{"id":199954,"date":"2024-06-07T14:06:21","date_gmt":"2024-06-07T07:06:21","guid":{"rendered":"https:\/\/www.blj.co.id\/?p=199954"},"modified":"2024-06-07T14:06:21","modified_gmt":"2024-06-07T07:06:21","slug":"power-lunch-gdp-ventures-pemaparan-model-crowdsourcing-yang-efektif","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/2024\/06\/07\/power-lunch-gdp-ventures-pemaparan-model-crowdsourcing-yang-efektif\/","title":{"rendered":"Power Lunch GDP Ventures: Pemaparan Model Crowdsourcing yang Efektif"},"content":{"rendered":"<p>(Business Lounge Journal &#8211; Event)<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Berbisnis dengan model crowdsourcing kini makin marak dilakukan oleh para\u00a0<em>startup.<\/em> Hal ini pun menjadi pembahasan menarik pada acara bincang-bincang bisnis bertajuk Power Lunch yang digelar oleh <span style=\"font-weight: 400;\">GDP Venture pada Kamis, 6 Juni 2024. Mengambil tema\u00a0<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cMaximizing Business Growth with an Effective crowdsourcing Model\u201d, acara ini menghadirkan tiga portfolio GDP Venture yang cukup berhasil menerapkan <i>crowdsourcing<\/i> model dalam bisnisnya. Mereka adalah <\/span>David Soong &#8211; CEO SweetEscape, Dimas Harry Priawan &#8211; Co-founder &amp; CEO Dekoruma, <span style=\"font-weight: 400;\">dan <\/span>Ardyanto Alam &#8211; CEO Garasi.id.<\/p>\n<p><img decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-full wp-image-199956\" src=\"https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/Power-Lunch-GDP-Ventures-060624.jpg\" alt=\"\" width=\"1082\" height=\"469\" srcset=\"https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/Power-Lunch-GDP-Ventures-060624.jpg 1082w, https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/Power-Lunch-GDP-Ventures-060624-300x130.jpg 300w, https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/Power-Lunch-GDP-Ventures-060624-1024x444.jpg 1024w, https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/Power-Lunch-GDP-Ventures-060624-768x333.jpg 768w, https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2024\/06\/Power-Lunch-GDP-Ventures-060624-750x325.jpg 750w\" sizes=\"(max-width: 1082px) 100vw, 1082px\" \/><\/p>\n<h1 style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\"> Konsep Bisnis <i>Crowdsourcing<\/i><\/span><\/h1>\n<p style=\"text-align: justify;\">Teknologi yang semakin canggih menjadi pemicu pesatnya pertumbuhan bisnis berkonsep <i><span style=\"font-weight: 400;\">crowdsourcing. <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">Pada model bisnis ini, <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">layanan, ide, atau konten diperoleh dengan meminta kontribusi dari banyak orang secara daring. Sebagai contoh: Airbnb sukses secara global dalam menerapkan konsep <i>crowdsourcing.<\/i> Sebagai contoh adalah seperti yang diterapkan baik oleh Sweetescape, Garasi.id, dan Dekoruma.\u00a0<\/span>Sekarang, mari kita perhatikan konsep bisnis mereka satu per satu.<\/p>\n<ul>\n<li style=\"text-align: justify;\">SweetEscape adalah sebuah <span style=\"font-weight: 400;\">platform yang menawarkan jasa layanan fotografi yang dilakukan oleh fotografer lokal. Hal ini memungkinkan para pengguna yang membutuhkan jasa fotografer di kota tujuan, dapat bertemu dengan fotografer yang terpercaya. Misalnya saja ketika kita ingin berlibur ke Tokyo, maka kita dapat menggunakan layanan SweetEscape untuk terhubung dengan fotografer di Tokyo. Dengan demikian kita dapat bertemu dengan fotografer yang terpercaya. Saat ini SweetEscape dapat menghubungkan penggunanya dengan fotografer <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">di lebih dari 500 kota dan di lima benua dengan lebih dari 1,000 partner fotografer. Namun tidak hanya itu, SweetEscape juga menawarkan berbagai layanan pemotretan baik individu, kelompok, perusahaan, bahkan produk.\u00a0<\/span><\/li>\n<li>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Garasi.id adalah sebuah platform yang bekerjasama dengan bengkel-bengkel pilihan untuk memberikan layanan yang dibutuhkan para pemilik kendaraan yang menjadi penggunanya. Garasi.id menerapkan standar operasional yang jelas dan dapat diadopsi dengan standar operasional yang telah ada di bengkel tersebut. Supaya standar operasional dapat diterima dengan baik, maka Garasi.id pun memilih mitra bengkel yang memiliki kualitas terpercaya. Saat ini Garasi.id mempunyai produk <i>Warranty,<\/i> Jasa Inspeksi, Jasa Servis, dan Asisten Darurat.\u00a0<\/span><\/p>\n<\/li>\n<li style=\"text-align: justify;\">Dekoruma<span style=\"font-weight: 400;\"> yang didirikan pada tahun 2015 semula menjadi <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">marketplace furniture. <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">Namun bisnis ini kemudian melakukan <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">ekspansi dengan membuka jasa layanan desain interior hingga penjualan rumah. Untuk itu Dekoruma bekerjasama dengan desainer-desainer interior. Dalam melakukan <em>interior design, <\/em>Dekoruma <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">mengembangkan suatu teknologi yang dinamakan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Thudio. <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">Melalui Thudio, <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">para desainer dapat membuat desainnya dengan langsung mengetahui estimasi biaya yang dibutuhkan. Hal ini akan sangat membantu dalam menyesuaikan desain dengan anggaran yang dimiliki oleh konsumen.<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<h2>Kunci Keberhasilan Model Bisnis <em>C<\/em><i><span style=\"font-weight: 400;\">rowdsourcing<\/span><\/i><\/h2>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Keberhasilan model bisnis <em>c<\/em><\/span><em><span style=\"font-weight: 400;\">rowdsourcing\u00a0<\/span><\/em><span style=\"font-weight: 400;\">akan sangat dipengaruhi oleh <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">pemilihan partner, manajemen risiko, dan perlindungan hak cipta. Ketiga hal ini menjadi elemen yang penting dalam pengembangan model bisnis <em>crowdsourcing<\/em>. Selain itu, d<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">alam menerapkan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">crowdsourcing<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> secara efektif, perusahaan harus menerapkan standar operasional yang jelas untuk mendapatkan kualitas yang sama dari <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">partner<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> kerja serta meminimalisasi resiko akan ketidakpuasan pelanggan.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Untuk mendapatkan partner yang berkualitas SweetEscape mengharuskan <span style=\"font-weight: 400;\">partner fotografer memiliki kemampuan komunikasi yang baik, misalnya, mereka harus dapat berkomunikasi dengan segala usia baik individu maupun kelompok. Untuk pemotretan di luar negeri, fotografer juga sering kali berperan sebagai pemandu lokal dengan memberikan informasi tentang tempat-tempat menarik untuk dikunjungi, tempat makan, dan aktivitas yang bisa dilakukan. Oleh karena itu, mereka diwajibkan mampu berkomunikasi dalam bahasa Inggris. Dengan kemampuan <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">seperti ini, diharapkan klien akan menjadi lebih puas dengan layanan yang diberikan.<\/span><\/p>\n<p>Keuntungan<\/p>\n<h1>Keuntungan Model Bisnis <em>C<span style=\"font-weight: 400;\">rowdsourcing<\/span><\/em><\/h1>\n<p style=\"text-align: justify;\">Beberapa keuntungan dari model bisnis\u00a0<em>crowdsourcing: <\/em>bagaimana model ini <span style=\"font-weight: 400;\">tidak hanya menguntungkan perusahaan dengan efisiensi waktu dan biaya operasional, tetapi juga memberikan keuntungan bagi mitra <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">crowdsourcing.<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> Para mitra adalah tenaga kerja dengan modal yang tidak besar namun akan memperoleh kompensasi yang adil sesuai hasil kerja mereka.\u00a0<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Baik Ardyanto Alam maupun <span style=\"font-weight: 400;\">David Soong mengemukakan bahwa model <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">crowdsourcing <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">akan <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">menguntungkan kedua belah pihak. Namun demikian <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">tidak semua perusahaan dapat menerapkan model <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">crowdsourcing<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Tetapi model <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">crowdsourcing<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> akan sangat cocok untuk perusahaan yang membutuhkan tenaga dengan keahlian khusus.\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Namun demikian, <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">model crowdsourcing tidaklah semudah yang terlihat. Meskipun menawarkan potensi pertumbuhan yang besar, perusahaan perlu melakukan pendekatan yang hati-hati dan strategis dalam mengembangkan jaringan mitra. Mengambil langkah kecil, melakukan riset yang menyeluruh, dan memahami perilaku konsumen adalah kunci untuk memastikan kesuksesan dalam mengimplementasikan model ini.\u00a0<\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(Business Lounge Journal &#8211; Event) Berbisnis dengan model crowdsourcing kini makin marak dilakukan oleh para\u00a0startup. Hal ini pun menjadi pembahasan menarik pada acara bincang-bincang bisnis bertajuk Power Lunch yang digelar oleh GDP Venture pada Kamis, 6 Juni 2024. Mengambil tema\u00a0\u201cMaximizing Business Growth with an Effective crowdsourcing Model\u201d, acara ini menghadirkan tiga portfolio GDP Venture yang cukup berhasil menerapkan crowdsourcing model dalam bisnisnya. Mereka adalah David Soong &#8211; CEO SweetEscape, Dimas Harry Priawan &#8211; Co-founder &amp; CEO Dekoruma, dan Ardyanto Alam [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":26,"featured_media":199955,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_editorskit_title_hidden":false,"_editorskit_reading_time":0,"_editorskit_typography_data":[],"_editorskit_blocks_typography":"","_editorskit_is_block_options_detached":false,"_editorskit_block_options_position":"{}","om_disable_all_campaigns":false,"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"_uf_show_specific_survey":0,"_uf_disable_surveys":false,"footnotes":""},"categories":[8027,2725,1050],"tags":[9778,9779],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/199954"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/26"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=199954"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/199954\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":199957,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/199954\/revisions\/199957"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/199955"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=199954"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=199954"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=199954"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}