{"id":203753,"date":"2025-01-20T11:40:12","date_gmt":"2025-01-20T04:40:12","guid":{"rendered":"https:\/\/www.blj.co.id\/?p=203753"},"modified":"2025-01-23T13:03:21","modified_gmt":"2025-01-23T06:03:21","slug":"olena-laremenko-liu-menyatukan-jiwa-ukraina-dan-indonesia-melalui-seni","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/2025\/01\/20\/olena-laremenko-liu-menyatukan-jiwa-ukraina-dan-indonesia-melalui-seni\/","title":{"rendered":"Olena Laremenko-liu: Menyatukan Jiwa Ukraina dan Indonesia Melalui Seni"},"content":{"rendered":"<p>(Business Lounge Journal &#8211; Art)<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Olena Laremenko-Liu, adalah seorang pelukis berdarah Ukraina yang baru saja bergabung dalam sebuah pameran dan lelang lukisan yang bertajuk &#8220;HOPE: ART CHARITY AUCTION&#8221;. Kepada Business Lounge Journal, ia mengisahkan mengenai perjalanan singkat yang membuat ia tiba dan menetap di Bali saat ini. Selain itu ia pun menceritakan bagaimana perkembangan seni rupa di Ukraina.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Perjalanan ke Bali<\/strong><br \/>\nOlena telah menemukan rumah keduanya di Bali setelah bertahun-tahun mengunjungi Indonesia sebagai turis. \u201cKami sering datang ke sini, mungkin sudah 10 tahun,\u201d ungkapnya. Baginya, Indonesia adalah negara yang istimewa, dengan keindahan alam, keramahan penduduk, dan budaya yang memikat. Bersama suaminya, Olena memutuskan untuk menetap di Bali selama setahun terakhir.\u00a0Selain Bali, Olena juga menyebutkan kecintaannya pada Jakarta. \u201cBali dan Jakarta sangat berbeda, tapi bagi saya, ini adalah lembaran baru dalam hidup,\u201d katanya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Perjalanan Karier sebagai Seniman<\/strong><br \/>\nOlena adalah lulusan akademi sinema di Ukraina dengan spesialisasi seni film. Ia mengaku bahwa latar belakangnya di dunia sinematografi memengaruhi karya-karyanya secara signifikan. \u201cSaya suka tema gerakan dan momen berhenti. Lukisan adalah tentang menangkap waktu yang diam, seperti seseorang menekan tombol \u2018pause,\u2019\u201d jelasnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Menurutnya, di era yang serba cepat, seni lukis memiliki peran penting sebagai bentuk refleksi yang menenangkan. \u201cSekarang zamannya robot dan kecepatan. Tetapi manusia membutuhkan waktu untuk merasakan. Karena itu, seni lukis tidak akan kehilangan relevansinya,\u201d tambahnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Inspirasi dari Ukraina dan Indonesia<\/strong><br \/>\nSebagai seniman Ukraina, Olena merasa penting untuk menggambarkan identitas negaranya melalui karya seni. Ia terinspirasi oleh pemandangan alam Ukraina dan membawa sentuhan serupa dalam lukisannya di Indonesia. Salah satu karya terbarunya terinspirasi oleh gunung Merbabu di Indonesia, meskipun ia belum pernah mendaki gunung tersebut. \u201cSaya melihat foto Merbabu dari seorang blogger di YouTube dan sangat terinspirasi hingga membuat lukisan ini,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Olena juga menyinggung akar seni Ukraina yang berakar pada tradisi Eropa. Ia menjelaskan bahwa seniman-seniman Ukraina, seperti Oleksii Murashko, membawa pengaruh impresionisme dari Paris lebih dari 100 tahun lalu. Seni impresionisme Ukraina dikenal karena cinta akan kehidupan dan penggunaan warna-warna cerah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Seni dalam Masa Perang<\/strong><br \/>\nKetika ditanya tentang situasi seniman Ukraina selama perang, Olena menggambarkan tantangan besar yang dihadapi. Banyak karya seni Ukraina kini dipindahkan ke Eropa untuk diselamatkan, dan sebagian seniman juga harus mengungsi ke luar negeri. \u201cDi tengah perang, seni adalah bagian yang paling rentan. Namun, seni juga memberikan kekuatan dan inspirasi bagi masyarakat,\u201d jelasnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Meskipun begitu, Olena optimis melihat kebangkitan seni di Ukraina. \u201cSekarang ada lebih banyak pameran seni di Kyiv dibandingkan sebelum perang. Itu menunjukkan bahwa inspirasi dan kebutuhan akan seni tetap kuat, bahkan dalam masa sulit,\u201d katanya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Melalui karyanya, Olena berharap dapat menciptakan koneksi antara Ukraina dan Indonesia. \u201cSaya ingin energi karya ini membawa pertukaran yang seimbang. Meskipun Ukraina sedang berjuang, semangat perjuangan kami bisa menjadi inspirasi bagi siapa saja,\u201d tutupnya.<\/p>\n<p><iframe title=\"Art of Ukraine: A Bridge of Hope - A Conversation with Olena Laremenko - Liu\" width=\"750\" height=\"422\" src=\"https:\/\/www.youtube.com\/embed\/oCeS3icI0yc?feature=oembed\" frameborder=\"0\" allow=\"accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share\" referrerpolicy=\"strict-origin-when-cross-origin\" allowfullscreen><\/iframe><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(Business Lounge Journal &#8211; Art) Olena Laremenko-Liu, adalah seorang pelukis berdarah Ukraina yang baru saja bergabung dalam sebuah pameran dan lelang lukisan yang bertajuk &#8220;HOPE: ART CHARITY AUCTION&#8221;. Kepada Business Lounge Journal, ia mengisahkan mengenai perjalanan singkat yang membuat ia tiba dan menetap di Bali saat ini. Selain itu ia pun menceritakan bagaimana perkembangan seni rupa di Ukraina. Perjalanan ke Bali Olena telah menemukan rumah keduanya di Bali setelah bertahun-tahun mengunjungi Indonesia sebagai turis. \u201cKami sering datang ke sini, mungkin [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":26,"featured_media":203761,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_editorskit_title_hidden":false,"_editorskit_reading_time":0,"_editorskit_typography_data":[],"_editorskit_blocks_typography":"","_editorskit_is_block_options_detached":false,"_editorskit_block_options_position":"{}","om_disable_all_campaigns":false,"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"_uf_show_specific_survey":0,"_uf_disable_surveys":false,"footnotes":""},"categories":[1256,1052,2725],"tags":[10039,10423,10422,10421],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/203753"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/26"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=203753"}],"version-history":[{"count":5,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/203753\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":203852,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/203753\/revisions\/203852"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/203761"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=203753"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=203753"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=203753"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}