{"id":179515,"date":"2021-03-10T11:49:35","date_gmt":"2021-03-10T04:49:35","guid":{"rendered":"https:\/\/www.blj.co.id\/?p=179515"},"modified":"2021-08-13T11:35:23","modified_gmt":"2021-08-13T04:35:23","slug":"model-bisnis-dinamis-dan-customer-discovery","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/2021\/03\/10\/model-bisnis-dinamis-dan-customer-discovery\/","title":{"rendered":"Model Bisnis Dinamis dan Customer Discovery"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">(Business Lounge Journal &#8211; Entrepreneurship)<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Meneruskan rangkaian artikel <em>customer discovery,<\/em> maka selanjutnya sangat diperlukan pemahaman penggunaan model bisnis yang dinamis dalam proses <em>customer discovery<\/em>. Bagi <em>startup<\/em> perbedaan antara model bisnis statis dan model bisnis dinamis bisa jadi merupakan perbedaan antara kegagalan dan kesuksesan. <em>Startup<\/em> harus membuang model bisnis statis dan mengadopsi model bisnis yang dinamis, ini berarti selalu siap berubah untuk semakin baik dan semakin baik.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Model bisnis yang dinamis menggambarkan aliran komponen-komponen utama dalam perusahaan: Pertama tentunya harus dipikirkan, diciptakan <em>value proposition<\/em> yaitu nilai yang ditawarkan oleh perusahaan lewat produk dan jasa yang dijual, inilah komponen yang pertama. Kemudian model bisnis pasti memiliki komponen <em>customer segments<\/em>, yaitu segmen pembeli yang akan dituju, mereka adalah pelanggan yang akan menggunakan produk, dan yang akan membayarnya. Segmen ini bisa jadi orang tua atau anak-anak, bisa berdasarkan gender, pendapatan, usia, pekerjaan, dan lain-lain. Selanjutnya untuk membuat <em>value proposition<\/em> sampai ke <em>customer segments<\/em> \u2013 pelanggan, dibutuhkan \u00a0<em>distribution channels<\/em> yang menjangkau pelanggan dan menawarkan <em>value proposition<\/em> dari produk dan jasa. Keempat adalah <em>customer relationships<\/em>\u00a0 yaitu komponen dalam model bisnis untuk membangun permintaan. Model bisnis pasti juga perlu komponen <em>revenue streams<\/em> yaitu pendapatan yang dihasilkan dari <em>value proposition<\/em> yang ditawarkan, <em>resources<\/em> adalah sumber daya yang diperlukan untuk membuat model bisnis menjadi mungkin, <em>activities<\/em> adalah kegiatan yang akan dilakukan untuk mengimplementasikan model bisnis, <em>partners <\/em>\u00a0adalah pihak yang akan berpartisipasi dalam bisnis. Terakhir adalah <em>cost structure<\/em> yaitu biaya yang timbul dari model bisnis yang disusun.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Selain menggunakan model bisnis sebagai <em>snapshot<\/em> kondisi bisnis pada waktu tertentu, maka dalam <em>startup<\/em> perlu menggunakan komponen-komponen di atas sebagai <em>scorecard<\/em> untuk melacak kemajuan dalam mencari model bisnis. Perbarui semua komponen setiap minggu untuk mencerminkan perubahan yang telah terjadi dari minggu lalu. Kemudian setelah disetujui perubahannya maka integrasikan ke dalam apa yang menjadi model bisnis baru. Kemudian proses tersebut berulang setiap minggu dan mencatat perubahan baru yang muncul. Metode ini menyoroti perubahan dari waktu ke waktu.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong><em>Customer Discovery <\/em>Memiliki Empat Fase<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Fase 1: Menyusun visi para pendiri menjadi sembilan komponen model bisnis di atas <em>(product, customers, channels, demand creation, revenue models, partners, resources, activities and cost structure).<\/em> Kemudian siapkan ringkasan tentang masing-masing hipotesis dari sembilan komponen ini, termasuk daftar eksperimen atau pengujian yang perlu dilakukan untuk membuktikan atau menyangkal masing-masing hipotesis.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Fase 2: Lakukan eksperimen untuk menguji hipotesis. Hipotesis termasuk <em>problem<\/em> yang dihadapi pelanggan dan <em>startup<\/em> menawarkan solusinya melalui <em>value proposition<\/em> yang ditawarkan. Ini membantu memahami betapa pentingnya <em>problem<\/em> itu \u00a0dan seberapa besar <em>problem<\/em> yang dihadapi. <em>Startup<\/em> akan menguji sebagian besar elemen model bisnis. Tujuan <em>startup<\/em> adalah mengubah hipotesis menjadi fakta atau membuangnya jika salah, dan menggantinya dengan hipotesis baru. Dalam prosesnya, <em>startup<\/em> akan mendapatkan pemahaman yang mendalam tentang semua komponen masuk. Saat semua fakta masuk, perbarui hasil <em>startup<\/em> pada model bisnis. Dalam fase 2 ini lebih banyak diuji adalah apakah problem pelanggan itu benar-benar fakta.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Fase: 3, <em>startup<\/em> menguji &#8220;solusi&#8221; nya terhadap problem yang dihadapi pelanggan, menyajikan <em>value proposition<\/em> (produk, harga, fitur, dan komponen model bisnis lainnya) dan <em>minimum value product<\/em> (MVP) yang layak untuk pelanggan. Fase 3 ini akan membandingkan tanggapan pelanggan dengan tujuan yang sudah dikembangkan sebelumnya . Fase 3 saat <em>startup<\/em> mendengar pelanggan berkata, &#8220;Wah <em>minimum value product<\/em> (MVP) ini saja sudah menyelesaikan masalah kita, apalagi dengan yang fitur lengkap&#8221;, atau, &#8220;Saya sangat membutuhkan produk ini&#8221;. Idealnya, pelanggan yang puas dengan solusi yang ditawarkan team <em>startup<\/em> akan bertanya, &#8220;Kapan saya bisa mendapatkannya?&#8221;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dalam fase ini bila produk dan jasa adalah bisnis secara <em>online<\/em>, pelanggan harus terlibat dan berinteraksi, menghabiskan waktu untuk itu dan muncul berbondong-bondong, kembali lagi dan lagi, dan membawa teman-teman mereka.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Fase 4 <em>startup<\/em> sudah selesai menguji solusi dan akan mengukur volume pelanggan yang diperkirakan akan menggunakan produk dan jasa. \u00a0Sudah pasti akan dapat dihitung target pendapatan yang akan didapat dari bisnis ini.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Belajar dari Pengalaman Honest Tea<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Proses <em>customer discovery<\/em> merupakan proses yang penting. Mari kita lihat bagaimana perusahaan Honest Tea menemukan pelanggannya. Honest Tea memulai bisnisnya pada tahun 1998, ketika Whole Foods memesan 15.000 botol teh yang akan diseduh di dapurnya. Perusahaan tumbuh dengan mantap selama beberapa tahun berikutnya. Dan karena terus menguntungkan, Honest Tea memutuskan untuk membedakan dirinya dari pasar minuman lainnya. Pada tahun 2001, lebih dari separuh produk yang mereka tawarkan menjadi organik. Pada tahun 2002, Honest Tea unggul dalam kualifikasi untuk sertifikasi. Pada akhir dekade, Honest Tea telah dikenal sebagai salah satu teratas dunia, dengan penjualan tahunan lebih dari $ 70 juta. Pada 2008, Coca-Cola membeli 40 persen saham perusahaan. Dua tahun kemudian, Washington Post menobatkan Honest Tea sebagai salah satu dari lima perusahaan teratas pada tahun 2010.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Seth Goldman <em>founder<\/em> dari Honest Tea menceritakan bagaimana perjuangannya dalam proses <em>customer discovery:<\/em> \u201cSaat kami mulai menawarkan minuman rendah kalori, kandungan teh rata-rata memiliki 100 kalori per botol dan kami terlalu jauh dari itu. Kami kemudian meningkatkannya menjadi 30 kalori. Keinginan konsumen untuk minuman rendah kalori dimulai tepat setelah kami datang ke pasar. Dua segmen terbesar yang kehilangan pangsa pada saat itu adalah bir dan jus jeruk. Tapi Honest Tea dengan rendah kalori dan rendah gula dicari orang.\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dalam hal <em>customer discovery<\/em> Seth mempunyai kiat yang jitu, \u201cKembangkan hubungan jangka panjang dengan para pelanggan!\u201d Salah satu aspek menarik dari pertumbuhan Honest Tea adalah respons luar biasa dari produk <em>Honest Kids<\/em>. Ini benar-benar mendorong banyak penjualan mereka. Lebih penting lagi, ini membantu memastikan penjualan di masa depan. <em>Honest Kids<\/em> diperuntukkan bagi anak-anak yang masih minum dari kantong jus. Tapi anak-anak itu akan menjadi peminum <em>Honest Tea<\/em> dalam beberapa dekade mendatang.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kalau dilihat dari sini maka sangat dibutuhkan keahlian untuk setiap hari dilakukan <em>testing<\/em> dari semua komponen model bisnis ini. Bukan hanya cukup sekali tapi dilakukan terus menerus. Saat melakukannya tentu dibutuhkan kontribusi berbagai keahlian yang tidak hanya dimiliki satu orang namun ada beberapa orang yang menjadi sebuah tim yang kuat. Penguasaan akan keuangan sangat diperlukan, bukan untuk pencatatan dan bagaimana melakukan penggalangan modal, namun keahlian untuk menghitung prototope produk dan jasa dalam nilai keuangan. Di dalamnya termasuk bagaimana menghitung jumlah pendapatan yang akan diterima pada masa depan. Keahlian untuk berkomunikasi dengan pelanggan adalah sebuah hal yang unik, sebab memahami bagaimana seorang pelanggan, tidak akan dapat dilakukan dengan kepribadian yang kaku. Keahlian untuk menuangkan keinginan pelanggan dalam sebuah produk dan jasa, sangat menentukan dalam proses <em>customer discovery<\/em> ini. Keahlian untuk bisa mendapatkan sumber-sumber bagi penciptaan produk adalah mutlak perlu.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kepemimpinan merupakan keahlian yang sangat dibutuhkan untuk mencapai keberhasilan dalam <em>customer discovery<\/em>. Seorang <em>founder<\/em> yang menggabungkan semua keahlian itu untuk sampai pada model bisnis yang memang menghasilkan. Didalamnya ada ketekunan dan juga sinergi yang besar antar satu dengan yang lainnya. Kepemimpinan seperti inilah yang menghasilkan kreatifitas dan sebuah <em>startup<\/em> yang menguntungkan dan berhasil. Jadi model bisnis dinamis hanya akan ada pada tim yang tanpa henti selalu melakukan eksperimen dan inovasi sampai akhirnya menemukan segmen pelanggan yang memiliki volume yang besar untuk menciptakan sebuah bisnis.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(Business Lounge Journal &#8211; Entrepreneurship) Meneruskan rangkaian artikel customer discovery, maka selanjutnya sangat diperlukan pemahaman penggunaan model bisnis yang dinamis dalam proses customer discovery. Bagi startup perbedaan antara model bisnis statis dan model bisnis dinamis bisa jadi merupakan perbedaan antara kegagalan dan kesuksesan. Startup harus membuang model bisnis statis dan mengadopsi model bisnis yang dinamis, ini berarti selalu siap berubah untuk semakin baik dan semakin baik. Model bisnis yang dinamis menggambarkan aliran komponen-komponen utama dalam perusahaan: Pertama tentunya harus dipikirkan, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":32,"featured_media":179521,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_editorskit_title_hidden":false,"_editorskit_reading_time":0,"_editorskit_typography_data":[],"_editorskit_blocks_typography":"","_editorskit_is_block_options_detached":false,"_editorskit_block_options_position":"{}","om_disable_all_campaigns":false,"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"_uf_show_specific_survey":0,"_uf_disable_surveys":false,"footnotes":""},"categories":[8039],"tags":[8601],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/179515"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/32"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=179515"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/179515\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":179837,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/179515\/revisions\/179837"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/179521"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=179515"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=179515"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=179515"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}