{"id":2017,"date":"2013-02-26T09:04:22","date_gmt":"2013-02-26T02:04:22","guid":{"rendered":"http:\/\/wp.vibiznews.com\/?p=2017"},"modified":"2020-03-04T10:17:15","modified_gmt":"2020-03-04T03:17:15","slug":"frontier-karakter-unik-konsumen-indonesia-3-suka-berkumpul","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/2013\/02\/26\/frontier-karakter-unik-konsumen-indonesia-3-suka-berkumpul\/","title":{"rendered":"Frontier: Karakter Unik Konsumen Indonesia #1 Suka Berkumpul"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">(The Manager&#8217;s Lounge &#8211; Sales &amp; Marketing) &#8211; Karakter unik konsumen Indonesia yang ketiga menurut hasil riset Frontier Consulting Group adalah Suka Berkumpul. Mengapa karakter ini berkembang? Dan bagaimana implikasi strategi bagi pemasar dalam menyikapi karakter ini?<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Karakter Suka Berkumpul dari konsumen Indonesia ini disebabkan oleh beberapa alasan sebagai berikut:<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u25e6 Suka berkumpul adalah bagian dari budaya masyarakat Indonesia. \u201cMangan ora mangan ngumpul\u201d, adalah ungkapan umum dalam masyarakat Jawa, yang intinya adalah dalam keadaan senang (bisa makan) maupun sulit (tidak bisa makan) yang penting berkumpul.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u25e6 Masyarakat yang tidak produktif, cenderung berpangku tangan jika ada waktu luang, sehingga dihabiskan untuk berkumpul<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u25e6 Pendidikan keluarga, yang menekankan pentingnya kebersamaan dan kekeluargaan. Sehingga aktivitas berkumpul menjadi penting.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u25e6 Banyaknya informal leader dalam masyarakat<\/p>\n<p>\u25e6 Masyarakat cenderung menghindari konflik<\/p>\n<p>Implikasi strategi yang dapat digunakan oleh pemasar antara lain adalah:<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u25e6 Bentuk komunitas pelanggan yang nantinya bisa menjadi references groups. Misalnya Telkomsel dengan komunitas SimpatiZone-nya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u25e6 Manfaatkan strategi pemasaran dengan word-of-mouth (WOM) yang sangat ampuh digunakan di Indonesia. Riset dari Frontier menunjukkan, bahwa konsumen Amerika yang puas akan bercerita kepada 2-5 orang, sementara itu konsumen Indonesia yang puas akan bercerita kepada 5-15 orang lain. Contoh produk yang berhasil dalam menggunakan strategi word of mouth antara lain adalah Brownies Amanda dan Tupperware<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u25e6 Targetkan pada opinion leaders di masyarakat, antara lain pemuka agama, ketua adat, hingga pemimpin kelompok. Opinion leaders ini yang nantinya bisa mempengaruhi masyarakat.<\/p>\n<p>(Rinella Putri\/AA\/TML)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(The Manager&#8217;s Lounge &#8211; Sales &amp; Marketing) &#8211; Karakter unik konsumen Indonesia yang ketiga menurut hasil riset Frontier Consulting Group adalah Suka Berkumpul. Mengapa karakter ini berkembang? Dan bagaimana implikasi strategi bagi pemasar dalam menyikapi karakter ini? Karakter Suka Berkumpul dari konsumen Indonesia ini disebabkan oleh beberapa alasan sebagai berikut: \u25e6 Suka berkumpul adalah bagian dari budaya masyarakat Indonesia. \u201cMangan ora mangan ngumpul\u201d, adalah ungkapan umum dalam masyarakat Jawa, yang intinya adalah dalam keadaan senang (bisa makan) maupun sulit (tidak [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":3,"featured_media":154615,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_editorskit_title_hidden":false,"_editorskit_reading_time":0,"_editorskit_typography_data":[],"_editorskit_blocks_typography":"","_editorskit_is_block_options_detached":false,"_editorskit_block_options_position":"{}","om_disable_all_campaigns":false,"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"_uf_show_specific_survey":0,"_uf_disable_surveys":false,"footnotes":""},"categories":[16],"tags":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2017"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2017"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2017\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":173197,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2017\/revisions\/173197"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/154615"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2017"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2017"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2017"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}