{"id":177861,"date":"2021-01-13T16:46:05","date_gmt":"2021-01-13T09:46:05","guid":{"rendered":"https:\/\/www.blj.co.id\/?p=177861"},"modified":"2021-02-02T18:42:57","modified_gmt":"2021-02-02T11:42:57","slug":"vaksin-dan-terapi-plasma-konvalesen-mana-lebih-baik","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/2021\/01\/13\/vaksin-dan-terapi-plasma-konvalesen-mana-lebih-baik\/","title":{"rendered":"Vaksin dan Terapi Plasma Konvalesen, Mana Lebih Baik?"},"content":{"rendered":"<p>(Business Lounge Journal &#8211; Medicine)<\/p>\n<p align=\"justify\"><span style=\"font-family: Times New Roman, serif;\"><span style=\"font-size: small;\"><span style=\"font-family: Arial, serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"><span lang=\"id-ID\">Pada Selasa, 12 Januari 2021 <\/span><\/span><\/span><span style=\"color: #222222;\"><span style=\"font-family: Arial, serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"><span lang=\"id-ID\">kasus positif terinfeksi Covid-19 bertambah sebanyak 10.047<\/span><\/span><\/span><\/span><span style=\"color: #222222;\"><span style=\"font-family: Arial, serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"><span lang=\"id-ID\">\u00a0\u00a0<\/span><\/span><\/span><\/span><span style=\"color: #222222;\"><span style=\"font-family: Arial, serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"><span lang=\"id-ID\">kasus menjadi<\/span><\/span><\/span><\/span><span style=\"color: #222222;\"><span style=\"font-family: Arial, serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"><span lang=\"id-ID\">\u00a0total <\/span><\/span><\/span><\/span><span style=\"color: #222222;\"><span style=\"font-family: Arial, serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"><span lang=\"id-ID\">846.765<\/span><\/span><\/span><\/span><span style=\"color: #222222;\"><span style=\"font-family: Arial, serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"><span lang=\"id-ID\">\u00a0<\/span><\/span><\/span><\/span><span style=\"color: #222222;\"><span style=\"font-family: Arial, serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"><span lang=\"id-ID\">kasus positif akumulatif.\u00a0Sedangkan pertambahan kasus meninggal, dari bertambah sebanyak 302 orang menjadi<\/span><\/span><\/span><\/span><span style=\"color: #222222;\"><span style=\"font-family: Arial, serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"><span lang=\"id-ID\">\u00a0<\/span><\/span><\/span><\/span><span style=\"color: #222222;\"><span style=\"font-family: Arial, serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"><span lang=\"id-ID\">24.645<\/span><\/span><\/span><\/span><span style=\"color: #222222;\"><span style=\"font-family: Arial, serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"><span lang=\"id-ID\">\u00a0<\/span><\/span><\/span><\/span><span style=\"color: #222222;\"><span style=\"font-family: Arial, serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"><span lang=\"id-ID\">orang. Tiga provinsi tertinggi pertambahannya adalah Jakarta 2.669 kasus, Jabar 1.540 kasus dan Jateng 1.323 kasus. <\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/p>\n<p align=\"justify\"><span style=\"font-family: Times New Roman, serif;\"><span style=\"font-size: small;\"><span style=\"font-family: Arial, serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"><span lang=\"id-ID\">Ditengah naiknya angka COVID-19 di Indoesia, semakin ramainya pembicaraan mengenai vaksin sangat mendominasi pembicaraan di media sosial akhir-akhir ini. Beredar gambar-gambar bertuliskan \u201cSaya siap divaksin\u201d namun juga ada yang mengatakan menolak divaksin. Rabu, 13 Januari 2021 Indonesia memulai momentum vaksin dengan Presiden Jokowi menerima vaksin pertama, dilanjutkan dengan tokoh-tokoh masyarakat lainnya. <\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/p>\n<p align=\"justify\"><span style=\"font-family: Times New Roman, serif;\"><span style=\"font-size: small;\"><span style=\"font-family: Arial, serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"><span lang=\"id-ID\"><b>Vaksin atau Terapi Plasma Konvalesen?<\/b><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/p>\n<p align=\"justify\"><span style=\"font-family: Times New Roman, serif;\"><span style=\"font-size: small;\"><span style=\"font-family: Arial, serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"><span lang=\"id-ID\">Muncul pertanyaan hari-hari ini adakah alternatif lain selain divaksin? Bagaimana dengan plasma konvalesen? Mari kita lihat kesamaan dan perbedaan keduanya. Kesamaan keduanya adalah sama-sama membangkitkan sistem imunitas tubuh manusia untuk bertahan dan menang terhadap paparan virus, bakteri, atau mikroba. <\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/p>\n<p class=\"western\" lang=\"id-ID\" align=\"justify\"><span style=\"font-family: Arial, serif;\">Imunisasi adalah proses proteksi atau perlindungan terhadap suatu penyakit. Imunisasi dibagi menjadi yaitu imunisasi aktif dan imunisasi pasif. Perbedaan keduanya ada pada hal ini. Vaksin adalah imunisasi aktif. Vaksin bekerja dengan <\/span><span style=\"color: #111111;\"><span style=\"font-family: Arial, serif;\">membuat tubuh aktif untuk membuat antibodi yang bersifat melindungi dan membangun resistensi untuk mencegah terjadinya infeksi dari bakteri, virus, atau mikroba penyebab sakit. Antibodi yang merupakan protein dalam darah akan mampu mengikat antigen dan menghancurkan virus, bakteri atau mikroba. Vaksin dapat melindungi dari terjadinya infeksi ulang atau reinfeksi untuk jangka waktu yang cukup panjang, tergantung dari masing-masing vaksin tentunya. Untuk vaksin COVID-19 masih diperlukan waktu yang panjang untuk menilai apakah booster diperlukan atau tidak nantinya. <\/span><\/span><\/p>\n<p align=\"justify\"><span style=\"font-family: Times New Roman, serif;\"><span style=\"font-size: small;\"><span style=\"font-family: Arial, serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"><span lang=\"id-ID\">Sedangkan plasma konvalesen sesungguhnya adalah imunisasi pasif. Artinya imunitas seseorang akan berkembang ketika diberikan antibodi dari orang lain melalui plasma darah orang yang sudah terinfeksi dan sembuh dari penyakit tersebut. Imunitas yang dihasilkan oleh plasma konvalesen tidak tahan lama. Bisa bertahan hanya dalam hitungan minggu hingga bulan. Tidak menjamin tubuh akan mampu melawan infeksi yang berulang. Hal ini membuat plasma konvalesen lebih cocok dijadikan terapi untuk orang yang telah terinfeksi agar tidak menjadi lebih berat dan menolong proses penyembuhannya. <\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/p>\n<p align=\"justify\"><span style=\"font-family: Times New Roman, serif;\"><span style=\"font-size: small;\"><span style=\"font-family: Arial, serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"><span lang=\"id-ID\"><b>Mana yang Lebih Baik?<\/b><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/p>\n<p align=\"justify\"><span style=\"font-family: Times New Roman, serif;\"><span style=\"font-size: small;\"><span style=\"font-family: Arial, serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"><span lang=\"id-ID\">Belum ada penelitian perbandingan yang valid antara keduanya. Dari sisi terapi jelas plasma konvalesen telah terbukti selama 100 tahun dalam melawan penyakit seperti Spanish Flu, pada 1918, flu babi, SARS dan MERS. Namun jelas fungsinya berbeda. Vaksin adalah untuk orang sehat yang belum terinfeksi dan plasma konvalesen saat ini adalah untuk terapi orang yang sudah terinfeksi COVID-19. <\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/p>\n<p class=\"western\" lang=\"id-ID\" align=\"justify\"><span style=\"font-family: Arial, serif;\">Pada terapi plasma konvalesen untuk COVID-19, menurut testimoni banyak dokter di seluruh dunia, mereka melihat pasien-pasien yang diberikan plasma konvalesen pada hari ketiga sakit membaik dengan sangat cepat dan pada orang-orang tua juga membuat penyakit mereka tidak bertambah memberat. Salah satunya adalah <\/span><span style=\"color: #000000;\"><span style=\"font-family: Arial, serif;\">\u00a0Larry Dumont, Direktur Research dan Scientific Programs dari Badan Donasi Darah Vitalant, Colorado mengatakan, pasien-pasien yang menerima transfusi plasma konvalesen sebagai <\/span><\/span><span style=\"color: #000000;\"><span style=\"font-family: Arial, serif;\"><i>\u201cLazarus patients\u201d.<\/i><\/span><\/span><span style=\"color: #000000;\"><span style=\"font-family: Arial, serif;\"> Ia melihat orang-orang sembuh dengan dramatis setelah menerima transfusi padahal datang dalam kondisi buruk. \u201cMereka datang dalam kondisi sangat buruk dan mereka diberikan transfusi lalu mereka berjalan meninggalkan rumah sakit dalam dua hari\u201d, demikian Larry mengatakan. Walaupun ia juga mengakui bahwa pengalamannya bukanlah bukti sains.<\/span><\/span><\/p>\n<p><em><img decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-49296 alignleft\" src=\"http:\/\/blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2014\/08\/Vera-Herlina.jpg\" alt=\"\" width=\"120\" height=\"120\" srcset=\"https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2014\/08\/Vera-Herlina.jpg 120w, https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2014\/08\/Vera-Herlina-90x90.jpg 90w\" sizes=\"(max-width: 120px) 100vw, 120px\" \/>dr. Vera Herlina,S.E.,M.M\/VMN\/BL\/Editor in Chief, Coordinating Partner of Management &amp; Technology Services, Vibiz Consulting<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(Business Lounge Journal &#8211; Medicine) Pada Selasa, 12 Januari 2021 kasus positif terinfeksi Covid-19 bertambah sebanyak 10.047\u00a0\u00a0kasus menjadi\u00a0total 846.765\u00a0kasus positif akumulatif.\u00a0Sedangkan pertambahan kasus meninggal, dari bertambah sebanyak 302 orang menjadi\u00a024.645\u00a0orang. Tiga provinsi tertinggi pertambahannya adalah Jakarta 2.669 kasus, Jabar 1.540 kasus dan Jateng 1.323 kasus. Ditengah naiknya angka COVID-19 di Indoesia, semakin ramainya pembicaraan mengenai vaksin sangat mendominasi pembicaraan di media sosial akhir-akhir ini. Beredar gambar-gambar bertuliskan \u201cSaya siap divaksin\u201d namun juga ada yang mengatakan menolak divaksin. Rabu, 13 Januari [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":48,"featured_media":177869,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_editorskit_title_hidden":false,"_editorskit_reading_time":0,"_editorskit_typography_data":[],"_editorskit_blocks_typography":"","_editorskit_is_block_options_detached":false,"_editorskit_block_options_position":"{}","om_disable_all_campaigns":false,"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"_uf_show_specific_survey":0,"_uf_disable_surveys":false,"footnotes":""},"categories":[1055],"tags":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/177861"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/48"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=177861"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/177861\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":177875,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/177861\/revisions\/177875"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/177869"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=177861"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=177861"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=177861"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}