{"id":161175,"date":"2017-05-26T10:30:46","date_gmt":"2017-05-26T03:30:46","guid":{"rendered":"http:\/\/blj.co.id\/?p=161175"},"modified":"2017-06-02T11:22:39","modified_gmt":"2017-06-02T04:22:39","slug":"ngupil-itu-sehat","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/2017\/05\/26\/ngupil-itu-sehat\/","title":{"rendered":"Ngupil Itu Sehat?"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><img decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-161177 aligncenter\" src=\"http:\/\/blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2017\/05\/Mengupil.jpg\" alt=\"Mengupil\" width=\"1074\" height=\"483\" srcset=\"https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2017\/05\/Mengupil.jpg 1074w, https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2017\/05\/Mengupil-300x135.jpg 300w, https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2017\/05\/Mengupil-768x345.jpg 768w, https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2017\/05\/Mengupil-1024x461.jpg 1024w\" sizes=\"(max-width: 1074px) 100vw, 1074px\" \/><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">(Business Lounge Journal &#8211; Medicine)<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span class=\"cb-dropcap-small\">A<\/span>h yang benar? Rasanya tidak mungkin dibayangkan bagaimana mengupil itu \u00a0bisa dikatakan sehat. Seringkali kita melihat anak-anak mengupil dan pasti kita tegur dan menyuruh mereka berhenti mengupil. Apalagi pada beberapa anak juga ada kebiasaan memasukkan segala benda ke mulut. Setelah \u201cngupil\u201d tangan pun masuk ke mulut dan kotoran hidung pun dimakannya. Pemandangan sehari-hari bukan? Waktu kecil anak-anak memang tidak mengenal istilah \u201cjorok\u201d dari produk-produk kotoran tubuh.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Bagi kita yang dewasa, mungkin ada yang punya kebiasaan mengupil sebagai suatu habit yang tumbuh sejak kecil, namun bisa juga karena ada rasa tidak enak karena merasa adanya kotoran dalam hidung. Hidung berfungsi sebagai saringan udara yang kita hirup. Kalau udara yang kita hirup kotor maka warna kotoran hidung akan berwarna kehitaman. Kalau ada bakteri yang masuk maka warnanya bisa kuning atau kehijauan. Saya sendiri terbiasa membersihkan hidung dari kotoran hidung setiap hari pada saat mandi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Penelitian tentang mengupil<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span class=\"cb-dropcap-small\">M<\/span>au tahu apa kata peneliti tentang mengupil? Penelitian justru menunjukkan bahwa mengupil itu adalah kegiatan yang sehat yang bahkan perlu didukung dan ditumbuhkan menjadi <em>habit<\/em>. Bahkan bukan hanya mengupilnya tapi memakan kotoran hidung juga ternyata bermanfaat bagi kita, khususnya bagi pertumbuhan anak-anak. Menarik bukan? \u00a0Hal ini masih menjadi pro dan kontra.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Seorang peneliti bernama Katharina Ribbeck, asisten profesor di departemen teknik biologi di MIT, menemukan bahwa ingus mengandung lendir saliva yang membentuk penghalang terhadap bakteri penyebab infeksi rongga hidung. Periset bahkan sekarang mencari cara untuk membuat lendir sintetis yang bisa dijadikan permen karet atau pasta gigi untuk memberi manfaat yang sama. Terlebih lagi, ada bukti yang menunjukkan bahwa lendir dalam ingus bisa bertahan melawan infeksi saluran pernafasan, sakit maag, dan HIV. \u00a0Spesialis paru-paru Austria Prof Friedrich Bischinger percaya orang-orang yang mengupil lebih sehat, lebih bahagia, dan mungkin lebih selaras dengan tubuh mereka daripada yang lain. \u00a0&#8220;Memakan kotoran kering dari apa yang Anda tarik keluar adalah cara yang bagus untuk memperkuat sistem kekebalan tubuh. Secara medis itu masuk akal dan merupakan hal yang wajar untuk dilakukan&#8221;, katanya. &#8220;Dalam hal sistem kekebalan tubuh, hidung adalah filter dimana banyak bakteri dikumpulkan, dan saat campuran ini tiba di usus, ia bekerja seperti obat.&#8221; Dia percaya bahwa kita harus menyingkirkan stigma sosial seputar mengupil dan mengatakan bahwa orang tua seharusnya benar-benar mendorong anak-anak mereka untuk melakukannya. Kontra sebelumnya, Dr. Voigt menyatakan bahwa hidung itu penuh dengan kuman, terutama kuman Staphyllococcus Aureus yang sering bersarang di bulu hidung. \u00a0Jika mengupil maka bagian dalam hidung menjadi lecet, berdarah, dan menjadi tempat \u00a0kuman berkembang biak. Menurut Dr. Voigt, \u00a0bila terjadi lecet di hidung maka dapat memicu terjadinya mimisan karena pasokan darah ke hidung sangat kuat &#8211; ada lima arteri yang mengarah ke bagian depan hidung (pleksus kiesselbach) dan pada anak-anak pembuluh darah di hidung tipis, mudah berdarah. Pertanyaannya kalau Anda yang jadi orangtua, akankah Anda menganjurkan hal ini pada anak Anda? Ataukah Anda berniat mencobanya?<\/p>\n<p><a href=\"http:\/\/blj.co.id\/wp- content\/uploads\/2014\/08\/Vera-Herlina.jpg\"><img decoding=\"async\" class=\" size-full wp-image-49296 alignleft\" src=\"http:\/\/blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2014\/08\/Vera-Herlina.jpg\" alt=\"Vera Herlina\" width=\"120\" height=\"120\" srcset=\"https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2014\/08\/Vera-Herlina.jpg 120w, https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2014\/08\/Vera-Herlina-90x90.jpg 90w\" sizes=\"(max-width: 120px) 100vw, 120px\" \/><\/a><em>dr. Vera Herlina,S.E.,M.M\/VMN\/BL\/CEO of Management and Soft Skill Academies, Vibiz Consulting Group.<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(Business Lounge Journal &#8211; Medicine) h yang benar? Rasanya tidak mungkin dibayangkan bagaimana mengupil itu \u00a0bisa dikatakan sehat. Seringkali kita melihat anak-anak mengupil dan pasti kita tegur dan menyuruh mereka berhenti mengupil. Apalagi pada beberapa anak juga ada kebiasaan memasukkan segala benda ke mulut. Setelah \u201cngupil\u201d tangan pun masuk ke mulut dan kotoran hidung pun dimakannya. Pemandangan sehari-hari bukan? Waktu kecil anak-anak memang tidak mengenal istilah \u201cjorok\u201d dari produk-produk kotoran tubuh. Bagi kita yang dewasa, mungkin ada yang punya kebiasaan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":36,"featured_media":161177,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_editorskit_title_hidden":false,"_editorskit_reading_time":0,"_editorskit_typography_data":[],"_editorskit_blocks_typography":"","_editorskit_is_block_options_detached":false,"_editorskit_block_options_position":"{}","om_disable_all_campaigns":false,"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"_uf_show_specific_survey":0,"_uf_disable_surveys":false,"footnotes":""},"categories":[1055],"tags":[5561],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/161175"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/36"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=161175"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/161175\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":161181,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/161175\/revisions\/161181"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/161177"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=161175"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=161175"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=161175"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}