{"id":164251,"date":"2018-05-22T10:39:19","date_gmt":"2018-05-22T03:39:19","guid":{"rendered":"http:\/\/blj.co.id\/?p=164251"},"modified":"2019-12-03T11:37:09","modified_gmt":"2019-12-03T04:37:09","slug":"menangani-karyawan-di-comfort-zone","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/2018\/05\/22\/menangani-karyawan-di-comfort-zone\/","title":{"rendered":"Menangani Karyawan di Comfort Zone"},"content":{"rendered":"<p>&nbsp;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">(Business Lounge Journal &#8211; Human Resources)<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sebelum memaparkan cara menangani karyawan yang terjebak di zona nyaman, perlu kita pahami bahwa banyak juga karyawan yang memang loyal pada perusahaan. Karyawan yang sudah lama bekerja dan tetap menunjukkan antusias yang tinggi adalah karyawan yang loyal. Ya, secara harafiah loyalitas merupakan kesetiaan karyawan untuk terus menerus memberikan kontribusi terbaiknya kepada perusahaan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Jika kita sepakat arti dari loyaliats, maka kita juga sepakat bahwa karyawan yang telah bekerja lama bahkan terlalu lama namun kinerjanya cenderung biasa bahkan menurun, sebetulnya bukanlah karyawan yang memiliki loyalitas pada perusahaan. Kondisi ini tidak baik bagi perusahaan karena cepat atau lambat dapat menjadi potensi masalah bagi perusahaan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Nah, sekarang kita akan mulai membahas strategi apa yang sebaiknya kita lakukan untuk menangani kondisi nyaman pada karyawan senior. Langkah awal adalah perlunya kita cermati, apa yang menyebabkan kinerja karyawan menurun? Apakah karena usianya, kesehatannya yang terganggu atau hal lainnya yang lebih ke arah negatif seperti misalnya ketidakpuasannya terhadap pihak perusahaan termasuk pimpinannya atau manajemen agar kita tidak serta merta menilai karyawan tanpa data yang benar dan tepat. Lakukan pemetaan seperti contoh berikut:<\/p>\n<p>Penurunan kinerja karyawan senior yang disebabkan:<\/p>\n<div>* Usia senior &amp; kesehatan menurun<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">-&gt; perlu dicarikan pekerjaan yang tidak memerlukan banyak tenaga otot, pemikiran keras, resiko seminimal mungkin.<\/div>\n<div>\n<div>\n<div><\/div>\n<div>* Kejenuhan<\/div>\n<\/div>\n<div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<p>-&gt; perlu dilakukan rotasi\/perputaran kerja. Ciptakan dinamika kerja yang berkualitas dan mendatangkan keuntungan bagi perusahaan namun juga mengembangkan karyawan itu sendiri.Setelah kita mengetahui sumber masalah penurunan kinerja karyawan, barulah kita dapat menjalankan strategi untuk karyawan yang telah lama bekerja di perusahaan. Pada hakekatnya, apabila karyawan ada pada kondisi yang itu-itu saja dalam jangka waktu yang lama, mereka akan cenderung turun prestasinya.<\/p>\n<p>Beberapa solusi yang dapat dilakukan:<\/p>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">1. Berikan proyek khusus<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Mengingat mereka adalah karyawan lama yang sudah sangat paham SOP dan alur bisnis perusahaan maka untuk hal mendasar tidak perlu diajari lagi. Berikan proyek khusus yang dapat mengembangkan aktualisasi dirinya dan pengembangan perusahaan.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<div><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">2. Pilihan menjadi <em>trainer<\/em><\/div>\n<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Dengan pengalamannya, mereka dapat di-<em>assign<\/em> menjadi <em>trainer<\/em> bagi karyawan baru atau dalam rangka me-<em>refresh<\/em> SOP dan budaya perusahaan. Apalagi jika perusahaan memiliki beberapa cabang di daerah, mereka dapat di-<em>assign<\/em> melaksanakan tugas ini.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">3. Penawaran pensiun<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Apabila setelah melalui beberapa pertimbangan, tidak ada alternatif penempatan lain, maka karyawan tersebut dapat ditawarkan untuk mengambil program pensiun. Penjelasan mengenai jasa-jasanya terhadap perusahaan tetap perlu disampaikan dengan penghargaan dan rasa terimakasih. Namun demikian, kondisi saat ini dengan segala tuntutan terhadap kinerjanya yang tidak dapat dipenuhinya juga patut disampaikan sehingga strategi ini ditawarkan dengan penuh hormat dan semata-mata karena tuntutan saat ini.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">4. Tawaran menjadi eksternal\/independen konsultan<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Sekalipun telah pensiun, mereka dapat pula ditawarkan menjadi partner yang sewaktu-waktu diperlukan untuk penanganan proyek khusus perusahaan yang sesuai dengan kemampuannya.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Bagaimanapun perusahaan perlu karyawan yang loyal, manajemen perlu pandai-pandai mengolah mereka.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Semoga bermanfaat.<\/div>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em><img decoding=\"async\" class=\"wp-image-171361 size-full alignleft\" src=\"https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2018\/05\/Melva-Emsy-Simalango.png\" alt=\"\" width=\"120\" height=\"120\" \/>Melva Emsy Simalango\/VMN\/BL\/Partner in Management and Technology Services, Vibiz Consulting Group<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>&nbsp; (Business Lounge Journal &#8211; Human Resources) Sebelum memaparkan cara menangani karyawan yang terjebak di zona nyaman, perlu kita pahami bahwa banyak juga karyawan yang memang loyal pada perusahaan. Karyawan yang sudah lama bekerja dan tetap menunjukkan antusias yang tinggi adalah karyawan yang loyal. Ya, secara harafiah loyalitas merupakan kesetiaan karyawan untuk terus menerus memberikan kontribusi terbaiknya kepada perusahaan. Jika kita sepakat arti dari loyaliats, maka kita juga sepakat bahwa karyawan yang telah bekerja lama bahkan terlalu lama namun kinerjanya [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":101015,"featured_media":112943,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_editorskit_title_hidden":false,"_editorskit_reading_time":0,"_editorskit_typography_data":[],"_editorskit_blocks_typography":"","_editorskit_is_block_options_detached":false,"_editorskit_block_options_position":"{}","om_disable_all_campaigns":false,"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"_uf_show_specific_survey":0,"_uf_disable_surveys":false,"footnotes":""},"categories":[4],"tags":[3759],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/164251"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/101015"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=164251"}],"version-history":[{"count":7,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/164251\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":171715,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/164251\/revisions\/171715"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/112943"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=164251"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=164251"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=164251"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}