{"id":205117,"date":"2025-03-03T10:43:02","date_gmt":"2025-03-03T03:43:02","guid":{"rendered":"https:\/\/www.blj.co.id\/?p=205117"},"modified":"2025-03-03T10:43:02","modified_gmt":"2025-03-03T03:43:02","slug":"shell-pertimbangkan-penjualan-aset-kimia-di-eropa-dan-amerika-serikat","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/2025\/03\/03\/shell-pertimbangkan-penjualan-aset-kimia-di-eropa-dan-amerika-serikat\/","title":{"rendered":"Shell Pertimbangkan Penjualan Aset Kimia di Eropa dan Amerika Serikat"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">(Business Lounge Journal &#8211; Global News)<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Shell, salah satu perusahaan energi terbesar di dunia, tengah mempertimbangkan untuk menjual aset kimianya di Eropa dan Amerika Serikat. Langkah ini merupakan bagian dari strategi perusahaan untuk memfokuskan bisnisnya pada operasi yang paling menguntungkan. Menurut sumber yang akrab dengan masalah ini, Shell bekerja sama dengan bankir di Morgan Stanley untuk melakukan tinjauan strategis terhadap operasi kimianya. Meski proses ini masih dalam tahap awal, belum ada keputusan final yang diambil. Jika langkah ini terealisasi, penjualan aset kimia ini bisa menjadi bagian dari upaya Shell untuk merampingkan operasionalnya sekaligus meningkatkan efisiensi dan profitabilitas dalam jangka panjang.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Beberapa aset yang termasuk dalam tinjauan ini adalah fasilitas Deer Park di Texas, yang memproduksi berbagai bahan kimia seperti olefin ringan dan berat yang digunakan dalam pembuatan farmasi, deterjen, perekat, dan pelapis kawat. Fasilitas ini terletak berdekatan dengan kilang yang sebelumnya telah dijual Shell. Selain itu, Shell juga memiliki fasilitas kimia di Pennsylvania dan Louisiana di AS, serta pabrik di Inggris, Jerman, dan Belanda yang termasuk dalam tinjauan ini. Keberadaan aset-aset ini sangat strategis bagi industri kimia global, sehingga keputusan penjualan bisa berdampak luas pada rantai pasokan bahan kimia dan bisnis terkait di berbagai negara.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Calon pembeli potensial untuk aset-aset ini bisa berasal dari perusahaan ekuitas swasta hingga entitas Timur Tengah yang ingin memperluas kehadirannya di Barat. Sejak Wael Sawan menjabat sebagai CEO pada awal 2023, Shell telah berupaya untuk lebih fokus pada operasi yang paling menguntungkan, termasuk mengurangi beberapa target energi hijau dan berjanji untuk memompa lebih banyak minyak dan gas. Bisnis kimia Shell telah lama dianggap tertinggal, karena memerlukan modal besar dan rentan terhadap fluktuasi siklus pasar, yang mengakibatkan kerugian dalam beberapa tahun terakhir dan membebani kinerja keseluruhan perusahaan. Dengan kondisi pasar yang terus berubah, Shell perlu memastikan bahwa langkah ini benar-benar sejalan dengan tujuan jangka panjang perusahaan untuk meningkatkan nilai pemegang saham dan mempertahankan daya saingnya di industri energi global.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Shell sebelumnya telah menunjukkan kesediaannya untuk melepaskan operasi kimia dengan margin lebih rendah. Tahun lalu, Shell mencapai kesepakatan untuk menjual taman kimianya di Singapura kepada usaha patungan yang mencakup perusahaan pertambangan Glencore dan produsen bahan kimia Indonesia Chandra Asri, setelah melakukan tinjauan strategis terhadap bisnis tersebut. Kesepakatan ini mencerminkan pendekatan Shell dalam menilai aset mana yang masih relevan dalam strategi bisnisnya. Para investor mengharapkan rincian lebih lanjut tentang langkah selanjutnya dari Shell pada hari investor yang dijadwalkan akhir bulan ini. Mereka ingin mengetahui apakah perusahaan akan mempercepat penjualan aset atau mencari opsi lain untuk meningkatkan profitabilitasnya. Jika Shell benar-benar memutuskan untuk melepaskan aset-aset ini, maka kemungkinan besar akan ada dampak pada industri petrokimia global, terutama bagi pelanggan dan mitra bisnis yang bergantung pada pasokan dari fasilitas Shell.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Langkah ini sejalan dengan strategi Shell untuk memfokuskan kembali bisnisnya pada sektor yang paling menguntungkan, seperti minyak, gas, dan biofuel, sambil menjauh dari energi terbarukan. Pada Desember lalu, Shell mundur dari investasi angin lepas pantai baru dan membagi divisi listriknya setelah melakukan tinjauan bisnis yang sebelumnya dianggap sebagai pendorong utama strategi transisi energi perusahaan. Keputusan ini menunjukkan bahwa Shell lebih memilih untuk berinvestasi dalam bisnis yang lebih menjanjikan dalam jangka pendek, ketimbang bertaruh pada teknologi energi bersih yang masih dalam tahap pengembangan dan memiliki ketidakpastian ekonomi yang lebih besar.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Shell memiliki sejarah panjang di Indonesia, dimulai sejak 1884 ketika Aeilko Jans Zijlker menemukan jejak minyak di Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Pada tahun 1890, Royal Dutch Shell plc didirikan di Den Haag, Belanda. Sejarah Shell di Indonesia mencakup eksplorasi dan produksi minyak di berbagai wilayah, termasuk Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Jawa, dan Kalimantan Timur. Ekspansi Shell ke Indonesia tidak hanya sebatas eksplorasi minyak, tetapi juga mencakup bisnis hilir seperti distribusi bahan bakar dan pelumas. Keberadaan Shell di Indonesia juga melibatkan kerja sama dengan berbagai pihak, termasuk pemerintah dan sektor swasta, untuk mendukung pertumbuhan industri energi di negara ini. Langkah strategis Shell dalam beberapa dekade terakhir mencerminkan dinamika industri energi yang terus berkembang dan semakin menantang.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pada tahun 2010, Shell dan Cosan membentuk usaha patungan bernama Ra\u00edzen, yang memegang seluruh aset produksi etanol, gula, pembangkitan listrik, dan distribusi bahan bakar di Brasil. Langkah ini merupakan bagian dari strategi diversifikasi Shell untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil dan berinvestasi dalam energi alternatif. Pada tahun 2015, Shell setuju untuk membeli BG Group, produsen utama gas alam cair (LNG), untuk memperkuat posisinya sebagai pemimpin dalam industri LNG yang berkembang. Akuisisi ini selesai pada Februari 2016, memperluas portofolio minyak dan gas perusahaan. Dengan berkembangnya pasar LNG, Shell telah memanfaatkan keahliannya untuk memperkuat posisinya sebagai salah satu pemimpin dalam industri ini. Namun, dengan perubahan fokus terbaru Shell, ada pertanyaan apakah strategi diversifikasi ini masih menjadi prioritas utama perusahaan atau apakah Shell lebih cenderung kembali ke inti bisnis minyak dan gas tradisional.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pada tahun 2023, Shell mengumumkan rencana penutupan 1.000 SPBU di berbagai negara hingga 2025 sebagai bagian dari strategi untuk mendivestasi aset berbasis minyak bumi dan beralih ke investasi dalam energi terbarukan serta stasiun pengisian kendaraan listrik. Langkah ini sejalan dengan pergeseran global menuju energi yang lebih bersih, meskipun Shell juga tetap mempertahankan bisnis minyak dan gasnya sebagai pilar utama keuntungan perusahaan. Meskipun demikian, saham Shell tetap naik dan menunjukkan performa yang solid di pasar, yang mencerminkan kepercayaan investor terhadap strategi yang diambil perusahaan. Jika Shell berhasil mengeksekusi rencana transformasi ini dengan baik, maka perusahaan bisa tetap kompetitif dalam menghadapi perubahan lanskap energi global yang semakin dinamis.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dengan mempertimbangkan penjualan aset kimia di Eropa dan AS, Shell menunjukkan komitmennya untuk memfokuskan bisnis pada sektor yang paling menguntungkan dan berkelanjutan. Langkah ini mencerminkan adaptasi perusahaan terhadap dinamika pasar energi global dan upaya untuk tetap kompetitif di industri yang terus berkembang. Keputusan ini juga menjadi sinyal bagi industri energi bahwa Shell tidak akan ragu untuk mengambil langkah-langkah besar demi mempertahankan pertumbuhan dan meningkatkan profitabilitasnya. Di tengah persaingan yang semakin ketat, fleksibilitas dan kemampuan Shell untuk beradaptasi dengan perubahan pasar akan menjadi faktor kunci dalam menentukan masa depan perusahaan.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(Business Lounge Journal &#8211; Global News) Shell, salah satu perusahaan energi terbesar di dunia, tengah mempertimbangkan untuk menjual aset kimianya di Eropa dan Amerika Serikat. Langkah ini merupakan bagian dari strategi perusahaan untuk memfokuskan bisnisnya pada operasi yang paling menguntungkan. Menurut sumber yang akrab dengan masalah ini, Shell bekerja sama dengan bankir di Morgan Stanley untuk melakukan tinjauan strategis terhadap operasi kimianya. Meski proses ini masih dalam tahap awal, belum ada keputusan final yang diambil. Jika langkah ini terealisasi, penjualan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":32,"featured_media":205118,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_editorskit_title_hidden":false,"_editorskit_reading_time":0,"_editorskit_typography_data":[],"_editorskit_blocks_typography":"","_editorskit_is_block_options_detached":false,"_editorskit_block_options_position":"{}","om_disable_all_campaigns":false,"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"_uf_show_specific_survey":0,"_uf_disable_surveys":false,"footnotes":""},"categories":[120,2725],"tags":[647],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/205117"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/32"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=205117"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/205117\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":205119,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/205117\/revisions\/205119"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/205118"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=205117"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=205117"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=205117"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}