{"id":190564,"date":"2022-07-16T19:32:42","date_gmt":"2022-07-16T12:32:42","guid":{"rendered":"https:\/\/www.blj.co.id\/?p=190564"},"modified":"2022-07-17T16:17:52","modified_gmt":"2022-07-17T09:17:52","slug":"paxlovid-bertempur-menghadapi-omicron","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/2022\/07\/16\/paxlovid-bertempur-menghadapi-omicron\/","title":{"rendered":"Paxlovid, Bertempur Menghadapi Omicron BA.4 dan BA.5"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">(Business Lounge Journal &#8211; Medicine)<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Peperangan menghadapi COVID-19 terus berlangsung hingga hari ini.\u00a0 Semakin meningkatnya penyebaran BA.4 dan BA.5, subvariant Omicron membuat kehadiran obat menjadi sesuatu kebutuhan. Kini, ketika merebaknya BA.4 dan BA.5 di berbagai negara di dunia, Paxlovid menjadi buah bibir yang diperbincangkan. Kita perlu mengenal Paxlovid sebab obat ini adalah salah satu pilihan yang mudah untuk perawatan di rumah sendiri bagi pasien-pasien yang melakukan isolasi mandiri.<\/p>\n<h1 style=\"text-align: justify;\"><strong>Apa itu\u00a0 Paxlovid? <\/strong><\/h1>\n<p style=\"text-align: justify;\">Paxlovid adalah pengobatan COVID-19 terbaru di dunia, yang telah diberikan otorisasi penggunaan darurat (EUA) oleh Food and Drug Administration (FDA) Amerika pada bulan Desember 2021. Obat ini\u00a0 sudah direkomendasikan juga oleh 5 organisasi profesi di Indonesia, yaitu Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI), Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI), Perhimpunan Dokter Anestesiologi dan Terapi Intensif Indonesia (PERDATIN), dan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Dalam <em>Buku Pedoman Tatalaksana COVID-19 Edisi 4<\/em>\u00a0yang baru saja terbit pada Januari 2022. Bahwa apabila Remdesivir tidak tersedia maka pemberian antivirus disesuaikan dengan ketersediaan obat di fasyankes masing-masing, dengan pilihan sebagai berikut:<\/p>\n<ul style=\"text-align: justify;\">\n<li>Favipiravir (sediaan 200 mg)\u00a0<em>loading dose<\/em>\u00a01600 mg\/12 jam\/oral hari ke-1 dan selanjutnya 2 x 600 mg (hari ke 2-5), ATAU<\/li>\n<li>Molnupiravir (sediaan 200 mg, oral), 800 mg per 12 jam, selama 5 hari, ATAU<\/li>\n<li>Nirmatrelvir\/Ritonavir (sediaan 150 mg\/100 mg dalam bentuk kombo dengan merek dagang Paxlovid), Nirmatrelvir 2 tablet per 12 jam, Ritonavir 1 tablet per 12 jam, diberikan selama 5 hari<\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"text-align: justify;\">Namun sebenarnya Paxlovid bukan untuk semua orang, melainkan\u00a0 untuk orang-orang dengan syarat berikut:<\/p>\n<ul style=\"text-align: justify;\">\n<li>Berusia minimal 12 tahun ke atas<\/li>\n<li>Memiliki berat badan setidaknya 44 kg<\/li>\n<li>Berisiko tinggi untuk penyakit menjadi parah.<\/li>\n<\/ul>\n<h1 style=\"text-align: justify;\"><strong>Kelebihan Paxlovid<\/strong><\/h1>\n<p style=\"text-align: justify;\">Paxlovid\u00a0 adalah pil antivirus\u00a0 yang dikembangkan oleh Pfizer, yang diklaim mampu melawan varian Omicron. Paxlovid merupakan kombo dari dua jenis antivirus yaitu Nirmatrelvir dan Ritonavir. Dikemas dalam bentuk obat oral dan dapat\u00a0 membantu menjaga pasien berisiko tinggi agar tidak harus dirawat di rumah sakit.\u00a0 Dengan demikian resiko terjadinya keparahan menurun\u00a0 hingga 89% sehingga angka kematian dan\u00a0 BOR juga menurun.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Selain harganya yang lebih murah daripada antivirus lainnya, penurunan risiko rawat inap dan kematian ini diteliti \u00a0dalam uji klinis \u00a0dan mendorong National Institutes of Health (NIH ) Amerika\u00a0 untuk menjadi prioritas dalam terapi COVID-19. Pemerintah AS saat ini memberikan obat ini secara cuma-cuma kepada masyarakat sebagai respons terhadap keadaan darurat kesehatan masyarakat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Menurut Scott Roberts, MD, spesialis penyakit menular Yale Medicine. \u201cIni benar-benar pil antivirus oral pertama kami yang manjur untuk virus ini. Ini menunjukkan manfaat yang jelas, dan itu benar-benar dapat mencegah rawat inap dan kematian pada orang yang berisiko tinggi.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Paxlovid bukanlah satu-satunya pil yang tersedia untuk mengobati COVID-19. \u00a0Namun bila dibandingkan dengan Molnupiravir yang telah diberikan EUA oleh FDA pada bulan Desember 2021 untuk pil dari Merck yang disebut Lagevrio, neberapa penelitian menunjukkan bahwa Molnupiravir hanya memiliki \u00a030% pengurangan risiko rawat inap dan kematian akibat COVID-19.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sehingga dengan demikian Paxlovid dianggap lebih ampuh dalam mengurangi risiko rawat inap. Obat ini dianggap sebagai peningkatan dari perawatan seperti Remdesivir (disetujui oleh FDA pada Oktober 2020), yang diberikan melalui suntikan intravena (IV).\u00a0 Seiring dengan terus meningkatnya penelitian, perkembangan dunia obat-obatan melawan COVID-19 membuat kekuatiran terhadap keparahan penyakit COVID-19 pun menurun.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(Business Lounge Journal &#8211; Medicine) Peperangan menghadapi COVID-19 terus berlangsung hingga hari ini.\u00a0 Semakin meningkatnya penyebaran BA.4 dan BA.5, subvariant Omicron membuat kehadiran obat menjadi sesuatu kebutuhan. Kini, ketika merebaknya BA.4 dan BA.5 di berbagai negara di dunia, Paxlovid menjadi buah bibir yang diperbincangkan. Kita perlu mengenal Paxlovid sebab obat ini adalah salah satu pilihan yang mudah untuk perawatan di rumah sendiri bagi pasien-pasien yang melakukan isolasi mandiri. Apa itu\u00a0 Paxlovid? Paxlovid adalah pengobatan COVID-19 terbaru di dunia, yang telah [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":48,"featured_media":187005,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_editorskit_title_hidden":false,"_editorskit_reading_time":0,"_editorskit_typography_data":[],"_editorskit_blocks_typography":"","_editorskit_is_block_options_detached":false,"_editorskit_block_options_position":"{}","om_disable_all_campaigns":false,"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"_uf_show_specific_survey":0,"_uf_disable_surveys":false,"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[8305],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/190564"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/48"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=190564"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/190564\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":190583,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/190564\/revisions\/190583"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/187005"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=190564"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=190564"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=190564"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}