{"id":174549,"date":"2020-07-02T16:23:00","date_gmt":"2020-07-02T09:23:00","guid":{"rendered":"https:\/\/www.blj.co.id\/?p=174549"},"modified":"2020-08-03T10:12:26","modified_gmt":"2020-08-03T03:12:26","slug":"anda-gagal-anda-harus-menjadi-seorang-yang-resourceful","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/2020\/07\/02\/anda-gagal-anda-harus-menjadi-seorang-yang-resourceful\/","title":{"rendered":"Anda Gagal? Anda Harus Menjadi Seorang yang Resourceful!"},"content":{"rendered":"<p><img decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-full wp-image-174551\" src=\"https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2020\/07\/Resourceful-Human.jpg\" alt=\"\" width=\"1074\" height=\"483\" srcset=\"https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2020\/07\/Resourceful-Human.jpg 1074w, https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2020\/07\/Resourceful-Human-300x135.jpg 300w, https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2020\/07\/Resourceful-Human-768x345.jpg 768w, https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2020\/07\/Resourceful-Human-1024x461.jpg 1024w\" sizes=\"(max-width: 1074px) 100vw, 1074px\" \/><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">(Business Lounge Journal &#8211; Human Resources)<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Saya yakin bahwa semua orang pernah mengalami kegagalan dalam hidupnya dan kali ini saya ingin membahas mengenai kegagalan dalam sebuah tugas yang Anda kerjakan baik dalam perencanaan, dalam penjualan, atau sebuah proyek yang Anda lakukan. Sering kali masalah finansial, waktu, tenaga, atau skill menjadi alasan dari sebuah kegagalan. Saya tidak punya cukup waktu, saya tidak mempunyai koneksi, tidak ada kesempatan untuk saya, atau dana yang saya butuhkan tidak memadai, serta segudang alasan lainnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Bukan karena <em>Resources <\/em>tetapi karena Tidak <em>Resourceful<\/em><\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Baik finansial, waktu, tenaga, <em>skill<\/em> atau pun koneksi serta beberapa hal lainnya, itu semua merupakan <em>resources<\/em> atau sumber daya. Ini seringkali menjadi alasan dari ketidakberhasilan yang seakan membenarkan kita bahwa wajar saya mengalami gagal. Jika kita hanya bergantung pada apa yang kita miliki, maka ada segudang alasan yang akan menggiring kita pada sebuah kegagalan. Untuk mereka yang seperti ini, adalah wajar jika mereka kandas di tengah jalan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Mencoba mengaitkan pada situasi sekarang ini, mungkin ada beberapa kondisi yang terjadi dengan berbagai alasan. Mengapa <em>restaurant<\/em> itu tutup? Wajar, tidak ada lagi yang mau makan di situ. Mengapa toko pakaian itu gulung tikar? Wajar, siapa yang akan belanja baju pada masa sekarang ini? Mengapa <em>travel agent<\/em> itu berhenti beroperasi?\u00a0 Ya, wajarlah, siapa yang mau <em>traveling<\/em>? Memang selama 3 bulan kita ada pada masa pandemi ini, bisa kita lihat banyak yang terpaksa harus tutup. Beberapa usaha yang tetap berjalan lancar seperti bisnis yang terkait dengan kesehatan, alat-alat kesehatan, sembako, hiburan, pelatihan online.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Namun demikian saya ingin membahas bahwa sebenarnya bukan masalah <em>resources<\/em> maka seseorang menjadi gagal namun bagaimana pada kenyataannya mereka tidak <em>resourceful enough<\/em> untuk dapat mempertahankan keberlangsungan hidup mereka.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong><em>Resourceful Human<\/em> adalah si <em>Problem Solver<\/em><\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Secara harafiah <em>resourceful<\/em> dapat diartikan sebagai banyak akal serta memiliki persamaan arti dengan kata berbakat, kreatif, dan cerdas. Lalu yang menjadi lawan katanya adalah <em>unimaginative.<\/em> Sedangkan <em>resourceful human<\/em> adalah orang yang memiliki banyak akal atau banyak ide, serta <em>having the ability to find quick and clever ways to overcome difficulties.<\/em> Dengan kata lain, ia adalah seorang <em>problem solver<\/em>.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Saya ingin menggaris bawahi bahwa mereka yang termasuk dalam <em>resourceful human<\/em> dalam berbagai kondisi telah berhasil bertahan. Ada beberapa <em>startup<\/em> yang secara berani melakukan perubahan pada produk serta layanannya selama masa pandemi ini dan berdampak pada semakin berkembangnya bisnis yang ditekuninya. Belum lagi jika kita mengamati kehidupan sosial media sekarang ini yang penuh sekali dengan banyak konten yang dihasilkan para <em>creator<\/em> entah apa itu bentuknya. Dari yang iseng-iseng sampai yang benar-benar menghasilkan uang. Itu ramai sekali.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sehingga bagi mereka yang <em>resourceful<\/em>, kondisi pandemi ini justru mendatangkan hal-hal yang positif dalam berbagai aspek, termasuk bagaimana para pebisnis melakukan terobosan-terobosan pada beberapa bulan terakhir ini. Ternyata mereka yang <em>resourceful<\/em> dapat mengubah permasalahan yang ada menjadi sebuah kesempatan untuk berkembang.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Menjadi <em>resourceful human<\/em> pada masa-masa sulit, akan sangat menguntungkan. Bukan hanya bagi para pebisnis, namun Anda yang ingin keluar dari <em>comfort zone, <\/em>dapat melakukannya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Jika saat ini, Anda masih bekerja dari rumah dan Anda bukanlah seorang yang <em>resourceful<\/em>, maka sudah dapat dipastikan bahwa hari-hari Anda akan sangat membosankan dan Anda akan menjadi tidak produktif. Atau bila Anda sekarang sudah mulai bekerja dari kantor dengan segudang protokol yang harus diikuti, maka jika mereka yang tidak <em>resourceful enough<\/em> sudah dapat dipastikan tidak akan menjadi seorang yang di atas rata-rata.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Tiga Hal untuk menjadi <em>Resourceful Human<\/em><\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Zaman memang sudah berbeda. Jika Anda tidak memutuskan untuk menjadi seorang yang <em>resourceful<\/em>, maka bersiaplah untuk ketinggalan, untuk tersingkir, untuk tertindas. Begitu juga sebaliknya, jika semua karyawan yang dimiliki sebuah organisasi, sebuah perusahaan adalah <em>resourceful human<\/em>, maka dapat dipastikan perusahaan atau organisasi tersebut akan <em>survive<\/em> bahkan terus berkembang, sebab seorang yang <em>resourceful<\/em> akan sangat adaptif dengan perubahan yang ada.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ada banyak cara untuk dapat menjadi <em>resourceful <\/em>dan tiga hal ini dapat menolong Anda pada masa-masa ini:<\/p>\n<ol style=\"text-align: justify;\">\n<li><em>Open minded<\/em><\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8211; Mereka akan terbuka untuk segala kesempatan, saran, ide, dan tidak mau ada dalam <em>comfort zone.<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8211; Mereka yang <em>creative<\/em> dan berpikir <em>out of the box<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Untuk hal ini, maka sama sekali tidak bergantung pada <em>resources<\/em> yang ada. Tidak bergantung pada situasi dan kondisi.<\/p>\n<ol style=\"text-align: justify;\" start=\"2\">\n<li><em>Adaptive<\/em> dan <em>improvise<\/em><\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"text-align: justify;\">Beradaptasi haruslah disertai dengan improvisasi, sebuah kreatifitas yang akan membuat semakin maju. Seorang pelembar lembing dari Kenya, Julius Yego dikenal sebagai \u201cMr. Youtube\u201d. Ia tidak memiliki <em>resources<\/em> untuk menjadi atlet yang berhasil, karena keterbatasannya. Ia tidak punya pelatih, dia tidak punya klub untuk berlatih, namun ia tidak kehabisan akal. Dia pergi ke warnet beberapa kali dalam seminggu untuk melihat segala teknik melempar lembing dari youtube yang kemudian akan dipraktekkannya pada keesokan harinya dan begitu seterusnya. Selain itu ia terus melakukan improvisasi. Setelah beberapa tahun berlatih dengan metode tersebut, pada tahun 2011 dia mulai menjuarai kejuaraan di Afrika hingga pada tahun 2015 dia menjadi juara dunia.<\/p>\n<ol style=\"text-align: justify;\" start=\"3\">\n<li><em>Persistence<\/em><\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"text-align: justify;\">Semua yang Anda tekuni tanpa sebuah ketekunan, tidak akan berhasil. Milikilah sebuah keinginan yang kuat dan lakukanlah dengan ketekunan serta tidak gampang menyerah.<\/p>\n<p><img decoding=\"async\" class=\"alignleft wp-image-38337 size-full\" src=\"http:\/\/blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2014\/06\/ruth_revisi.jpg\" alt=\"ruth_revisi\" width=\"120\" height=\"120\" srcset=\"https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2014\/06\/ruth_revisi.jpg 120w, https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2014\/06\/ruth_revisi-90x90.jpg 90w\" sizes=\"(max-width: 120px) 100vw, 120px\" \/><em>Ruth Berliana\/VMN\/BL\/Editor in Chief Business Lounge Journal and Partner of Management &amp; Technology Services, Vibiz Consulting<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(Business Lounge Journal &#8211; Human Resources) Saya yakin bahwa semua orang pernah mengalami kegagalan dalam hidupnya dan kali ini saya ingin membahas mengenai kegagalan dalam sebuah tugas yang Anda kerjakan baik dalam perencanaan, dalam penjualan, atau sebuah proyek yang Anda lakukan. Sering kali masalah finansial, waktu, tenaga, atau skill menjadi alasan dari sebuah kegagalan. Saya tidak punya cukup waktu, saya tidak mempunyai koneksi, tidak ada kesempatan untuk saya, atau dana yang saya butuhkan tidak memadai, serta segudang alasan lainnya. Bukan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":26,"featured_media":174551,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_editorskit_title_hidden":false,"_editorskit_reading_time":0,"_editorskit_typography_data":[],"_editorskit_blocks_typography":"","_editorskit_is_block_options_detached":false,"_editorskit_block_options_position":"{}","om_disable_all_campaigns":false,"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"_uf_show_specific_survey":0,"_uf_disable_surveys":false,"footnotes":""},"categories":[4],"tags":[8357],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/174549"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/26"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=174549"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/174549\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":174553,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/174549\/revisions\/174553"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/174551"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=174549"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=174549"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=174549"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}