{"id":192083,"date":"2022-10-27T13:15:25","date_gmt":"2022-10-27T06:15:25","guid":{"rendered":"https:\/\/www.blj.co.id\/?p=192083"},"modified":"2022-10-31T07:45:23","modified_gmt":"2022-10-31T00:45:23","slug":"emotional-branding","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/2022\/10\/27\/emotional-branding\/","title":{"rendered":"Emotional Branding"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">(Business Lounge Journal &#8211; Marketing)<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Marc Gobe merupakan pemimpin Desgripes Gobe Group New York, salah satu perusahaan pencipta citra merk top dunia yang masuk dalam daftar 10 besar. Sebagai pelopor desain merek, dia telah menulis buku bisnis terlaris Emotional Branding \u2013 The new paradigm for Connecting Brands to People (Allworth Peress, 2001). Buku barunya adalah Citizen Brand the 10 Commandments for Transforming Brand in a Consumer Democrazy (Allworth Press,2002).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Buku tersebut mengeksplorasi peran baru perusahaan yakni bermain dalam rangka untuk memperoleh loyalitas pembeli dan tetap kompetitif dalam dunia yang terus berubah ini. Desgripes Group berkantor di New York, Paris, Brussel, Tokyo, Hongkong, atau Seoul. Pendekatan terpadu dalam membangun merek (melalui disiplin seperti disain produk, disain grafis, dan arsitektur) memungkinkan perusahaan untuk memenuhi kebutuhan terbaik klien, baik lokal maupun global. Desgripes Gobe Group menjadi sukses hasil dari\u00a0 kombinasi pendekatan inovatif untuk riset konsumen dan pengembangan alat-alat seperti BrandSense dan BrandFocused yang memungkinkan klien untuk memahami perilaku pembelian.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Gobe lulus dari Ecole Professionelle de Desain Industriel di Paris pada studi ekstensif dalam bidang disain grafis. Pengalamannya dalam kemasan, desain struktur, dan arsitektur telah menarik perusahaan untuk membangun merek mereka terutama perusahaan campuran pakaian, kecantikan, dan konsumen. Ia menciptakan konsep \u201ckehadiran total\u201d dalam branding ketika bisnis masih sangat khusus dan menciptakan merek disain strategis yang melibatkan konsumen secara emosional pada titik-titik yang berbeda dari pengalaman merek. Klien diantaranya Coca Cola, Air France, Estee Lauder, Ann Tylor, Victoria\u2019s Secret, IBM, Gillete, Brooks Brothers, Reebok, dan beberapa perusahaan lainnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Emotional branding<\/em> merupakan sebuah gerakan dalam lingkaran permerekan dengan mengalihkan fokus dari produk kepada orang bahkan telah menjadi tolok ukur baru untuk pemasaran profesional yang kreatif. Sehingga dapat dikatakan bahwa <em>emotional branding<\/em> merupakan sebuah terobosan dan pendekatan baru\u00a0 untuk membangun merek.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Menurut Gobe, <em>emotional branding<\/em> mengeksplorasi keefektifan interaksi konsumen berkaitan dengan indra dan perasaan, emosi, dan sentimen.\u00a0 Sehingga yang dibutuhkan\u00a0 adalah peran indera dalam <em>branding <\/em>dan disain.\u00a0 Mengingat kesempatan yang ada dalam memahami bagaimana perasaan prospek mengenai\u00a0 sebuah merek menentukan berapa banyak yang ingin mereka beli. Dorongan emosional lebih efektif untuk membuat target konsumen mengambil keputusan pembelian dibandingkan logika.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dengan menjelajahi panca indera, <em>emotional \u00a0branding<\/em> menunjukkan bagaimana beberapa merek membangun bisnis dengan terlibat dalam interaksi sensorik dengan konsumen. Gobe melihat bahwa <em>emotional branding<\/em> membuka pintu menuju sensitivitas yang baru terhadap penelitian tradisional yang mengistimewakan individualitas dan kekuatan margin untuk menjadi\u00a0 pusat strategi pemasaran.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dia pun menganggap desain sebagai media baru, web tempat di mana orang akan berbagi informasi dan berkomunikasi, arsitektur sebagai\u00a0 bagian dari\u00a0 proses pembangunan merek, dan orang-orang sebagai unsur palng kuat dari setiap strategi pemerekan. Paling penting bahwa <em>emotional brand<\/em> menekankan kebutuhan untuk melampaui bahasa tradisional pemasaran, dari yang didasarkan pada statistik dan ke\u00a0 komunikasi visual\u00a0 bentuk baru yang menarik\u00a0 yang menumbuhkan kreativitas dan inovasi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Manfaat strategi emotional brand menurut Marc Gobe dapat dilihat bagaimana media sosial membantu terpilihnya Barack Obama menjadi Presiden Amerika. Kemudian, bagaimana ide di balik Twitter mengubah peradaban, dan mengapa generasi baru menemukan kembali bisnis, perdagangan dan manajemen dengan memanfaatkan kekuatan web atau media sosial.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Contoh penerapan\u00a0 strategi <em>emotional brand<\/em> terdapat dalam brand berikut:<\/p>\n<h1 style=\"text-align: justify;\">BMW<\/h1>\n<p style=\"text-align: justify;\">Melalui sebuah video, BMW menunjukkan bagaimana mobilnya ikut ambil bagian dari sejarah penting yaitu membantu beberapa orang untuk melarikan diri ke Jerman Barat. Ini juga sekaligus menunjukkan sepak terjang BMW sebagai <em>brand<\/em> mobil yang kuat dari dulu hingga sekarang.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Selain itu, video membangkitkan rasa penasaran di awal, rasa tegang, kemudian haru di akhir video. Di sini BMW menunjukkan perannya dalam kisah seseorang menuju kemerdekaan, diakhiri dengan kata-kata \u2018<em>Freedom and independence. For all generations.<\/em>\u2019, mengaitkan <em>brand<\/em>-nya dengan kebebasan.<\/p>\n<h1 style=\"text-align: justify;\">Apple<\/h1>\n<p style=\"text-align: justify;\">Video Apple juga menggunakan pendekatan <em>emotional brand <\/em>untuk mengangkat produknya. Dalam video tersebut menceritakan tentang perayaan Natal suatu keluarga, dengan sebuah keluarga melakukan perjalanan mengunjungi rumah kakek, melihat-lihat foto lawas dan menonton video lama, hingga makan keluarga. Di akhir video, ditunjukkan bahwa sang nenek yang sudah meninggal bisa dilihat kembali video nenek mereka dan mengeditnya menjadi bagian foto keluarga. Dengan alunan musik yang\u00a0 menyentuh bagian ini\u00a0 membangkitkan rasa haru penonton, Lewat video tersebut, Apple membangkitkan rasa kekeluargaan menjelang hari Natal dan menunjukkan bagaimana produknya dapat membantu <em>customer<\/em> mengabadikan momen-momen penting bersama keluarga.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Banyak iklan-iklan dengan konten menarik dari bermacam-macam <em>brand<\/em> yang menggunakan strategi <em>emotional branding<\/em> untuk menarik perhatian <em>customer<\/em>. Hal yang terpenting adalah mengetahui siapa target konsumen <em>brand<\/em>-mu, emosi seperti apa yang ingin dibangkitkan pada strategi pemasaran tersebut dan aspek atau fitur produk apa yang ingin diangkat. Dengan demikian, <em>content<\/em> atau iklan bisa mendorong ketertarikan <em>customer<\/em>.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Emotional branding<\/em> dapat juga dilakukan oleh <em>brand<\/em> retail untuk menjual produk dan meningkatkan <em>brand awareness<\/em> di berbagai platform penjualan. Dengan memahami strategi ini Anda bisa memaksimalkan usaha dalam mengarahkan minat konsumen agar mereka melakukan transaksi pembelian.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(Business Lounge Journal &#8211; Marketing) Marc Gobe merupakan pemimpin Desgripes Gobe Group New York, salah satu perusahaan pencipta citra merk top dunia yang masuk dalam daftar 10 besar. Sebagai pelopor desain merek, dia telah menulis buku bisnis terlaris Emotional Branding \u2013 The new paradigm for Connecting Brands to People (Allworth Peress, 2001). Buku barunya adalah Citizen Brand the 10 Commandments for Transforming Brand in a Consumer Democrazy (Allworth Press,2002). Buku tersebut mengeksplorasi peran baru perusahaan yakni bermain dalam rangka untuk [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":101055,"featured_media":192105,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_editorskit_title_hidden":false,"_editorskit_reading_time":0,"_editorskit_typography_data":[],"_editorskit_blocks_typography":"","_editorskit_is_block_options_detached":false,"_editorskit_block_options_position":"{}","om_disable_all_campaigns":false,"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"_uf_show_specific_survey":0,"_uf_disable_surveys":false,"footnotes":""},"categories":[2725,16],"tags":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/192083"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/101055"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=192083"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/192083\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":192106,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/192083\/revisions\/192106"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/192105"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=192083"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=192083"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=192083"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}