{"id":14373,"date":"2013-07-26T13:57:14","date_gmt":"2013-07-26T06:57:14","guid":{"rendered":"http:\/\/businesslounge.co\/?p=14373"},"modified":"2013-07-26T13:57:14","modified_gmt":"2013-07-26T06:57:14","slug":"iphone-4-senjata-mutakhir-apple","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/2013\/07\/26\/iphone-4-senjata-mutakhir-apple\/","title":{"rendered":"iPhone 4, Senjata Mutakhir Apple"},"content":{"rendered":"<p>(Business Lounge &#8211; Business Today) &#8211; Bukan rahasia kalau ketenaran Apple Inc berpangkal dari teknologi canggih dan serbabaru yang diusungnya. Namun, salah satu senjata paling potensial Apple justru sudah muncul sejak tiga tahun lampau.<\/p>\n<p>Ponsel iPhone 4, yang pertama kali dirilis pada 2010, menyokong penjualan produk Apple di pasar negara berkembang. Produk lawas ini membantu Apple menghadapi persaingan ketat dengan ponsel lain yang diperkuat perangkat lunak Android keluaran Google Inc.<\/p>\n<p><em>Smartphone<\/em> berusia tiga tahun ini mempertontonkan peran pentingnya, Selasa lalu. Saat itu, Apple melaporkan penjualan produk iPhone sebanyak 31,2 juta pada kuartal III tahun fiskalnya, yakni April-Juni 2013. Jumlah itu 20% lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya. Laporan penjualan iPhone itu juga 18% lebih tinggi dibandingkan perkiraan analis di angka 26,5 juta buah.<\/p>\n<p>Produk iPhone 5 masih memuncaki angka penjualan. Namun, kata Apple, permintaan iPhone 4 merupakan alasan kunci di balik kenaikan penjualan <em>smartphone<\/em> mereka.<\/p>\n<p>Penjualan model lama di pasar negara berkembang bukan strategi yang benar-benar baru bagi Apple. Strategi ini juga mengusung potensi pelemahan. Pasalnya, harga iPhone 4 yang lebih murah dapat mengusik margin laba kotor.<\/p>\n<p>Meski demikian, lepas dari citranya sebagai pemain pasar premium, Apple mengadopsi taktik yang lebih agresif untuk menjual <em>smartphone<\/em> lawas mereka. Targetnya di pasar-pasar dengan permintaan yang cepat bertumbuh. Selain itu, negara-negara itu mempunyai sejumlah besar konsumen yang sebelumnya tak pernah membeli <em>smartphone<\/em>.<\/p>\n<p>Tim Cook, <em>chief executive<\/em> Apple, mengatakan jumlah pengguna baru <em>smartphone <\/em>yang tertarik dengan iPhone 4 cukup menakjubkan. \u201cKami ingin menarik sebanyak mungkin pembeli seperti ini,\u201d katanya dalam sesi <em>conference call<\/em> dengan sejumlah analis, Selasa.<\/p>\n<p>Ponsel iPhone 4 juga mendorong pendapatan perusahaan berbasis Cupertino (California) itu, saat mereka tidak menawarkan model yang sanggup menarik pengguna yang baru pertama kali memakai <em>smartphone<\/em>.<\/p>\n<p>Menurut sejumlah narasumber, Apple telah merakit <em>smartphone<\/em> murah yang tampaknya bakal diperkenalkan tahun ini. Tak seperti iPhone 4 dan iPhone 4S yang memiliki layar lebih kecil, perangkat pintar berbiaya murah ini bakal seukuran iPhone 5, tetapi tanpa <em>casing<\/em> aluminium yang khas Apple.<\/p>\n<p>Juru bicara Apple menolak mengeluarkan komentar di luar pernyataan perusahaan sebelumnya.<\/p>\n<p>(FJ\/FJ-BL, WSJ)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(Business Lounge &#8211; Business Today) &#8211; Bukan rahasia kalau ketenaran Apple Inc berpangkal dari teknologi canggih dan serbabaru yang diusungnya. Namun, salah satu senjata paling potensial Apple justru sudah muncul sejak tiga tahun lampau. Ponsel iPhone 4, yang pertama kali dirilis pada 2010, menyokong penjualan produk Apple di pasar negara berkembang. Produk lawas ini membantu Apple menghadapi persaingan ketat dengan ponsel lain yang diperkuat perangkat lunak Android keluaran Google Inc. Smartphone berusia tiga tahun ini mempertontonkan peran pentingnya, Selasa lalu. [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":3,"featured_media":14374,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_editorskit_title_hidden":false,"_editorskit_reading_time":0,"_editorskit_typography_data":[],"_editorskit_blocks_typography":"","_editorskit_is_block_options_detached":false,"_editorskit_block_options_position":"{}","om_disable_all_campaigns":false,"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"_uf_show_specific_survey":0,"_uf_disable_surveys":false,"footnotes":""},"categories":[120],"tags":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/14373"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=14373"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/14373\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/14374"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=14373"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=14373"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=14373"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}