{"id":193270,"date":"2023-01-16T09:28:35","date_gmt":"2023-01-16T02:28:35","guid":{"rendered":"https:\/\/www.blj.co.id\/?p=193270"},"modified":"2023-03-03T13:54:25","modified_gmt":"2023-03-03T06:54:25","slug":"bagaimana-tech-startup-indonesia-dapat-bertahan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/2023\/01\/16\/bagaimana-tech-startup-indonesia-dapat-bertahan\/","title":{"rendered":"Bagaimana Tech Startup Indonesia Dapat Bertahan?"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">(Business Lounge Journal &#8211; Entrepreneurship)<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dalam interview eksklusif Business Lounge Journal dengan Donald Wihardja, CEO MDI Ventures, para startup Indonesia harus memiliki keyakinan \u201c<em>right to win<\/em>\u201d untuk dapat bertahan, yaitu suatu kemampuan untuk mempertahankan<em> market feed<\/em> dan <em>market retention<\/em>.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sebagai contoh Donald menjelaskan, bahwa <em>digital company<\/em> bukan hanya menyebut diri <em>digital company<\/em> dengan memiliki aplikasi dan <em>database<\/em> di belakangnya. Dengan terang Donald mengatakan, &#8220;Itu bukan <em>digital company!&#8221; <\/em>Tetapi juga apakah kita sudah menggunakan data yang kita miliki. Pada dasarnya <em>digital company<\/em> adalah perusahaan yang menggunakan <em>digital<\/em>. Seperti misalnya restoran yang menggunakan <em>cash register digital<\/em> untuk pembayarannya itu bukan otomatis menjadi <em>digital company<\/em>.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Jadi apa bedanya dengan perusahaan yang bergerak dalam <em>digital company<\/em>? Adalah perusahaan yang memilah-milah dan menggunakan data. Sebab data tersebut dipilah-pilah karena <em>digital<\/em> selalu meng-<em>capture<\/em> semua data dan dapat digunakan untuk mengetahui mana <em>customer<\/em> yang paling <em>valuable<\/em>. Anda juga dapat mengidentifikasi di mana Anda menang di market dan di mana kalah. Sehingga Anda tidak perlu membuang uang untuk berusaha menguasai <em>market<\/em> yang justru Anda mengalami kerugian di sana. Sehingga melalui data yang Anda miliki, Anda dapat fokus pada <em>customer-customer<\/em> yang paling menguntungkan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Donald juga mengumpamakan data itu sebagai <em>fuel. <\/em>Jika kita bisa memiliki mesin yang dapat menggunakan <em>fuel<\/em> tersebut, maka akan sangat menguntungkan. Tetapi jika tidak, maka data itu hanya seperti sampah minyak goreng yang bikin lengket dimana-mana.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Jadi yang paling penting adalah perusahaan <em>digital company<\/em> dapat menggunakan data Anda sebagai <em>digital company<\/em>. &#8220;Kalau tidak, maka tidak ada bedanya dengan yang lain!&#8221; tegas Donald.<\/p>\n<p><iframe title=\"Interview Donald Wihardja (CEO MDI Ventures): Bagaimana Tech Startup Indonesia Dapat Bertahan?\" width=\"750\" height=\"422\" src=\"https:\/\/www.youtube.com\/embed\/zxLOBr6aWLE?feature=oembed\" frameborder=\"0\" allow=\"accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share\" allowfullscreen><\/iframe><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(Business Lounge Journal &#8211; Entrepreneurship) Dalam interview eksklusif Business Lounge Journal dengan Donald Wihardja, CEO MDI Ventures, para startup Indonesia harus memiliki keyakinan \u201cright to win\u201d untuk dapat bertahan, yaitu suatu kemampuan untuk mempertahankan market feed dan market retention. Sebagai contoh Donald menjelaskan, bahwa digital company bukan hanya menyebut diri digital company dengan memiliki aplikasi dan database di belakangnya. Dengan terang Donald mengatakan, &#8220;Itu bukan digital company!&#8221; Tetapi juga apakah kita sudah menggunakan data yang kita miliki. Pada dasarnya digital [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":48,"featured_media":193271,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_editorskit_title_hidden":false,"_editorskit_reading_time":0,"_editorskit_typography_data":[],"_editorskit_blocks_typography":"","_editorskit_is_block_options_detached":false,"_editorskit_block_options_position":"{}","om_disable_all_campaigns":false,"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"_uf_show_specific_survey":0,"_uf_disable_surveys":false,"footnotes":""},"categories":[8039,2725,8425,8067],"tags":[9212],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/193270"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/48"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=193270"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/193270\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":193275,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/193270\/revisions\/193275"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/193271"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=193270"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=193270"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=193270"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}