{"id":196175,"date":"2023-09-21T11:05:52","date_gmt":"2023-09-21T04:05:52","guid":{"rendered":"https:\/\/www.blj.co.id\/?p=196175"},"modified":"2023-09-21T11:05:52","modified_gmt":"2023-09-21T04:05:52","slug":"corporate-culture-menentukan-kesuksesan-perusahaan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/2023\/09\/21\/corporate-culture-menentukan-kesuksesan-perusahaan\/","title":{"rendered":"Corporate Culture Menentukan Kesuksesan Perusahaan"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">(Business Lounge Journal &#8211; Human Resources)<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sebuah perusahaan dikenal dari budaya perusahaannya atau yang dikenal dengan <em>corporate<\/em> atau <em>company culture<\/em> dan terpancar dalam diri setiap karyawannya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Corporate<\/em> atau <em>company culture<\/em> merujuk pada nilai-nilai, kepercayaan, etika, sikap, dan perilaku yang dipegang dan dilakukan oleh anggota organisasi dalam melaksanakan tugas dan berinteraksi satu sama lain. Hal ini mencakup norma-norma yang tidak tertulis yang membentuk budaya kerja perusahaan dan memengaruhi keputusan, komunikasi, tindakan, dan kinerja tim.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Corporate culture<\/em> dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk nilai-nilai dan visi dari pemimpin perusahaan, kebijakan dan praktik perusahaan, dan interaksi antara karyawan. Hal ini juga memengaruhi bagaimana karyawan berinteraksi dengan pelanggan dan mitra bisnis perusahaan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Tanggung jawab untuk mewujudkan <em>corporate culture<\/em> ada pada semua anggota organisasi, dari para pemimpin hingga karyawan biasa. Pemimpin perusahaan memiliki peran yang kritis dalam menyusun dan mengkomunikasikan nilai-nilai baru yang diinginkan serta mendukungnya dengan kebijakan dan praktik perusahaan. Namun, setiap individu di dalam organisasi bertanggung jawab untuk menjalankan dan menunjukkan <em>corporate culture<\/em> melalui tindakan mereka sehari-hari dan berkontribusi pada keberhasilan budaya yang diinginkan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Bila perusahaan tidak memiliki <em>corporate culture<\/em> atau budaya yang jelas, maka organisasi dapat mengalami beberapa masalah, antara lain:<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">1. Tidak ada arah dan panduan yang jelas: Tanpa <em>corporate culture<\/em> yang jelas, karyawan mungkin bingung tentang nilai-nilai yang diinginkan dan perilaku yang diharapkan. Hal ini dapat menyebabkan kebingungan dan ketidakpastian dalam pengambilan keputusan, serta menghambat komunikasi dan kolaborasi yang efektif.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">2. Tidak ada identitas perusahaan yang kuat: <em>Corporate culture<\/em> membantu menggambarkan identitas perusahaan dan membedakan perusahaan dari yang lain. Tanpa hal ini, perusahaan mungkin kehilangan daya tarik untuk menarik karyawan yang berkualitas, pelanggan, dan mitra bisnis.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Contoh <em>company culture<\/em> yang dikenal di dunia termasuk:<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">1. Google: Google dikenal dengan kebebasan, kreativitas, inovasi, dan kebebasan berekspresi. Mereka menyediakan fasilitas dan waktu untuk karyawan untuk mengejar minat pribadi dan percaya pada keterbukaan dan kolaborasi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">2. Apple: Apple mengutamakan desain yang inovatif, kualitas produk yang tinggi, dan kepuasan pelanggan. Perusahaan ini juga memiliki budaya yang berfokus pada kerja keras dan keberanian dalam menghadapi tantangan teknologi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Hal-hal yang dapat menjadi hambatan terciptanya <em>company culture<\/em> adalah:<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">1. Kepemimpinan yang lemah atau tidak konsisten.<br \/>\n2. Kurangnya komunikasi dan transparansi.<br \/>\n3. Kurangnya dukungan dan partisipasi karyawan.<br \/>\n4. Konflik antara nilai-nilai perusahaan dan kepentingan individu.<br \/>\n5. Kebijakan dan praktik yang tidak konsisten atau tidak relevan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sepuluh hal yang membuat company culture dapat sukses terlaksana adalah:<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">1. Pemimpin yang menjadi contoh teladan dalam menjalankan nilai-nilai perusahaan.<br \/>\n2. Komunikasi yang efektif dan terbuka.<br \/>\n3. Dukungan dan partisipasi karyawan di semua tingkatan organisasi.<br \/>\n4. Membentuk tim dengan keahlian dan nilai yang sejalan.<br \/>\n5. Memberikan penghargaan dan pengakuan atas sikap dan perilaku yang sesuai dengan <em>corporate culture<\/em>.<br \/>\n6. Menyediakan peluang pengembangan dan pertumbuhan bagi karyawan.<br \/>\n7. Memiliki proses perekrutan yang selektif untuk memastikan kesesuaian nilai dan budaya perusahaan.<br \/>\n8. Memiliki sistem penghargaan dan sanksi yang sesuai dengan corporate culture.<br \/>\n9. Pemantauan dan pengukuran secara teratur terhadap kesesuaian budaya perusahaan.<br \/>\n10. Melibatkan karyawan dalam pembentukan dan pemeliharaan corporate culture melalui forum diskusi dan\u00a0umpan\u00a0balik.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(Business Lounge Journal &#8211; Human Resources) Sebuah perusahaan dikenal dari budaya perusahaannya atau yang dikenal dengan corporate atau company culture dan terpancar dalam diri setiap karyawannya. Corporate atau company culture merujuk pada nilai-nilai, kepercayaan, etika, sikap, dan perilaku yang dipegang dan dilakukan oleh anggota organisasi dalam melaksanakan tugas dan berinteraksi satu sama lain. Hal ini mencakup norma-norma yang tidak tertulis yang membentuk budaya kerja perusahaan dan memengaruhi keputusan, komunikasi, tindakan, dan kinerja tim. Corporate culture dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":48,"featured_media":196177,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_editorskit_title_hidden":false,"_editorskit_reading_time":0,"_editorskit_typography_data":[],"_editorskit_blocks_typography":"","_editorskit_is_block_options_detached":false,"_editorskit_block_options_position":"{}","om_disable_all_campaigns":false,"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"_uf_show_specific_survey":0,"_uf_disable_surveys":false,"footnotes":""},"categories":[2725,4],"tags":[182],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/196175"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/48"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=196175"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/196175\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":196176,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/196175\/revisions\/196176"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/196177"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=196175"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=196175"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=196175"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}