{"id":149689,"date":"2016-01-20T08:00:06","date_gmt":"2016-01-20T01:00:06","guid":{"rendered":"http:\/\/blj.co.id\/?p=149689"},"modified":"2016-01-19T17:46:31","modified_gmt":"2016-01-19T10:46:31","slug":"entrepreneurship-sebuah-trendkah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/2016\/01\/20\/entrepreneurship-sebuah-trendkah\/","title":{"rendered":"Entrepreneurship, Sebuah Trendkah?"},"content":{"rendered":"<div style=\"text-align: justify;\"><span lang=\"IN\">(Business Lounge Journal &#8211; Manage Your Business) &#8211; Indonesia dilanda demam <i>entrepreneur<\/i>. Jika beberapa dekade\u00a0 yang lalu lebih banyak orang memilih bekerja daripada menjadi pengusaha, maka jaman sekarang ini terbalik. Lebih banyak orang memilih untuk menjadi pengusaha daripada bekerja dengan orang lain, dengan kata lain lebih banyak yang\u00a0 mau jadi boss daripada jadi karyawan.<u><\/u><u><\/u><\/span><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><span lang=\"IN\"><u><\/u>\u00a0<u><\/u><\/span><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><span lang=\"IN\">Memang <i>entrepreneurship<\/i> patut ditanamkan sejak dini kepada generasi muda Indonesia agar berpikir kreatif dan mencari peluang. Bicara tentang peluang maka di bumi Indonesia yang kaya ini tidak pernah ada habisnya. Peluang ada dimana-mana, di segala sektor, di semua kota maupun desa. Indonesia sangat kaya dengan peluang bisnis dan memang masih terbilang anak bangsa yang memanfaatkan peluang ini.\u00a0 Maraklah akhir-akhir ini masyarakat memilih untuk menjadi <i>entrepreneur<\/i>, entah kecil-kecilan atau langsung bermodal besar bagi kalangan <i>the have.<u><\/u><u><\/u><\/i><\/span><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><span lang=\"IN\"><u><\/u>\u00a0<u><\/u><\/span><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><span lang=\"IN\">Seorang rekan saya yang bekerja di HRD sebuah bank mengatakan bahwa pada masa kini sulit mendapatkan karyawan baru yang <i>loyal.<\/i> Proses <i>recruitment<\/i> yang tidak mudah lebih banyak mendapatkan anak-anak kalangan \u201c<i>the have\u201d<\/i> yang ternyata hanya menjadikan pekerjaan mereka sebagai batu loncatan untuk mendapatkan pengalaman sebelum terjun dalam dunia bisnis ataupun sebelum melanjutkan bisnis orangtuanya.\u00a0 Akibatnya turn over perusahaan tinggi. Paling lama generasi milenia ini bekerja dua tahun saja. Jarang yang benar-benar ingin berkarier di perusahaan milik orang lain.<u><\/u><u><\/u><\/span><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><span lang=\"IN\"><u><\/u>\u00a0<u><\/u><\/span><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><span lang=\"IN\">Tanpa bermaksud mengurangi semangat para milenia, ada pandangan yang berkesan bahwa generasi milenia yang semangat berbisnis ini banyak yang\u00a0 belum siap mentalnya untuk berbisnis.\u00a0 Banyak di antara mereka yang didorong oleh keinginan untuk memiliki materi yang berlimpah, waktu kerja yang bisa diatur semaunya dan dengan kreatifnya mencari peluang bisnis. Namun tanpa kesiapan yang matang, bisnis pun tidak bertahan lama. Baru buka setahun dua tahun sudah ganti bisnis lain, coba mencoba terus hingga berkali-kali. \u00a0Lalu stress dan putus asa.<u><\/u><u><\/u><\/span><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><span lang=\"IN\"><u><\/u>\u00a0<u><\/u><\/span><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><span lang=\"IN\">Banyak orang mengatakan bahwa bisnis merupakan sesuatu yang susah-susah gampang. Beberapa mengatakan yang penting \u00a0berani untuk mulai saja dulu. Namun demikian menyiapkan sebuah bisnis dengan matang akan sangat menolong untuk memasuki pasar. Paling tidak\u00a0 untuk mempersiapkan sebuah bisnis\u00a0 tidak boleh terburu-buru. Terburu-buru pilih tempat jika tidak strategis tidak akan untung. Terburu-buru pilih supplier, ternyata masih banyak supplier yang menawarkan harga yang lebih rendah dengan produk yang lebih baik. Terburu-buru menawarkan ke pasar tanpa survei yang baik akan membuat produk terlanjur dikenal sebagai produk yang belum matang. Begitu pula dengan kesiapan merugi. Merugi di awal bisnis itu biasa. Jika merugi dapat diperhitungkan dengan baik hingga BEP maka masa merugi itu akan dapat dilalui dengan tetap berdiri tegak hingga datangnya masa menguntung. Namun jika tidak siap, maka bisnis akan tutup setelah setahun atau dua tahun dijalankan.<u><\/u><u><\/u><\/span><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><span lang=\"IN\"><u><\/u>\u00a0<u><\/u><\/span><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><span lang=\"IN\">Menjadi <i>entrepreneur <\/i>jangan hanya sekedar <i>trend<\/i> atau ikut-ikutan. Adalah lebih baik jika mengerjakan bisnis bukan semata-mata karena mengejar materi atau keuntungan yang banyak namun mengerjakannya dengan kesungguhan hati dan <i>passion<\/i> yang luarbiasa.\u00a0 Temukanlah \u201c<i>Why I am doing this business\u201d<\/i> maka itu akan menjadi suatu fondasi yang kuat untuk memperjuangkan bisnis Anda hingga berhasil walaupun harus melewati fase merugi ataupun melewati fase-fase mengembangkan usaha yang tentunya memerlukan kesabaran.<u><\/u><u><\/u><\/span><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><span lang=\"IN\"><u><\/u>\u00a0<u><\/u><\/span><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><span lang=\"IN\">Berbisnis tentu akan berhasil jika disertai mental yang gigih dan menemukan <i>why<\/i> yang tepat!<\/span><\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(Business Lounge Journal &#8211; Manage Your Business) &#8211; Indonesia dilanda demam entrepreneur. Jika beberapa dekade\u00a0 yang lalu lebih banyak orang memilih bekerja daripada menjadi pengusaha, maka jaman sekarang ini terbalik. Lebih banyak orang memilih untuk menjadi pengusaha daripada bekerja dengan orang lain, dengan kata lain lebih banyak yang\u00a0 mau jadi boss daripada jadi karyawan. \u00a0 Memang entrepreneurship patut ditanamkan sejak dini kepada generasi muda Indonesia agar berpikir kreatif dan mencari peluang. Bicara tentang peluang maka di bumi Indonesia yang kaya [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":48,"featured_media":147833,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_editorskit_title_hidden":false,"_editorskit_reading_time":0,"_editorskit_typography_data":[],"_editorskit_blocks_typography":"","_editorskit_is_block_options_detached":false,"_editorskit_block_options_position":"{}","om_disable_all_campaigns":false,"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"_uf_show_specific_survey":0,"_uf_disable_surveys":false,"footnotes":""},"categories":[1044,17,1051],"tags":[875,4949],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/149689"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/48"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=149689"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/149689\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":149691,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/149689\/revisions\/149691"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/147833"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=149689"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=149689"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=149689"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}