{"id":170751,"date":"2019-10-20T21:16:47","date_gmt":"2019-10-20T14:16:47","guid":{"rendered":"http:\/\/blj.co.id\/?p=170751"},"modified":"2019-10-28T15:27:01","modified_gmt":"2019-10-28T08:27:01","slug":"mimpi-bangsa-indonesia-di-tahun-2045","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/2019\/10\/20\/mimpi-bangsa-indonesia-di-tahun-2045\/","title":{"rendered":"Pidato Presiden Jokowi: Mimpi Bangsa Indonesia di Tahun 2045"},"content":{"rendered":"<p><img decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-170753 aligncenter\" src=\"http:\/\/blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2019\/10\/Pidato-Jokowi.jpg\" alt=\"\" width=\"1074\" height=\"483\" srcset=\"https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2019\/10\/Pidato-Jokowi.jpg 1074w, https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2019\/10\/Pidato-Jokowi-300x135.jpg 300w, https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2019\/10\/Pidato-Jokowi-768x345.jpg 768w, https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2019\/10\/Pidato-Jokowi-1024x461.jpg 1024w\" sizes=\"(max-width: 1074px) 100vw, 1074px\" \/><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">(Business Lounge Journal &#8211; News and Insight)<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Joko Widodo telah dilantik kembali untuk periode pemerintahannya yang kedua (2019 &#8211; 2024). Dalam pidatonya yang pertama ada beberapa hal penting yang disampaikannya:<\/p>\n<p><strong>Satu abad Indonesia merdeka<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Telah menjadi impian Bangsa Indonesia bahwa pada tahun 2045, Indonesia keluar dari jebakan\u00a0pendapatan kelas menengah dan menjadi\u00a0 negara maju dengan pendapatan Rp320 juta per\u00a0 kapita per tahun atau \u00a0Rp27 \u00a0juta per kapita per\u00a0\u00a0 bulan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Selain itu, Produk \u00a0Domestik Bruto Indonesia mencapai US$\u00a0 7 triliun dengan menempati 5 besar ekonomi dunia dengan kemiskinan mendekati nol persen. &#8220;Kita harus menuju ke sana.\u00a0Kita sudah hitung, sudah kalkulasi, target tersebut sangat \u00a0masuk \u00a0akal\u00a0\u00a0 dan\u00a0 \u00a0sangat \u00a0memungkinkan\u00a0untuk \u00a0kita\u00a0 capai,&#8221; demikian diucapkan Presiden Jokowi. &#8220;Namun, semua itu \u00a0tidak \u00a0datang otomatis, tidak datang dengan mudah. Harus disertai kerja keras dan kita harus kerja cepat, harus disertai kerja-kerja bangsa kita yang \u00a0produktif,&#8221; terang Presiden Jokowi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Mengembangkan nilai-nilai baru<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Presiden Jokowi mengingatkan bahwa dalam dunia yang penuh risiko, yang sangat dinamis, dan yang kompetitif, Bangsa Indonesia harus terus mengembangkan cara-cara baru, nilai-nilai baru sehingga tidak terjebak dalam rutinitas yang monoton. Presiden Jokowi pun mengajak Bangsa Indonesia untuk menjadikan inovasi menjadi budaya serta mendobrak rutinitas. &#8220;Meningkatkan produktivitas adalah hal lain yang menjadi prioritas. Jangan lagi kerja kita berorientasi proses, tapi harus berorientasi pada hasil-hasil\u00a0yang nyata,&#8221; demikian diucapkan Presiden Jokowi dalam pidatonya. &#8220;Saya sering ingatkan ke para menteri, tugas kita bukan hanya membuat dan melaksanakan\u00a0 kebijakan, tetapi \u00a0tugas kita adalah membuat masyarakat menikmati pelayanan, menikmati hasil pembangunan.&#8221; Sebagai contoh Presiden Jokowi menggambarkan\u00a0seperti ketika mengirim pesan melalui SMS atau WA, jika ada sent, artinya telah terkirim. Jika ada delivered, artinya telah diterima. Maka, tugas kita itu menjamin delivered, bukan \u00a0hanya menjamin sent.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Berada di puncak bonus demografi<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Presiden Jokowi menyadari bahwa saat ini, kita sedang berada di puncak bonus demografi, yaitu saat penduduk usia produktif jauh lebih tinggi dibandingkan usia tidak produktif. Ini\u00a0 adalah tantangan besar dan sekaligus juga sebuah kesempatan besar. Ini menjadi masalah besar jika kita tidak mampu menyediakan kesempatan kerja. Tapi akan menjadi kesempatan besar jika kita mampu membangun SDM yang unggul dengan didukung oleh ekosistem politik yang\u00a0 kondusif dan dengan ekosistem ekonomi yang \u00a0kondusif.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Lima hal yang akan dikerjakan dalam lima tahun kedepan<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pertama, pembangunan SDM akan menjadi prioritas utama. Membangun SDM yang pekerja \u00a0keras, yang dinamis. Membangun SDM yang terampil, menguasai \u00a0ilmu \u00a0pengetahuan dan teknologi. Mengundang talenta-talenta global untuk bekerja sama. Hal ini tidak bisa diraih dengan cara-cara lama, cara-cara baru harus dikembangkan dengan\u00a0<em>endowment fund<\/em> yang besar untuk manajemen SDM. Kerja sama dengan industri juga penting dioptimalkan dan juga penggunaan teknologi yang mempermudah jangkauan ke seluruh pelosok negeri.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kedua, pembangunan infrastruktur akan dilanjutkan. Infrastruktur yang menghubungkan kawasan produksi dengan kawasan distribusi, yang mempermudah akses ke kawasan wisata, yang mendongkrak lapangan kerja baru, yang mengakselerasi nilai tambah perekonomian rakyat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ketiga, segala bentuk kendala regulasi harus disederhanakan, harus dipotong, harus dipangkas. Pemerintah akan\u00a0 mengajak DPR untuk menerbitkan 2 undang-undang besar. Pertama, UU Cipta Lapangan Kerja. Kedua, UU Pemberdayaan UMKM. Masing-masing UU tersebut akan \u00a0menjadi Omnibus law, yaitu satu UU yang sekaligus merevisi beberapa UU, \u00a0bahkan puluhan UU. Puluhan UU yang menghambat penciptaan lapangan kerja langsung direvisi sekaligus. Puluhan UU yang menghambat pengembangan UMKM juga akan langsung direvisi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Keempat, penyederhanaan birokrasi harus terus dilakukan besar-besaran. Investasi untuk penciptaan lapangan kerja harus diprioritaskan. Prosedur\u00a0 yang\u00a0 \u00a0panjang \u00a0harus dipotong. \u00a0Birokrasi yang panjang harus dipangkas. Eselonisasi harus disederhanakan. Eselon I, eselon II, eselon III, eselon IV,\u00a0 diminta untuk disederhanakan menjadi 2 level saja, diganti dengan jabatan fungsional yang\u00a0 menghargai keahlian, menghargai kompetensi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kelima adalah transformasi ekonomi. Transformasi dari ketergantungan pada sumber daya alam menjadi daya saing manufaktur dan jasa modern yang mempunyai nilai tambah tinggi bagi kemakmuran bangsa demi \u00a0keadilan\u00a0 sosial bagi \u00a0seluruh \u00a0rakyat Indonesia.<\/p>\n<p style=\"text-align: center;\">\u201cPura babbara\u2019 sompekku\u2026 Pura \u00a0tangkisi\u2019 golikku\u2026\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: center;\">\u201cLayarku sudah terkembang\u2026 Kemudiku sudah terpasang\u2026\u201d<\/p>\n<p style=\"text-align: center;\">Kita bersama<\/p>\n<p style=\"text-align: center;\">Menuju Indonesia maju!!!<\/p>\n<p><em>Business Lounge Journal\/VMN\/BLJ<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(Business Lounge Journal &#8211; News and Insight) Joko Widodo telah dilantik kembali untuk periode pemerintahannya yang kedua (2019 &#8211; 2024). Dalam pidatonya yang pertama ada beberapa hal penting yang disampaikannya: Satu abad Indonesia merdeka Telah menjadi impian Bangsa Indonesia bahwa pada tahun 2045, Indonesia keluar dari jebakan\u00a0pendapatan kelas menengah dan menjadi\u00a0 negara maju dengan pendapatan Rp320 juta per\u00a0 kapita per tahun atau \u00a0Rp27 \u00a0juta per kapita per\u00a0\u00a0 bulan. Selain itu, Produk \u00a0Domestik Bruto Indonesia mencapai US$\u00a0 7 triliun dengan menempati [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":26,"featured_media":170753,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_editorskit_title_hidden":false,"_editorskit_reading_time":0,"_editorskit_typography_data":[],"_editorskit_blocks_typography":"","_editorskit_is_block_options_detached":false,"_editorskit_block_options_position":"{}","om_disable_all_campaigns":false,"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"_uf_show_specific_survey":0,"_uf_disable_surveys":false,"footnotes":""},"categories":[1050],"tags":[4611],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/170751"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/26"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=170751"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/170751\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":170755,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/170751\/revisions\/170755"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/170753"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=170751"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=170751"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=170751"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}