{"id":212072,"date":"2025-11-03T11:59:08","date_gmt":"2025-11-03T04:59:08","guid":{"rendered":"https:\/\/www.blj.co.id\/?p=212072"},"modified":"2025-11-03T11:59:08","modified_gmt":"2025-11-03T04:59:08","slug":"apakah-learn-to-craft-adalah-learn-to-code-yang-baru","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/2025\/11\/03\/apakah-learn-to-craft-adalah-learn-to-code-yang-baru\/","title":{"rendered":"Apakah \u201cLearn to Craft\u201d adalah \u201cLearn to Code\u201d yang Baru?"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">(Business Lounge Journal &#8211; Entrepreneurship)<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Beberapa tahun lalu, kalimat <em>\u201clearn to code\u201d<\/em> menjadi <em>magic words<\/em> bagi mereka yang ingin mengamankan masa depan karier di dunia digital. Namun kini, di tengah kecemasan akibat disrupsi AI dan gelombang PHK korporasi, muncul tren baru yang menarik: <em>\u201clearn to craft\u201d<\/em> \u2014 belajar membuat sesuatu yang nyata dengan tangan sendiri.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Jonathan Sterling, 46 tahun, dulunya adalah eksekutif real estat yang mengelola 35 kantor Keller Williams dengan lebih dari 7.000 agen. Ia terbiasa duduk di ruang rapat, menyusun strategi web, dan mengawasi tim pemasaran digital. Namun kini, pagi-paginya dihabiskan bukan dengan laptop, melainkan dengan <em>blowtorch<\/em> dan pipa tembaga di sebuah laboratorium pelatihan HVAC di Florida.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cSaya belum pernah memegang alat las sebelumnya,\u201d ujarnya. \u201cSekarang saya merangkak di bawah kabel bertegangan tinggi setiap hari. Risiko di mana-mana. Tapi anehnya, saya justru merasa hidup.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Setelah terkena dampak PHK besar-besaran pada 2024, Sterling memutuskan berhenti mengejar posisi korporat baru. Alih-alih, ia mendaftar kursus delapan minggu untuk menjadi teknisi HVAC seharga USD 2.700. Ia berencana bekerja di lapangan agar \u201cdiakui secara profesional\u201d sebelum kelak naik ke posisi manajerial di perusahaan yang sedang berkembang. Di waktu luang, ia membangun Foxtown Education, platform informasi untuk para profesional paruh baya yang ingin beralih ke bidang teknis dan vokasional.<\/p>\n<h3 style=\"text-align: justify;\">Krisis Makna dan Keamanan di Dunia Kerah Putih<\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\">Fenomena ini mencerminkan kegelisahan baru di dunia kerja: <em>white-collar crisis of meaning<\/em>. Di berbagai platform seperti TikTok dan LinkedIn, banyak pekerja profesional mulai memimpikan kehidupan baru \u2014 meninggalkan meja kerja untuk menjadi tukang las, montir, atau teknisi.\u00a0Fenomena ini seakan menjadi cermin terbalik dari dekade 2010-an, ketika <em>learn to code<\/em> diyakini sebagai jalan menuju kestabilan dan status sosial. Kini, justru pekerjaan yang memerlukan <em>torque wrench<\/em> dan sarung tangan tahan api yang tampak lebih aman dari serbuan AI.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Data Google menunjukkan pencarian \u201ctrade school for adults\u201d meningkat dua kali lipat sejak 2023, dan beberapa program pelatihan teknis mencatat lonjakan pendaftar 10\u201330%.<\/p>\n<h3 style=\"text-align: justify;\">Ayunan Balik dari Dunia Digital ke Dunia Nyata<\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\">Lisa Countryman-Quiroz, CEO JVS Bay Area, menyebut fenomena ini sebagai \u201cayunan pendulum\u201d dari era <em>learn to code<\/em>. Dulu, pekerja mengejar fleksibilitas dan gaji tinggi di sektor teknologi. Kini, banyak yang mulai menghitung ulang nilai sebenarnya dari stabilitas.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dengan biaya kuliah empat tahun yang bisa mencapai USD 25.000 per tahun dan utang mahasiswa yang kembali menumpuk, banyak orang mulai berpikir praktis. \u201cAlih-alih menambah utang, pekerja di bidang teknis sering kali bisa langsung mendapat pekerjaan bergaji layak dengan peluang kenaikan karier yang jelas,\u201d kata Countryman-Quiroz.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Di JVS, lulusan program pelatihan keterampilan ganda penghasilannya dalam dua tahun \u2014 dari sekitar USD 31.000 menjadi lebih dari USD 63.000 per tahun. Permintaan terbesar datang dari sektor pemeliharaan sistem air yang kekurangan tenaga ahli secara nasional. \u201cIni pekerjaan dengan pengetahuan teknis tinggi dan tanggung jawab besar,\u201d ujarnya. \u201cSama kompleksnya dengan pekerjaan kantoran \u2014 hanya saja lebih nyata hasilnya.\u201d<\/p>\n<h3 style=\"text-align: justify;\">Kepuasan dari Sesuatu yang Dapat Diperbaiki<\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\">Bagi Sterling, daya tarik utama justru terletak pada kepuasan emosional. Setelah dua dekade menulis iklan Google dan mengelola tim jarak jauh, kini ia menikmati <em>feedback<\/em> instan dari hasil kerjanya sendiri. \u201cAda rasa puas yang berbeda saat kamu memperbaiki sesuatu yang benar-benar rusak,\u201d katanya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Meski begitu, ia tak men-romanticize dunia kerja teknis. Gaji awal teknisi HVAC sekitar USD 25 per jam \u2014 bukan jumlah besar, tetapi stabil dan dibutuhkan. \u201cDi Florida, orang lebih takut AC-nya rusak daripada ketemu buaya,\u201d ujarnya sambil tertawa.<\/p>\n<h3 style=\"text-align: justify;\">Apa yang Tidak Bisa Digantikan AI<\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\">Di tengah kemajuan otomatisasi, pekerjaan teknis tetap memiliki keunggulan: unsur manusia. \u201cKemampuan komunikasi, berpikir kreatif, kerja tim, dan pemecahan masalah tetap jadi kebutuhan utama,\u201d jelas Countryman-Quiroz. \u201cDan justru keterampilan lunak inilah yang membuat pekerjaan manual tidak mudah digantikan.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Namun, tren ini juga mengingatkan kita akan kesenjangan struktural. Amerika Serikat hanya mengalokasikan 0,1% dari PDB-nya untuk pengembangan tenaga kerja \u2014 jauh di bawah negara maju lain. Artinya, sebagian besar pekerja harus mencari dan membiayai pelatihan sendiri.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cKita butuh lebih banyak investasi dari sektor publik, swasta, dan filantropi,\u201d tegasnya. \u201cBukan hanya untuk pelatihan, tapi juga untuk mengatasi hambatan seperti biaya penitipan anak atau akses transportasi.\u201d<\/p>\n<h3 style=\"text-align: justify;\">Merajut Ulang Makna \u201cKeamanan Kerja\u201d<\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sterling tidak menunggu kebijakan berubah. Melalui Foxtown Education, ia membantu pekerja profesional menemukan sekolah kejuruan, kursus CDL, dan program pelatihan singkat yang menekankan <em>hands-on experience<\/em>. \u201cKalau kamu penasaran,\u201d katanya, \u201ccobalah satu kelas. Jangan menilai dari kacamata lama.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Apakah <em>learn to craft<\/em> akan benar-benar menggantikan <em>learn to code<\/em>, atau hanya menjadi pelarian sementara dari kecemasan era AI? Mungkin waktu yang akan menjawab. Namun satu hal pasti: di dunia kerja yang makin tak pasti, kemampuan untuk <em>membuat sesuatu yang nyata<\/em> kembali menjadi sumber rasa aman \u2014 dan mungkin juga, makna.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(Business Lounge Journal &#8211; Entrepreneurship) Beberapa tahun lalu, kalimat \u201clearn to code\u201d menjadi magic words bagi mereka yang ingin mengamankan masa depan karier di dunia digital. Namun kini, di tengah kecemasan akibat disrupsi AI dan gelombang PHK korporasi, muncul tren baru yang menarik: \u201clearn to craft\u201d \u2014 belajar membuat sesuatu yang nyata dengan tangan sendiri. Jonathan Sterling, 46 tahun, dulunya adalah eksekutif real estat yang mengelola 35 kantor Keller Williams dengan lebih dari 7.000 agen. Ia terbiasa duduk di ruang [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":26,"featured_media":212076,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_editorskit_title_hidden":false,"_editorskit_reading_time":0,"_editorskit_typography_data":[],"_editorskit_blocks_typography":"","_editorskit_is_block_options_detached":false,"_editorskit_block_options_position":"{}","om_disable_all_campaigns":false,"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"_uf_show_specific_survey":0,"_uf_disable_surveys":false,"footnotes":""},"categories":[8039,2725],"tags":[12485],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/212072"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/26"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=212072"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/212072\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":212077,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/212072\/revisions\/212077"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/212076"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=212072"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=212072"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=212072"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}