{"id":148905,"date":"2016-01-14T08:01:54","date_gmt":"2016-01-14T01:01:54","guid":{"rendered":"http:\/\/blj.co.id\/?p=148905"},"modified":"2016-01-26T07:03:20","modified_gmt":"2016-01-26T00:03:20","slug":"coaching-cara-unik-menuju-peningkatan-perfoma","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/2016\/01\/14\/coaching-cara-unik-menuju-peningkatan-perfoma\/","title":{"rendered":"Coaching, Cara Unik Menuju Peningkatan Perfoma"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">(Business Lounge Journal &#8211; Lead and Follow) Seorang pemimpin\u00a0 pada masa kini adalah seorang <em>coach<\/em>. Sudah lama teori <em>coaching<\/em> berkembang sebagai salah satu keterampilan manajemen yang memungkinkan organisasi untuk terlibat lebih jauh dalam pikiran karyawannya. Bahwa pemimpin bukan boss yang hanya memerintahkan melainkan seorang \u00a0mampu menggabungkan proses pembinaan dan perencanaan tindakan strategis dan taktis alamat perilaku individu, motivasi, dan perbaikan pribadi terkait.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Untuk itu tentu sebagai seorang <em>coach<\/em> diperlukan suatu kompetensi tertentu yang membuat seseorang memang layak menjadi seorang <em>coach.<\/em> Pelatihan-pelatihan <em>coaching<\/em> dan <em>mentoring <\/em>marak dilakukan di perusahaan-perusahaan dan konsep <em>coaching<\/em> dan mentoring menjadi suatu standar dalam \u00a0organisasi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Perbedaan antara <em>coaching<\/em> dan mentoring terletak pada kepentingannya. <em>Coaching<\/em> bersifat\u00a0 <em>task oriented<\/em>, dapat dilakukan jangka pendek dan menuntut <em>perfomance<\/em> dari orang yang di-<em>coaching<\/em>.\u00a0 Sedangkan <em>mentoring<\/em> tidak. <em>Mentor <\/em>lebih membangun <em>relationship <\/em>dengan <em>mentee-<\/em>nya dan juga lebih menuntut perkembangan <em>mentee <\/em>dari <em>perfomance. <\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Coaching<\/em> adalah cara yang unik untuk karyawan berinteraksi dengan atasannya. <em>Coach<\/em>\/pelatih memenuhi peran fasilitator untuk sepenuhnya memberdayakan sang karyawan. Setiap karyawan ada dalam berbagai sistem, baik pribadi dan profesional. Ini mempengaruhi bagaimana upaya pembinaan dilakukan, seperti halnya faktor-faktor lain, seperti budaya organisasi dan struktur, sumber daya yang tersedia, dan tujuan bisnis organisasi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Coaching<\/em> adalah unik dalam cara klien berinteraksi secara profesional: Pelatih memenuhi peran fasilitator untuk sepenuhnya memberdayakan anak buahnya. Prosesnya akan sangat terpengaruhi faktor-faktor lain, seperti budaya organisasi dan struktur, sumber daya yang tersedia, dan tujuan bisnis organisasi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pelatih dapat menciptakan suatu lingkungan untuk karyawan terus-menerus belajar. <em>Manager<\/em> dapat membantu karyawan berhasil menguasai alat-alat baru, program, atau proses kerja dengan menyediakan pengamatan kinerja dan umpan balik. Namun, banyak pekerjaan saat ini membutuhkan kompetensi yang lebih besar karena teknologi yang lebih kompleks yang terlibat. Karyawan membutuhkan pelatihan dan pembinaan untuk mengembangkan keterampilan untuk memenuhi tuntutan tinggi. Karyawan pada masa kini diharapkan untuk berpartisipasi dalam pemecahan masalah dan pengambilan keputusan dan menggunakan pikiran mereka untuk menyediakan layanan dan meningkatkan kualitas.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kompetensi<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pelatih harus fokus pada apa yang karyawan inginkan untuk mereka capai. Pelatih yang hebat berani membantu karyawannya bergerak maju.\u00a0 Beberapa kompetensi penting yang harus dimiliki seorang pelatih adalah:<\/p>\n<ol style=\"text-align: justify;\">\n<li>Kemampuan membangun <em>\u201ctrust\u201d<\/em> dengan karyawannya<\/li>\n<li>Mampu menyediakan waktu untuk membina<\/li>\n<li>Mampu berkomunikasi secara efektif, menjadi seorang pendengar yang baik, dan berkomunikasi langsung dengan karyawannya.<\/li>\n<li>Mampu untuk memfasilitasi proses belajar yang membawa hasil.\u00a0 Dalam hal ini seorang <em>coach<\/em> harus mampu untuk membangun <em>awareness<\/em>, mendesain action, membuat plan dan menetapkan target serta tujuan<\/li>\n<li>Mampu mengelola <em>progress <\/em>dari orang yang di-<em>coaching-<\/em>nya.<\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"text-align: justify;\">Jika ke-5 kompetensi ini ada pada seorang <em>coach,<\/em> maka diharapkan sang pelatih akan mampu untuk membawa orang yang dilatihnya mencapai perfoma yang diinginkan. Itulah keberhasilan seorang <em>coach!<\/em><\/p>\n<p><a href=\"http:\/\/blj.co.id\/wp- content\/uploads\/2014\/08\/Vera-Herlina.jpg\"><img decoding=\"async\" class=\" size-full wp-image-49296  alignleft\" src=\"http:\/\/blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2014\/08\/Vera-Herlina.jpg\" alt=\"Vera Herlina\" width=\"120\" height=\"120\" srcset=\"https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2014\/08\/Vera-Herlina.jpg 120w, https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2014\/08\/Vera-Herlina-90x90.jpg 90w\" sizes=\"(max-width: 120px) 100vw, 120px\" \/><\/a><em>Vera Herlina\/VMN\/BL\/CEO of Management and Soft Skill Academies, Vibiz Consulting Group.<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(Business Lounge Journal &#8211; Lead and Follow) Seorang pemimpin\u00a0 pada masa kini adalah seorang coach. Sudah lama teori coaching berkembang sebagai salah satu keterampilan manajemen yang memungkinkan organisasi untuk terlibat lebih jauh dalam pikiran karyawannya. Bahwa pemimpin bukan boss yang hanya memerintahkan melainkan seorang \u00a0mampu menggabungkan proses pembinaan dan perencanaan tindakan strategis dan taktis alamat perilaku individu, motivasi, dan perbaikan pribadi terkait. Untuk itu tentu sebagai seorang coach diperlukan suatu kompetensi tertentu yang membuat seseorang memang layak menjadi seorang coach. [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":48,"featured_media":148907,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_editorskit_title_hidden":false,"_editorskit_reading_time":0,"_editorskit_typography_data":[],"_editorskit_blocks_typography":"","_editorskit_is_block_options_detached":false,"_editorskit_block_options_position":"{}","om_disable_all_campaigns":false,"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"_uf_show_specific_survey":0,"_uf_disable_surveys":false,"footnotes":""},"categories":[1044,15,1051],"tags":[6590],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/148905"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/48"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=148905"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/148905\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":150569,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/148905\/revisions\/150569"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/148907"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=148905"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=148905"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=148905"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}