{"id":197016,"date":"2023-11-21T11:09:58","date_gmt":"2023-11-21T04:09:58","guid":{"rendered":"https:\/\/www.blj.co.id\/?p=197016"},"modified":"2023-11-21T11:21:35","modified_gmt":"2023-11-21T04:21:35","slug":"membaca-budaya-perusahaan-dari-perilaku-customer-perusahaan-di-hotel","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/2023\/11\/21\/membaca-budaya-perusahaan-dari-perilaku-customer-perusahaan-di-hotel\/","title":{"rendered":"Membaca Budaya Perusahaan dari Perilaku Customer Perusahaan di Hotel"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">(Business Lounge Journal &#8211; Human Resources)<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Seringkali kita mendengar istilah budaya perusahaan ini. Ketika kita bekerja di sebuah perusahaan, apalagi dalam jangka waktu yang cukup panjang, maka tanpa kita sadari budaya perusahaan itu ternyata membentuk karakter dirinya.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Saya ingat ketika pertama kali bekerja di sebuah perushaan yang cukup profesional, atasan saya mengeluarkan pensil yang sudah terpakai dan tinggal sepertiga panjangnya dari ukuran pensil. Kemudian dia menaruh pensil tersebut di dalam laci sambil berkata satu pensil bekas pun kalau ini punya perusahaan jangan pernah dibawa pulang sebagai milik pribadi.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Nilai budaya perusahaan sedang ditanamkan pada karyawan yang baru saja bergabung dan budaya itu tertanam di benak saya, sehingga itu membentuk karakter saya selama berkarir.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Lalu ada yang menarik dari budaya perusahaan ini yang diamati oleh teman saya yang bekerja sebagai GM (General Manager) sebuah hotel, ketika hotel ini sering dipakai oleh berbagai perusahaan untuk <em>meeting, outing,<\/em> atau sekedar perayaan perusahaan.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Sang GM bercerita bahwa budaya perusahaan sangat mewarnai karakter dari masing-masing karyawan di perusahaan itu dan itu sangat terlihat oleh pengamatan orang ketika rombongan karyawan ini datang menginap di hotel.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam obrolan dengan GM ini, dia menggambarkan ada beberapa tipe yang terlihat:<\/span><\/p>\n<h3 style=\"text-align: justify;\"><b>Budaya Bebas<\/b><\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Ada nilai perusahaan yang menggambarkan bahwa yang penting adalah kerja keras mencapai target, yang lainnya terserah karyawan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Dari tipe ini terlihat jelas bagaimana karyawan pekerja keras, agresif, bebas berkreasi, dan <em>fun<\/em>.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Karyawan suka bercengkarama satu dengan lainnya, tertawa, berfoto bersama, dan suasana di meja makan cukup seru.\u00a0<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Banyak hal yang spontanitas seperti bernyanyi bersama atau bercanda.\u00a0<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Mereka bebas <em>order<\/em> makanan atau minuman sesuai yang mereka suka dan bahkan menawarkan makanan bagi teman-temannya.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Kerika mereka mengadakan <em>meeting <\/em>maka suasana ini pun terbawa dan tergambar jelas. Sang atasan selalu membawa suasana semangat dan disambut dengan komentar-komentar anak buah tanpa ada rasa tersinggung.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Pada malam hari, mereka pun tidak langsung tidur, tetapi masih berkumpul dengan berbagai keseruan. Ada yang main kartu atau sekedar ngobrol sambil minum kopi. Tentunya disertai dengan canda dan tawa. Mereka sangat menghargai ada kesempatan bisa kumpul hingga tengah malam.<\/span><\/p>\n<h3 style=\"text-align: justify;\"><b>Budaya Berbaris<\/b><\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Nilai perusahaan dengan budaya ini mengutamakan kedisiplinan karyawan dan semua tunduk pada instruksi atasan.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Ciri karyawan dengan budaya ini terlihat jelas di hotel. Mereka sudah datang tepat waktu di tempat makan, selalu mengikuti jadwal <em>meeting<\/em> dengan tepat, baik saat masuk <em>meeting<\/em> maupun keluar <em>meeting<\/em>.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Pada saat jam makan maka mereka pun sudah siap pada jamnya. Mereka makan dengan rapi, kalau dihidangkan berbagai lauk, maka mereka akan mengambil hanya satu per orang dan tidak menambah.\u00a0<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau tidak ada instruksi dari atasan, maka tidak satu pun karyawan akan <em>order<\/em> makanan di luar dari menu yang disajikan bagi perusahaan tersebut.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Bahkan ada beberapa perusahaan dengan budaya seperti ini, setelah makan maka membawa piring dan gelas bekas dengan rapi ke meja yang kosong dengan tertib.\u00a0<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Mereka tidak banyak minta dilayani oleh pelayan hotel, tetapi dengan tertib semua ditangani sendiri, baik membawa koper dan perataan <em>meeting<\/em>, termasuk juga meja makan mereka dirapikan sendiri.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Setelah makan malam biasanya mereka segera masuk ke kamar dan tidak lagi ada yang berkumpul. Mereka dengan cepat mengambil waktu istirahat karena besok harus <em>meeting<\/em> lagi dan jangan sampai tidak segar kondisinya. Jadi segera beristrirahat untuk mempersiapkan diri untuk bekerja besok.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Nampak jelas bahwa ada budaya yang memang dibentuk oleh managemen perusahaan, tetapi bisa juga terbentuk budaya yang terbangun karena interaksi di dalam perusahaan tersebut yang membangun sebuah budaya.<\/span><\/p>\n<h3 style=\"text-align: justify;\"><b>Budaya Boss<\/b><\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam budaya ini karyawan cenderung minta diperhatikan kepentingannya. Mereka cenderung menuntut dan minta dilayani untuk kepentingannya. <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Hal-hal kecil seperti minta diangkat kopernya, minta tempat abu rokok, atau bahkan sekedar menambah makanan, cenderung untuk menuntut dilayani dan segera tersedia.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Mereka tidak suka atau bahkan bisa marah bila mendapatkan sesuatu yang tidak sesuai dengan yang mereka inginkan, mulai dari parkir mobil, kebersihan kloset, makanan, dan banyak hal.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Hal sederhana saja, misalnya seperti biasa di <em>counter<\/em> omelette ada sedikit antrian karena memang disajikan dan diolah di depan tamu, sehingga tamu akan <em>order<\/em> terlebih dahulu baru dibuat. Tentunya ada risiko untuk tamu menunggu atau antri yang tidak begitu lama. Tetapi karyawan dengan budaya boss akan menjadi tidak sabar. Mereka bisa mengeluh atau bahkan menyerobot demi untuk omelette saja.<\/span><\/p>\n<h3 style=\"text-align: justify;\"><b>Budaya Teman<\/b><\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Karyawan dengan budaya perusahaan ini akan cenderung bersahabat dengan karyawan yang lainnya, bahkan kepada petugas-petugas hotel akan cenderung bersahabat dan tidak menunjukkan bahwa dia harus dilayani.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Tipe karyawan dengan perusahaan yang memiliki budaya seperti ini akan tetap berlaku sabar bahkan mereka bisa ngobrol dengan penyaji omelette ketika mereka harus sedikit menunggu atau antri. <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Suasana menunggu sajian yang sedang disiapkan justru menjadi ajang tukar informasi dan pengetahuan-pengetahuan ringan yang enak untuk dibicarakan.<\/span><\/p>\n<h3 style=\"text-align: justify;\"><b>Gambaran Budaya<\/b><\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam pembahasan ini maka ini bukanlah karakter dari satu atau dua karyawan, tetapi budaya adalah menjadi sebuah ciri karakter yang secara umum yang menggambarkan karakter dari karyawan perusahaan itu.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Seperti sifat anak terbentuk dari orang tuanya, lalu dipengaruhi oleh keluarga besarnya. Kemudian secara lebih luas terpengaruh dengan interaksi teman-teman di lingkungan baik di sekolah maupun lingkungan rumah.\u00a0<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Maka budaya karyawan juga terbentuk dari managemen perusahaan tersebut. Hal ini sangat tergambar secara garis besar bahwa karakter itu terbentuk pada seluruh karyawan perusahaan tersebut.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Interaksi sesama karyawan dan juga dengan pihak-pihak di luar perusahaan akan sangat memengaruhi performa perusahaan. Oleh sebab itu budaya perusahaan menjadi sangat penting untuk keberhasilan perusahaan mencapai tujuannya.<\/span><\/p>\n<p><em>Photo by Product School<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(Business Lounge Journal &#8211; Human Resources) Seringkali kita mendengar istilah budaya perusahaan ini. Ketika kita bekerja di sebuah perusahaan, apalagi dalam jangka waktu yang cukup panjang, maka tanpa kita sadari budaya perusahaan itu ternyata membentuk karakter dirinya. Saya ingat ketika pertama kali bekerja di sebuah perushaan yang cukup profesional, atasan saya mengeluarkan pensil yang sudah terpakai dan tinggal sepertiga panjangnya dari ukuran pensil. Kemudian dia menaruh pensil tersebut di dalam laci sambil berkata satu pensil bekas pun kalau ini punya [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":44,"featured_media":197019,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_editorskit_title_hidden":false,"_editorskit_reading_time":0,"_editorskit_typography_data":[],"_editorskit_blocks_typography":"","_editorskit_is_block_options_detached":false,"_editorskit_block_options_position":"{}","om_disable_all_campaigns":false,"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"_uf_show_specific_survey":0,"_uf_disable_surveys":false,"footnotes":""},"categories":[2725,16],"tags":[182],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/197016"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/44"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=197016"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/197016\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":197022,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/197016\/revisions\/197022"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/197019"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=197016"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=197016"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=197016"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}