{"id":202030,"date":"2024-10-17T10:19:30","date_gmt":"2024-10-17T03:19:30","guid":{"rendered":"https:\/\/www.blj.co.id\/?p=202030"},"modified":"2024-10-17T15:08:10","modified_gmt":"2024-10-17T08:08:10","slug":"bank-indonesia-mempertahankan-bi-rate-tetap-600-bi-rate-masih-berpeluang-turun","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/2024\/10\/17\/bank-indonesia-mempertahankan-bi-rate-tetap-600-bi-rate-masih-berpeluang-turun\/","title":{"rendered":"Bank Indonesia Mempertahankan BI- Rate Tetap 6,00%, BI-Rate Masih Berpeluang Turun"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">(Business Lounge Journal \u2013 Economy &amp; Business) \u2013 Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 15-16 Oktober 2024\u00a0memutuskan untuk mempertahankan BI-Rate sebesar 6,00%. Mempertahankan suku bunga\u00a0Deposit Facility\u00a0sebesar 5,25%, dan suku bunga\u00a0Lending Facility\u00a0sebesar 6,75%.<br \/>\nKeputusan ini konsisten dengan arah kebijakan moneter untuk memastikan tetap terkendalinya inflasi dalam sasaran 2,5\u00b11% pada 2024 dan 2025. Serta mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.<br \/>\nFokus kebijakan moneter jangka pendek pada stabilitas nilai tukar Rupiah karena meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan global. Ke depan, Bank Indonesia terus mencermati ruang penurunan suku bunga kebijakan dengan tetap memperhatikan prospek inflasi, nilai tukar Rupiah, dan pertumbuhan ekonomi. xs<br \/>\nKebijakan makroprudensial dan sistem pembayaran juga terus diarahkan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Kebijakan makroprudensial longgar terus ditempuh untuk mendorong kredit\/pembiayaan perbankan kepada sektor-sektor prioritas pertumbuhan dan penciptaan lapangan kerja. Termasuk UMKM dan ekonomi hijau, dengan tetap memperhatikan prinsip kehati-hatian.<br \/>\nKebijakan sistem pembayaran juga diarahkan untuk turut mendorong pertumbuhan, khususnya sektor perdagangan dan UMKM. Memperkuat keandalan infrastruktur dan struktur industri sistem pembayaran, serta memperluas akseptasi digitalisasi sistem pembayaran.<br \/>\nBank Indonesia terus memperkuat bauran kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran untuk menjaga stabilitas dan mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.<br \/>\nGubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo memastikan ruang penurunan suku bunga acuan BI Rate masih terbuka ke depan.<br \/>\nKepastian ini ia tegaskan meskipun keputusan hasil rapat dewan gubernur BI pada Oktober 2024 tetap dipertahankan di level 6%. Setelah pada bulan lalu diputuskan untuk turun 25 basis points (bps).<br \/>\nPerry menjelaskan, kepastian penurunan ruang suku bunga acuan BI ini akan mempertimbangkan data inflasi, pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, dan pertumbuhan ekonomi RI.<br \/>\n&#8220;Ke depan, Bank Indonesia terus mencermati ruang penurunan suku bunga kebijakan dengan tetap memperhatikan prospek inflasi, nilai tukar Rupiah. Dan pertumbuhan ekonomi,&#8221; tegas Perry saat mengumumkan hasil RDG BI di kantornya, Jakarta, Rabu (16\/10\/2024).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Belinda Kosasih\/ Partner of Banking Business Services\/Vibiz Consulting<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(Business Lounge Journal \u2013 Economy &amp; Business) \u2013 Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 15-16 Oktober 2024\u00a0memutuskan untuk mempertahankan BI-Rate sebesar 6,00%. Mempertahankan suku bunga\u00a0Deposit Facility\u00a0sebesar 5,25%, dan suku bunga\u00a0Lending Facility\u00a0sebesar 6,75%. Keputusan ini konsisten dengan arah kebijakan moneter untuk memastikan tetap terkendalinya inflasi dalam sasaran 2,5\u00b11% pada 2024 dan 2025. Serta mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Fokus kebijakan moneter jangka pendek pada stabilitas nilai tukar Rupiah karena meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan global. Ke depan, Bank Indonesia terus mencermati [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":101056,"featured_media":201189,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_editorskit_title_hidden":false,"_editorskit_reading_time":0,"_editorskit_typography_data":[],"_editorskit_blocks_typography":"","_editorskit_is_block_options_detached":false,"_editorskit_block_options_position":"{}","om_disable_all_campaigns":false,"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"_uf_show_specific_survey":0,"_uf_disable_surveys":false,"footnotes":""},"categories":[2512,2725],"tags":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/202030"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/101056"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=202030"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/202030\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":202031,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/202030\/revisions\/202031"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/201189"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=202030"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=202030"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=202030"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}