{"id":209556,"date":"2025-07-22T09:03:38","date_gmt":"2025-07-22T02:03:38","guid":{"rendered":"https:\/\/www.blj.co.id\/?p=209556"},"modified":"2025-07-22T09:03:38","modified_gmt":"2025-07-22T02:03:38","slug":"menikmati-pekerjaan-tanpa-menjadi-workaholic","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/2025\/07\/22\/menikmati-pekerjaan-tanpa-menjadi-workaholic\/","title":{"rendered":"Menikmati Pekerjaan Tanpa Menjadi Workaholic"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">(Business Lounge Journal &#8211; General Management)<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Di era modern ini, istilah\u00a0<em>workaholic<\/em>\u00a0semakin umum terdengar. Banyak orang menganggap kerja keras adalah bagian dari kesuksesan, namun ada pula yang merasa bahwa menjadi workaholic bisa berdampak buruk pada kesehatan fisik dan mental. Lalu, benarkah workaholic merupakan sebuah penyakit? Jika iya, penyakit apa yang sebenarnya? Dan apa yang menyebabkan seseorang menjadi workaholic serta bagaimana cara menikmati pekerjaan tanpa harus terjebak dalam pola kerja berlebihan ini?<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Apakah Workaholic Adalah Sebuah Penyakit?<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Secara medis,\u00a0<em>workaholism<\/em>\u00a0belum diakui sebagai penyakit resmi dalam klasifikasi DSM (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders). Namun, banyak ahli menyatakan bahwa workaholic merupakan sebuah kondisi yang dapat berdampak buruk pada kesehatan fisik dan mental, termasuk stres kronis, kelelahan, depresi, dan gangguan tidur. Dalam konteks ini, workaholic bisa dianggap sebagai bentuk kecanduan terhadap pekerjaan yang bisa menyebabkan gangguan kesehatan jika tidak dikelola dengan baik.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Penyakit Apa yang Dapat Terkait dengan Workaholic?<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Meski belum diklasifikasikan sebagai penyakit resmi, workaholic sering terkait dengan fenomena\u00a0<em>burnout<\/em>\u00a0(kelelahan emosional dan fisik akibat tekanan kerja berlebihan), serta masalah kesehatan mental seperti kecemasan dan depresi. Dalam jangka panjang, pekerjaan berlebihan tanpa batas dapat memperburuk kesehatan jantung, sistem kekebalan tubuh, dan menyebabkan gangguan tidur. Bahkan, risiko kecelakaan akibat kelelahan juga meningkat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Mengapa Orang Bisa Jadi Workaholic <\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Orang bisa menjadi workaholic karena berbagai alasan, mulai dari tekanan untuk mencapai target, keinginan mendapatkan pengakuan, rasa takut gagal, sampai ketakutan kehilangan pekerjaan. Ada juga yang menganggap bahwa kerja keras adalah simbol keberhasilan dan harga diri. Pada beberapa orang, bekerja terlalu keras juga bisa menjadi pelarian dari masalah pribadi atau ketidakpuasan hidup.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Tujuan utama mereka adalah mendapatkan pengakuan, mencapai kesuksesan, atau sekadar membuktikan diri. Namun, sering kali tanpa disadari, mereka mengorbankan aspek lain dari hidup, seperti keluarga, kesehatan, dan kebahagiaan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Bisakah Menikmati Pekerjaan tapi tidak \u00a0Workaholic?<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Agar bisa menikmati pekerjaan tanpa harus terjebak dalam pola workaholic, memang sangat diperlukan keseimbangan hidup dan pola pikir yang sehat. Berikut ini ada lima tips agar tidak workaholic.<\/p>\n<ul style=\"text-align: justify;\">\n<li>Tetapkan batas waktu kerja:\u00a0Jangan membawa pekerjaan ke rumah dan atur waktu istirahat yang cukup.<\/li>\n<li>Prioritaskan pekerjaan:\u00a0Fokus pada tugas penting dan belajar mengatakan tidak saat beban terlalu berat.<\/li>\n<li>Jaga kesehatan fisik dan mental:\u00a0Sempatkan berolahraga, beristirahat yang cukup, dan lakukan kegiatan yang menyenangkan di luar pekerjaan.<\/li>\n<li>Gunakan waktu luang untuk keluarga dan hobi:\u00a0Menyisihkan waktu untuk orang tercinta dan kegiatan favorit membantu mengurangi stres dan meningkatkan kepuasan hidup.<\/li>\n<li>Refleksi diri:\u00a0Kenali alasan di balik keinginan bekerja berlebihan dan evaluasi apakah itu benar-benar membuat bahagia atau justru merugikan.<\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"text-align: justify;\">Workaholic memang bisa memicu berbagai masalah kesehatan dan mental, bahkan bisa dikatakan sebagai bentuk kecanduan yang harus diwaspadai. Meskipun berusaha keras adalah hal yang positif, menjaga keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi jauh lebih penting untuk meningkatkan kualitas hidup dan kebahagiaan. Berusahalah menikmati pekerjaan dengan cara yang sehat dan menyenangkan, agar pekerjaan menjadi bagian dari hidup yang memotivasi, bukan sumber stres dan penderitaan.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(Business Lounge Journal &#8211; General Management) Di era modern ini, istilah\u00a0workaholic\u00a0semakin umum terdengar. Banyak orang menganggap kerja keras adalah bagian dari kesuksesan, namun ada pula yang merasa bahwa menjadi workaholic bisa berdampak buruk pada kesehatan fisik dan mental. Lalu, benarkah workaholic merupakan sebuah penyakit? Jika iya, penyakit apa yang sebenarnya? Dan apa yang menyebabkan seseorang menjadi workaholic serta bagaimana cara menikmati pekerjaan tanpa harus terjebak dalam pola kerja berlebihan ini? Apakah Workaholic Adalah Sebuah Penyakit? Secara medis,\u00a0workaholism\u00a0belum diakui sebagai penyakit [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":48,"featured_media":207033,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_editorskit_title_hidden":false,"_editorskit_reading_time":0,"_editorskit_typography_data":[],"_editorskit_blocks_typography":"","_editorskit_is_block_options_detached":false,"_editorskit_block_options_position":"{}","om_disable_all_campaigns":false,"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"_uf_show_specific_survey":0,"_uf_disable_surveys":false,"footnotes":""},"categories":[17,2725],"tags":[12052],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/209556"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/48"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=209556"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/209556\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":209558,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/209556\/revisions\/209558"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/207033"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=209556"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=209556"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=209556"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}