{"id":210384,"date":"2025-08-26T00:41:46","date_gmt":"2025-08-25T17:41:46","guid":{"rendered":"https:\/\/www.blj.co.id\/?p=210384"},"modified":"2025-08-26T08:17:01","modified_gmt":"2025-08-26T01:17:01","slug":"menyusuri-jejak-maestro-di-global-auction-2025","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/2025\/08\/26\/menyusuri-jejak-maestro-di-global-auction-2025\/","title":{"rendered":"Menyusuri Jejak Maestro di Global Auction 2025"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"273\" data-end=\"789\">(Business Lounge &#8211; Art) Saya masih mengingat jelas langkah pertama saya ketika memasuki ruangan pameran <strong data-start=\"472\" data-end=\"495\">Global Auction 2025<\/strong> di Jakarta. Udara terasa sejuk, cahaya lampu diarahkan dengan presisi, dan keheningan ruang pamer hanya sesekali terputus oleh bisikan para pengunjung yang saling bertukar kesan. Saat itu saya tahu, perjalanan hari ini tidak akan sekadar menjadi kunjungan biasa, melainkan sebuah pengalaman yang mempertemukan saya dengan wajah-wajah besar seni rupa Asia Tenggara dan Tiongkok modern.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"392\" data-end=\"884\">Salah satu hal yang langsung menarik perhatian saya adalah skala acaranya. Dari informasi yang saya dapatkan, pameran ini menghadirkan <strong data-start=\"926\" data-end=\"941\">110 seniman<\/strong> dengan total <strong data-start=\"955\" data-end=\"968\">185 karya<\/strong>. Jumlah yang tidak kecil, mengingat masing-masing karya memiliki cerita dan konteks tersendiri. Menyusuri satu per satu ruangan, saya seperti berpindah dari satu zaman ke zaman lain, dari satu pengalaman hidup seniman ke pengalaman berikutnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"886\" data-end=\"1459\">Sebelum mulai berkeliling, saya sempat berbincang singkat dengan <strong data-start=\"951\" data-end=\"976\">Kevin Oenardi Raharjo<\/strong>, President Director Global Auction. Dengan ramah ia menjelaskan bagaimana pameran ini menjadi salah satu momen penting, bukan hanya bagi pasar seni, tetapi juga bagi sejarah seni rupa Asia Tenggara yang semakin mendapat perhatian internasional. \u201cKita tidak hanya bicara soal harga,\u201d katanya dengan senyum hangat, \u201ctetapi soal warisan seni dan cara kita merawatnya.\u201d Ucapan itu langsung mengendap dalam benak saya dan menjadi lensa untuk melihat karya-karya yang akan saya temui.<\/p>\n<p data-start=\"886\" data-end=\"1459\"><img decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-210385 aligncenter\" src=\"https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2025\/08\/Two-women-Offering.webp\" alt=\"Two women Offering Hendra Gunawan\" width=\"1200\" height=\"1609\" srcset=\"https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2025\/08\/Two-women-Offering.webp 1200w, https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2025\/08\/Two-women-Offering-224x300.webp 224w, https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2025\/08\/Two-women-Offering-764x1024.webp 764w, https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2025\/08\/Two-women-Offering-768x1030.webp 768w, https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2025\/08\/Two-women-Offering-1146x1536.webp 1146w, https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2025\/08\/Two-women-Offering-750x1006.webp 750w\" sizes=\"(max-width: 1200px) 100vw, 1200px\" \/><\/p>\n<h3 style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1466\" data-end=\"1522\">Hendra Gunawan \u2013 <em data-start=\"1487\" data-end=\"1513\">Two Women With Offerings<\/em> (1975)<\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1524\" data-end=\"1880\">Langkah pertama membawa saya pada sebuah kanvas berukuran 100 x 70 cm karya <strong data-start=\"1600\" data-end=\"1618\">Hendra Gunawan<\/strong>: <em data-start=\"1620\" data-end=\"1646\">Two Women With Offerings<\/em>. Lukisan ini langsung memikat hati saya dengan warna-warna cerah yang khas Hendra. Dua perempuan Bali digambarkan sedang membawa piring berisi buah, tubuh mereka digambarkan lentur dengan proporsi memanjang yang menjadi ciri khas sang maestro.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1882\" data-end=\"2317\">Saya berdiri cukup lama di depan karya ini. Rasanya seperti mendengar suara gamelan, mencium aroma bunga, dan merasakan budaya yang kuat dari tradisi Bali. Hendra bukan hanya melukis perempuan, melainkan juga kehidupan yang mengalir dalam budaya sehari-hari. Ada rasa Nusantara di dalamnya, penuh dengan warna\u00a0 yang sarat makna.<\/p>\n<p data-start=\"1882\" data-end=\"2317\"><img decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-210387 aligncenter\" src=\"https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2025\/08\/Self-Potrait-Affandi.webp\" alt=\"Self Potrait Affandi\" width=\"1200\" height=\"1383\" srcset=\"https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2025\/08\/Self-Potrait-Affandi.webp 1200w, https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2025\/08\/Self-Potrait-Affandi-260x300.webp 260w, https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2025\/08\/Self-Potrait-Affandi-889x1024.webp 889w, https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2025\/08\/Self-Potrait-Affandi-768x885.webp 768w, https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2025\/08\/Self-Potrait-Affandi-750x864.webp 750w\" sizes=\"(max-width: 1200px) 100vw, 1200px\" \/><\/p>\n<h3 style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2324\" data-end=\"2371\">Affandi Kusuma \u2013 <em data-start=\"2345\" data-end=\"2362\">Self Portrait I<\/em> (1981)<\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2373\" data-end=\"2592\">Tak jauh dari situ, sebuah lukisan besar menarik perhatian saya. Sebuah potret diri <strong data-start=\"2457\" data-end=\"2475\">Affandi Kusuma<\/strong>, dilukis tahun 1981. Guratan-guratan ekspresif cat minyak itu seolah masih basah, penuh energi, penuh kegelisahan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2594\" data-end=\"2971\">Saya tertegun lama, seperti sedang berhadapan langsung dengan Affandi. Potret diri bagi seorang seniman selalu istimewa, ia bukan sekadar wajah, melainkan pengakuan, refleksi, dan sering kali perdebatan dengan dirinya sendiri. Dalam goresan kasar dan warna-warna berani, saya merasakan pergulatan batin seorang maestro yang tidak pernah berhenti bertanya tentang makna hidup.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2973\" data-end=\"3163\">Momen itu membuat saya sadar, berdiri di hadapan potret diri Affandi tidak jauh berbeda dengan bercermin. Yang terlihat bukan hanya wajah, tetapi juga jiwa yang bergolak, kuat, dan terus bergerak.<\/p>\n<p data-start=\"2973\" data-end=\"3163\"><img decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-210388 aligncenter\" src=\"https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2025\/08\/two-doves-Lee-Man-Fong.webp\" alt=\"two doves Lee Man Fong\" width=\"1200\" height=\"2383\" srcset=\"https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2025\/08\/two-doves-Lee-Man-Fong.webp 1200w, https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2025\/08\/two-doves-Lee-Man-Fong-151x300.webp 151w, https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2025\/08\/two-doves-Lee-Man-Fong-516x1024.webp 516w, https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2025\/08\/two-doves-Lee-Man-Fong-768x1525.webp 768w, https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2025\/08\/two-doves-Lee-Man-Fong-773x1536.webp 773w, https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2025\/08\/two-doves-Lee-Man-Fong-1031x2048.webp 1031w, https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2025\/08\/two-doves-Lee-Man-Fong-750x1489.webp 750w\" sizes=\"(max-width: 1200px) 100vw, 1200px\" \/><\/p>\n<h3 style=\"text-align: justify;\" data-start=\"3170\" data-end=\"3200\">Lee Man Fong \u2013 <em data-start=\"3189\" data-end=\"3198\">2 Doves<\/em><\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"3202\" data-end=\"3499\">Berikutnya saya menemui karya <strong data-start=\"3232\" data-end=\"3248\">Lee Man Fong<\/strong>, <em data-start=\"3250\" data-end=\"3259\">2 Doves<\/em>. Ukurannya lebih ramping, 103 x 50 cm, tetapi menghadirkan ketenangan yang luar biasa. Dua ekor merpati digambarkan dengan kehalusan detail yang hanya bisa lahir dari tangan seorang pelukis yang menguasai realisme sekaligus puitika Asia.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"3501\" data-end=\"3733\">Saya mendekat, memperhatikan setiap helai bulu yang digambarkan. Ada keanggunan yang tidak berlebihan, keindahan yang tidak memaksa. Burung merpati di sini bukan hanya binatang, melainkan simbol perdamaian, kesetiaan, dan harmoni.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"3735\" data-end=\"3901\">Saya teringat pada kalimat Kevin tadi\u2014bahwa seni adalah warisan. Dalam karya ini, warisan itu berupa pesan universal, bahwa keindahan selalu dekat dengan kedamaian.<\/p>\n<p data-start=\"3735\" data-end=\"3901\"><img decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-210390 aligncenter\" src=\"https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2025\/08\/Sindudarsono-Sudjojono-\u2013-Balinese-Hero.webp\" alt=\"Sindudarsono Sudjojono \u2013 Balinese Hero\" width=\"1200\" height=\"1833\" srcset=\"https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2025\/08\/Sindudarsono-Sudjojono-\u2013-Balinese-Hero.webp 1200w, https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2025\/08\/Sindudarsono-Sudjojono-\u2013-Balinese-Hero-196x300.webp 196w, https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2025\/08\/Sindudarsono-Sudjojono-\u2013-Balinese-Hero-670x1024.webp 670w, https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2025\/08\/Sindudarsono-Sudjojono-\u2013-Balinese-Hero-768x1173.webp 768w, https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2025\/08\/Sindudarsono-Sudjojono-\u2013-Balinese-Hero-1006x1536.webp 1006w, https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2025\/08\/Sindudarsono-Sudjojono-\u2013-Balinese-Hero-750x1146.webp 750w\" sizes=\"(max-width: 1200px) 100vw, 1200px\" \/><\/p>\n<h3 style=\"text-align: justify;\" data-start=\"3908\" data-end=\"3977\">Sindudarsono Sudjojono \u2013 <em data-start=\"3937\" data-end=\"3968\">Balinese Hero (Pahlawan Bali)<\/em> (1968)<\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"3979\" data-end=\"4178\">Bergerak ke sudut lain, saya menemukan karya <strong data-start=\"4024\" data-end=\"4050\">Sindudarsono Sudjojono<\/strong>. Judulnya <em data-start=\"4061\" data-end=\"4076\">Balinese Hero<\/em>, dilukis pada 1968. Meski tidak sebesar karya Affandi, lukisan ini memancarkan kekuatan luar biasa.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"4180\" data-end=\"4515\">Sudjojono dikenal sebagai \u201cBapak Seni Rupa Modern Indonesia\u201d, dan di sini saya benar-benar merasakan alasannya. Figur pahlawan Bali digambarkan bukan sebagai mitos yang jauh, melainkan manusia nyata yang berjuang dengan keberanian. Guratan-guratan kuasnya tegas, penuh narasi sosial, dan tidak berhenti hanya pada estetika permukaan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"4517\" data-end=\"4787\">Melihat karya ini, saya merasakan getaran sejarah. Tahun 1968 adalah masa penuh pergolakan, dan Sudjojono menyalurkan denyut zaman itu ke atas kanvas. Saya berdiri lama, membayangkan bagaimana lukisan ini lahir dari semangat sebuah bangsa yang terus mencari jati diri.<\/p>\n<p data-start=\"4517\" data-end=\"4787\"><img decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-210391 aligncenter\" src=\"https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2025\/08\/Affandi-Kusuma-\u2013-Oil-Palm-Plantation-1987.webp\" alt=\"Affandi Kusuma \u2013 Oil Palm Plantation (1987)\" width=\"1200\" height=\"952\" srcset=\"https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2025\/08\/Affandi-Kusuma-\u2013-Oil-Palm-Plantation-1987.webp 1200w, https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2025\/08\/Affandi-Kusuma-\u2013-Oil-Palm-Plantation-1987-300x238.webp 300w, https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2025\/08\/Affandi-Kusuma-\u2013-Oil-Palm-Plantation-1987-1024x812.webp 1024w, https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2025\/08\/Affandi-Kusuma-\u2013-Oil-Palm-Plantation-1987-768x609.webp 768w, https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2025\/08\/Affandi-Kusuma-\u2013-Oil-Palm-Plantation-1987-750x595.webp 750w\" sizes=\"(max-width: 1200px) 100vw, 1200px\" \/><\/p>\n<h3 style=\"text-align: justify;\" data-start=\"4794\" data-end=\"4845\">Affandi Kusuma \u2013 <em data-start=\"4815\" data-end=\"4836\">Oil Palm Plantation<\/em> (1987)<\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"4847\" data-end=\"5028\">Nama Affandi kembali hadir dalam katalog dengan tema yang tak biasa, <em data-start=\"4916\" data-end=\"4937\">Oil Palm Plantation<\/em>. Lukisan besar berukuran 150 x 185 cm ini menggambarkan lanskap perkebunan kelapa sawit.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"5030\" data-end=\"5295\">Sekilas, mungkin tema ini terasa sederhana. Namun ketika dilihat lebih dalam, goresan ekspresionis Affandi membuatnya penuh energi. Pohon-pohon sawit digambarkan dengan gerakan kuas yang liar, seolah ingin menunjukkan dinamika kehidupan di balik lanskap industri.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"5297\" data-end=\"5601\">Saya merenung cukup lama. Sawit sering kali menjadi isu kontroversial, tetapi di tangan Affandi, ia berubah menjadi lanskap estetis yang menggugah. Ada paradoks di sana: keindahan sekaligus problematika. Saya merasa inilah kekuatan seni, mampu menghadirkan diskusi bahkan dari hal-hal yang sehari-hari.<\/p>\n<p data-start=\"5297\" data-end=\"5601\"><img decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-210392 aligncenter\" src=\"https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2025\/08\/Gregorius-Sidharta-Soegijo-\u2013-The-Four-Companions-1998.webp\" alt=\"\" width=\"1200\" height=\"884\" srcset=\"https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2025\/08\/Gregorius-Sidharta-Soegijo-\u2013-The-Four-Companions-1998.webp 1200w, https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2025\/08\/Gregorius-Sidharta-Soegijo-\u2013-The-Four-Companions-1998-300x221.webp 300w, https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2025\/08\/Gregorius-Sidharta-Soegijo-\u2013-The-Four-Companions-1998-1024x754.webp 1024w, https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2025\/08\/Gregorius-Sidharta-Soegijo-\u2013-The-Four-Companions-1998-768x566.webp 768w, https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2025\/08\/Gregorius-Sidharta-Soegijo-\u2013-The-Four-Companions-1998-750x553.webp 750w\" sizes=\"(max-width: 1200px) 100vw, 1200px\" \/><\/p>\n<h3 style=\"text-align: justify;\" data-start=\"5608\" data-end=\"5671\">Gregorius Sidharta Soegijo \u2013 <em data-start=\"5641\" data-end=\"5662\">The Four Companions<\/em> (1998)<\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"5673\" data-end=\"5822\">Terakhir, saya menemukan karya <strong data-start=\"5704\" data-end=\"5734\">Gregorius Sidharta Soegijo<\/strong> berjudul <em data-start=\"5744\" data-end=\"5765\">The Four Companions<\/em>. Ukurannya 100 x 135 cm, medium minyak di atas kanvas.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"5824\" data-end=\"6165\">Saya cukup terkejut, karena selama ini Gregorius lebih dikenal sebagai pematung. Melihat lukisan karyanya membuka sisi lain dari sang seniman. Empat sosok yang digambarkan tampak sederhana, tetapi judulnya, <em data-start=\"6031\" data-end=\"6046\">Empat Sekawan<\/em>, memberi rasa hangat. Ada kebersamaan, persahabatan, dan rasa ringan yang jarang saya temui dalam karya-karya besar.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"6167\" data-end=\"6367\">Berdiri di depan lukisan ini, saya merasa tersenyum sendiri. Rasanya seperti diingatkan bahwa di balik semua hiruk pikuk dunia seni, persahabatan dan kebersamaan tetaplah harta yang paling berharga.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"6374\" data-end=\"6398\"><strong>Menutup Perjalanan<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"6400\" data-end=\"6783\">Setelah lama berkeliling, saya akhirnya duduk sejenak di pojok ruangan. Dari Hendra Gunawan dengan dunia penuh warna dan kehidupan Bali, Affandi dengan pergulatan batinnya, Lee Man Fong dengan merpati damai, Sudjojono dengan heroisme sosial, hingga Gregorius Sidharta dengan kesederhanaan persahabatan\u2014semua menghadirkan pengalaman yang berbeda, tetapi saling melengkapi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"6785\" data-end=\"7065\">Saya teringat kembali obrolan dengan Kevin Oenardi Raharjo di awal. Bahwa pameran ini bukan hanya tentang harga, melainkan tentang warisan. Dan saya menyadari, warisan itu bukan sekadar benda yang bisa dilelang atau dikoleksi, tetapi juga pengalaman batin yang kita bawa pulang.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"7067\" data-end=\"7354\">Ketika saya melangkah keluar dari ruang pameran, langit Jakarta sudah gelap. Namun hati saya penuh kekaguman, kekaguman yang lahir dari perjumpaan dengan para maestro seni rupa, kekaguman saya dalam melihat, memahami, dan merayakan seni.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(Business Lounge &#8211; Art) Saya masih mengingat jelas langkah pertama saya ketika memasuki ruangan pameran Global Auction 2025 di Jakarta. Udara terasa sejuk, cahaya lampu diarahkan dengan presisi, dan keheningan ruang pamer hanya sesekali terputus oleh bisikan para pengunjung yang saling bertukar kesan. Saat itu saya tahu, perjalanan hari ini tidak akan sekadar menjadi kunjungan biasa, melainkan sebuah pengalaman yang mempertemukan saya dengan wajah-wajah besar seni rupa Asia Tenggara dan Tiongkok modern. Salah satu hal yang langsung menarik perhatian saya [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":32,"featured_media":210370,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_editorskit_title_hidden":false,"_editorskit_reading_time":0,"_editorskit_typography_data":[],"_editorskit_blocks_typography":"","_editorskit_is_block_options_detached":false,"_editorskit_block_options_position":"{}","om_disable_all_campaigns":false,"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"_uf_show_specific_survey":0,"_uf_disable_surveys":false,"footnotes":""},"categories":[1256,1044,2725],"tags":[12213],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/210384"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/32"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=210384"}],"version-history":[{"count":6,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/210384\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":210397,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/210384\/revisions\/210397"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/210370"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=210384"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=210384"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=210384"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}