{"id":175825,"date":"2020-09-25T18:03:44","date_gmt":"2020-09-25T11:03:44","guid":{"rendered":"https:\/\/www.blj.co.id\/?p=175825"},"modified":"2021-01-05T10:24:39","modified_gmt":"2021-01-05T03:24:39","slug":"sustainability-apakah-mungkin-profitable-di-indonesia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/2020\/09\/25\/sustainability-apakah-mungkin-profitable-di-indonesia\/","title":{"rendered":"Sustainability: Apakah mungkin profitable di Indonesia?"},"content":{"rendered":"<p><img decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-full wp-image-175829\" src=\"https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2020\/09\/Sustainability.jpg\" alt=\"\" width=\"1074\" height=\"483\" srcset=\"https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2020\/09\/Sustainability.jpg 1074w, https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2020\/09\/Sustainability-300x135.jpg 300w, https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2020\/09\/Sustainability-1024x461.jpg 1024w, https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2020\/09\/Sustainability-768x345.jpg 768w\" sizes=\"(max-width: 1074px) 100vw, 1074px\" \/><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Executive Summary:<\/p>\n<ul style=\"text-align: justify;\">\n<li>Apakah sustainability? Sebuah produk sustainable ialah sebuah produk yang memedulikan lingkungan, sosial, dan ekonomi.<\/li>\n<li>Aspek sosial cocok dengan masyarakat Indonesia, sementara aspek lingkungan tidak sepenuhnya.<\/li>\n<li>Demografi yang lebih peduli terhadap <em>sustainability<\/em> di Indonesia ialah generasi millenial dan gen z dengan status ekonomi menengah ke atas.<\/li>\n<li>Untuk melihat apakah <em>sustainability<\/em> cocok diimplementasikan, kita harus memperhatikan dan menilai produk dan usaha kita sendiri.<\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kata <em>sustainability<\/em> (keberlangsungan) sudah tidak asing lagi kita dengar. Apakah <em>sustainability<\/em> perlu kita implementasikan pada usaha kita? Apakah <em>sustainability<\/em> memiliki potensi untuk membawa keuntungan bagi usaha kita? Untuk menjawab pertanyaan ini kita harus memahami betul apa arti <em>sustainability<\/em>. Banyak orang tidak bisa membedakan antara sebuah <em>green product<\/em> dengan <em>sustainable product<\/em>, atau menganggap keduanya sama.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sebuah <em>green product<\/em> adalah sebuah produk yang meminimalisir atau menghilangkan dampak negatif dari produk tersebut terhadap lingkungan, sejak dari pembuatannya sampai kepada akhir dari <em>life cycle<\/em>-nya. Sedangkan, sebuah produk yang <em>sustainable<\/em> adalah sebuah produk yang yang berdampak positif terhadap 3 hal yang berada di sekitar usaha tersebut yaitu:<\/p>\n<ol style=\"text-align: justify;\">\n<li>Lingkungan: meminimalisir atau meniadakan dampak buruk terhadap lingkungan alam dalam produksi sampai akhir dari <em>life cycle<\/em> produk tersebut.<\/li>\n<li>Sosial: meningkatkan hajat hidup masyarakat sekitar.<\/li>\n<li>Ekonomi: menghasilkan keuntungan sehingga usaha dapat berjalan terus.<\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"text-align: justify;\">Setelah memahami definisi dari suatu produk atau usaha <em>sustainable<\/em>, sekarang kita dapat menganalisa apakah <em>sustainability<\/em> adalah suatu hal yang dapat membawa keuntungan bila diimplementasikan sebagai usaha di Indonesia.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pertama-tama mari kita melihat dari negara Indonesia sendiri. Aspek sosial dari <em>sustainability<\/em> dapat dinilai mudah diadopsi oleh masyarakat Indonesia. Pernyataan ini didukung oleh data dari CAF World Giving Index yang menunjukkan bahwa dalam 10 tahun terakhir ini masyarakat Indonesia termasuk di dalam 10 negara paling dermawan di dunia dan merupakan satu-satunya negara di dalam kelompok tersebut yang meningkat secara signifikan akhir-akhir ini. Tetapi bila kita melihat aspek lingkungan maka kita akan melihat hal yang berbeda.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Berbeda dengan mayoritas negara yang memprioritaskan keberlangsungan lingkungan, negara Indonesia ialah negara berkembang. Masyarakat yang tinggal di negara berkembang sering kali memiliki prioritas yang berbeda dengan yang tinggal di negara maju. Sejumlah orang Indonesia belum dapat memenuhi kebutuhan yang lebih mendasar seperti pendidikan tinggi, <em>healthcare<\/em>, dan lain-lain. Tidak mungkin bagi orang-orang tersebut untuk memikirkan hal seperti <em>sustainability<\/em>, tentu mereka akan menomorsatukan kebutuhan dasar mereka. Pemerintah Indonesia juga tentu lebih memprioritaskan peningkatan ekonomi dan pembangunan infrastuktur yang merata dibandingkan dengan <em>sustainability<\/em>, karena banyak rakyat Indonesia yang memerlukan pemerataan untuk mengurangi kesenjangan sosial.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Walaupun keadaan negara Indonesia sendiri tidak cocok dengan aspek lingkungan dari <em>sustainability<\/em>, saya mengobservasi bahwa budaya \u201cbarat\u201d ini tetap masuk ke Indonesia melalui globalisasi. Berbagai media <em>pop culture<\/em> barat, seperti contohnya layanan tayangan <em>streaming<\/em> Netflix terus menerus membombardir Indonesia dan banyak negara lain dengan nilai mereka sendiri. Sejalan dengan ini, demografi yang paling peduli terhadap <em>sustainability<\/em> ialah generasi yang paling banyak mengkonsumsi media populer barat, yaitu generasi millenial dan gen Z dengan kelas ekonomi menengah ke atas. Analisa ini didukung oleh sejumlah jurnal penelitian yang menemukan bahwa sejumlah signifikan pemuda menegah ke atas di kota besar merasakan kepuasan yang lebih ketika mengetahui produk yang digunakannya adalah produk <em>sustainable<\/em>, walaupun tidak menjadikan <em>sustainability<\/em> itu sendiri sebagai gaya hidup.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Melihat dari semua ini, dapatkah sebuah produk <em>sustainable<\/em> meraup keuntungan di Indonesia? Ya dan tidak. Sebagai pemilik usaha kita harus memahami dan menilai sendiri apakah usaha kita dapat menggunakan <em>sustainability<\/em> untuk mendapatkan keuntungan. Salah satu bagian dalam produk yang penting diperhatikan ialah target market, <em>sustainability<\/em> cocok diimplementasikan bila target market dari produk tersebut ialah:<\/p>\n<ul style=\"text-align: justify;\">\n<li>Generasi Millenial atau Gen Z<\/li>\n<li>Memiliki status ekonomi menengah ke atas<\/li>\n<li>Terpengaruhi atau menyukai budaya barat<\/li>\n<li>Tinggal di kota besar<\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"text-align: justify;\">Melihat <em>sustainability<\/em> juga seringkali hanya menambah kepuasan di Indonesia dan bukan merupakan gaya hidup, maka produk yang lebih cocok dengan <em>sustainability<\/em> di Indonesia ialah produk <em>low-involvement<\/em> seperti makanan, tempat liburan, fashion, dll. Terakhir, kita harus mengingat bahwa aspek sosiallah yang paling berdampak bagi masyarakat Indonesia, maka bila Anda memasarkan produk <em>sustainable,<\/em> Anda mungkin akan dapat tingkat keberhasilan lebih tinggi bila mengedepankan aspek sosial pada promosi dan pemasaran produk tersebut.<\/p>\n<p><em>Hezel Judah\/VMN\/BLJ<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Executive Summary: Apakah sustainability? Sebuah produk sustainable ialah sebuah produk yang memedulikan lingkungan, sosial, dan ekonomi. Aspek sosial cocok dengan masyarakat Indonesia, sementara aspek lingkungan tidak sepenuhnya. Demografi yang lebih peduli terhadap sustainability di Indonesia ialah generasi millenial dan gen z dengan status ekonomi menengah ke atas. Untuk melihat apakah sustainability cocok diimplementasikan, kita harus memperhatikan dan menilai produk dan usaha kita sendiri. Kata sustainability (keberlangsungan) sudah tidak asing lagi kita dengar. Apakah sustainability perlu kita implementasikan pada usaha kita? [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":27,"featured_media":175829,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_editorskit_title_hidden":false,"_editorskit_reading_time":0,"_editorskit_typography_data":[],"_editorskit_blocks_typography":"","_editorskit_is_block_options_detached":false,"_editorskit_block_options_position":"{}","om_disable_all_campaigns":false,"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"_uf_show_specific_survey":0,"_uf_disable_surveys":false,"footnotes":""},"categories":[16],"tags":[8441],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/175825"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/27"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=175825"}],"version-history":[{"count":5,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/175825\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":177663,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/175825\/revisions\/177663"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/175829"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=175825"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=175825"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=175825"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}