tags":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/212991"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/26"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=212991"}],"version-history":[{"count":7,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/212991\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":213018,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/212991\/revisions\/213018"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/198840"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=212991"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=212991"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=212991"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}