{"id":18185,"date":"2013-10-08T11:24:44","date_gmt":"2013-10-08T04:24:44","guid":{"rendered":"http:\/\/businesslounge.co\/?p=18185"},"modified":"2014-03-08T11:02:28","modified_gmt":"2014-03-08T04:02:28","slug":"profile-nasabah-berisiko-tinggi-dalam-pencegahan-pencucian-uang","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/2013\/10\/08\/profile-nasabah-berisiko-tinggi-dalam-pencegahan-pencucian-uang\/","title":{"rendered":"Profile Nasabah Berisiko Tinggi Dalam Pencegahan Pencucian Uang"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">(Business Lounge &#8211; Risk) &#8211; Pencucian uang (Money Laundering) adalah suatu upaya perbuatan untuk menyembunyikan atau menyamarkan asal usul uang\/dana atau\u00a0 Harta Kekayaan hasil tindak pidana (seperti prostitusi, perdagangan obat bius, korupsi, penyelundupan, penipuan, pemalsuan, perjudian, dan lain-lain) melalui berbagai transaksi keuangan agar uang atau Harta Kekayaan tersebut tampak seolah-olah berasal dari kegiatan yang sah\/legal.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Menurut lembaga Financial Action Task Force (FATF) , Indonesia masih masuk dalam salah satu daftar hitam negara dengan kasus money laundry terbanyak. Hal ini diakibatkan karena masih kurang ketatnya peraturan di negara Indonesia , walaupun Indonesia telah memiliki regulasi atau peraturan untuk mendukung pencegahan tindak kriminal tersebut. Namun regulasi ini terbilang masih lemah, begitu juga masih lemah kesadaran masyarakatnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Hal-hal semacam ini bisa membuat image negatif akan negara Indonesia yang akhirnya dapat mempengaruhi perekonomian negara dan kemajuannya, sebab investor akan enggan masuk ke Indonesia akibat hal tersebut.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pelaku tindak kejahatan tersebut, biasanya menyimpan uangnya dalam institusi keuangan , termasuk bank. Untuk itu Bank perlu melakukan tindakan pencegahan dengan melihat profile nasabah yang digolongkan berisiko tinggi saat membuka rekening dengan melakukan EDD (Enhanced Due Diligence).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pengelompokkan nasabah berisiko tinggi itu berdasarkan pada\u00a0 ketentuan PPATK, PBI, SE BI dan mempertimbangkan profile risiko dari\u00a0 nasabah perbankan di Indonesia secara umum.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Seorang Frontliners perlu memiliki pengetahuan profile nasabah yang termasuk berisiko tinggi, sebagai berikut :<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">1.\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 High Risk Customer<br \/>\n\u2022\u00a0\u00a0 \u00a0Memiliki jenis pekerjaan atau jabatan tergolong high risk. Contoh : Pegawai Negeri Sipil (guru\/dosen), anggota TNI\/polisi, Notaris atau pengacara<br \/>\n\u2022\u00a0\u00a0 \u00a0Politically Exposed Person (PEP) atau para penyelenggara negara. Contoh : Kepala negara, Menteri, Anggota MPR, Hakim, serta pejabat setingkat Dirjen (eselon I) dan Direktur (eselon II) pada instansi pemerintah<br \/>\n\u2022\u00a0\u00a0 \u00a0Berasal dari kewarganegaraan negara high risk (high risk countries). Contoh : Negara Tax Haven, dianggap sumber kegiatan terorisme, Negara penghasil narkoba, tingkat korupsi tinggi ,seperti Korea Utara, British Virgin Islands dan Nigeria<br \/>\n\u2022\u00a0\u00a0 \u00a0Memiliki usaha\/bisnis tergolong high risk. Contoh : Partai Politik, Money Changer, Lembaga Swadaya Masyarakat (NGO), Perusahaan di bidang Kehutanan, Jasa pengiriman uang<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">2.\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 High Risk Product<br \/>\n\u2022\u00a0\u00a0 \u00a0Transfer Dana<br \/>\n\u2022\u00a0\u00a0 \u00a0Jual Beli Valas<br \/>\n\u2022\u00a0\u00a0 \u00a0Private Banking<br \/>\n\u2022\u00a0\u00a0 \u00a0Safe Deposit Box<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">3.\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Perlu mendapat persetujuan dari pejabat senior Bank<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Walaupun tergolong high risk, bukan berarti pembukana rekening ditolak. Tetap dapat dilakukan selama nasabah memenuhi seluruh persyaratan pembukan rekening. Setelah di buka, Bank wajib melakukan pemantauan lebih ketat terhadap aktivitas rekening nasabah. Pemantauan dapat dilakukan dengan melakukan analisa atas jenis produk\/jasa yang digunakan, nilai, frekuensi, tujuan transaksi serta pihak lain yang terkait dengan transaksi nasabah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Untuk lebih meningkatkan kewaspadaan , Bank juga perlu memiliki negative list yaitu daftar bidang usaha dan jenis nasabha yang dilarang untuk menjalin hubungan usaha dengan Bank. Contoh :<br \/>\n\u2022\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Kasino dan perjudian<br \/>\n\u2022\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Perdagangan narkotika\/obat-obatan psikotropika<br \/>\n\u2022\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Perdagangan senjata<br \/>\n\u2022\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Shell Bank<br \/>\n\u2022\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Bearer share company (perusahaan yang sahamnya bersifat atas unjuk)<br \/>\n\u2022\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Terrorist list<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">(Samantha\/IC\/BL)<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">pic : purevolume.com<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(Business Lounge &#8211; Risk) &#8211; Pencucian uang (Money Laundering) adalah suatu upaya perbuatan untuk menyembunyikan atau menyamarkan asal usul uang\/dana atau\u00a0 Harta Kekayaan hasil tindak pidana (seperti prostitusi, perdagangan obat bius, korupsi, penyelundupan, penipuan, pemalsuan, perjudian, dan lain-lain) melalui berbagai transaksi keuangan agar uang atau Harta Kekayaan tersebut tampak seolah-olah berasal dari kegiatan yang sah\/legal. Menurut lembaga Financial Action Task Force (FATF) , Indonesia masih masuk dalam salah satu daftar hitam negara dengan kasus money laundry terbanyak. Hal ini diakibatkan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":3,"featured_media":18186,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_editorskit_title_hidden":false,"_editorskit_reading_time":0,"_editorskit_typography_data":[],"_editorskit_blocks_typography":"","_editorskit_is_block_options_detached":false,"_editorskit_block_options_position":"{}","om_disable_all_campaigns":false,"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"_uf_show_specific_survey":0,"_uf_disable_surveys":false,"footnotes":""},"categories":[7937,1051],"tags":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/18185"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=18185"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/18185\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":26737,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/18185\/revisions\/26737"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/18186"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=18185"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=18185"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=18185"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}