{"id":13997,"date":"2013-07-19T09:44:58","date_gmt":"2013-07-19T02:44:58","guid":{"rendered":"http:\/\/businesslounge.co\/?p=13997"},"modified":"2013-07-19T09:44:58","modified_gmt":"2013-07-19T02:44:58","slug":"bussiness-strategy-of-sq-singapore-airlines","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/2013\/07\/19\/bussiness-strategy-of-sq-singapore-airlines\/","title":{"rendered":"Bussiness Strategy Of SQ (Singapore Airlines)"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">(Business Lounge &#8211; Sales) &#8211; Singapore Airlines (SIA)\u00a0 merupakan\u00a0 salah satu maskapai penerbangan terbaik di dunia dengan penerbangan ke Eropa, Amerika Utara, serta Asia dan Australia. Penerbangan ke beberapa kota Asia Tenggara, Republik Rakyat Cina, dan India ditangani oleh SilkAir sedangkan kargonya ditangani oleh Singapore Airlines Cargo.\u00a0 Singapore Airlines\u00a0 adalah maskapai penerbangan nasional Singapura. Kode IATAnya adalah SQ sedangkan ICAOnya adalah SIA. Mengikuti tren pesawat dengan tarif murah (low-cost carrier), Singapore Airlines membuka Tiger Airways yang juga bermarkas di Bandara Internasional Changi Singapura.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Sejarah Singapore Airlines<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pembentukan Singapore Airlines bermula dari Malayan Airways Ltd. dan penerbangan perdananya dilaksanakan 1 Mei 1947. Pada saat itu, kota yang dilayani adalah Kuala Lumpur, Ipoh, dan Penang di Malaysia. Maskapai tersebut berkembang setelah usainya Perang Dunia II dan pada 1955, armadanya termasuk sejumlah besar pesawat DC-3.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pada 1963, terbentuk Federasi Malaysia yang mengubah maskapai menjadi Malaysian Airways. Pemisahan Singapura dari Federasi terjadi pada 1965 dan pada 1966 Malaysian Airways mengubah namanya menjadi Malaysia-Singapore Airlines.<br \/>\nOperasi MSA terhenti pada 1972 saat terjadi perselisihan pendapat antara kedua pihak. Malaysia lebih menekankan penerbangan domestik sedangkan Singapura memilih jalur internasional.<br \/>\nWalaupun terjadi pemisahan, para pramugari Singapore Airlines atau biasa disebut Singapore Girls tetap menggunakan baju kebaya<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Brand Image Singapore Airlines<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Perkembangan pesat terjadi di tahun 1970-an saat Singapore Airlines menghadirkan Boeing 747 dalam armadanya. Pada 1980-an, Amerika Serikat, Kanada, dan Eropa ditambahkan pada jaringan rute Singapore Airlines.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Tahun 2004, Singapore Airlines memulai perjalanan langsung dari Singapura ke Los Angeles dan New York (Bandara Internasional Newark Liberty. Maskapai ini juga sudah mempromosikan diri sebagai pengguna pertama pesawat Airbus A380 yang digunakan pada akhir 2006 untuk penerbangan antara Singapura, London, dan Sydney.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Brand image\u00a0\u00a0 Singapore Airlines adalah sebuah\u00a0\u00a0 penerbangan yang mewah , nyaman,\u00a0 dan service yang memuaskan dari\u00a0 pramugarinya. Saat ini brand Singapore Airlines dikenal di seluruh dunia ini dan menjadi sebuah brand yang cukup kompeten dalam industri\u00a0 penerbangan internasional.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Bisnis Strategi dari\u00a0 Singapore Airlines (SQ)<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">1.\u00a0 Singapore Airlines (SIA)\u00a0 memiliki\u00a0 Excellent Service by Singapore Girl yang di dalam promosinya selalu\u00a0 menonjolkan aura gadis cantik bernuansa oriental, anggun, ramah dengan\u00a0 mengenakan batik Melayu rancangan desainer Pierre Balmain dari Perancis<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">2. Inovasi yang kontinyu dalam\u00a0 services penerbangannya, meliputi :<br \/>\n&#8211; Personal entertainment system dan video on demand dalam setiap kursi, yang dikenal sebagai KrisWorld.<br \/>\n&#8211; Konfigurasi tempat duduk yang bisa dibentangkan dengan sempurna, sehingga penumpang bisa tidur dengan leluasa.<br \/>\n&#8211; Airbus-380, memperkenalkan kelas suite pertama dalam dunia penerbangan komersial, layaknya seperti ada di\u00a0 kamar hotel berbintang.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">3. Keunggulan teknologi<br \/>\nSingapore Airlines\u00a0 selalu menggunakan pesawat jenis baru untuk efisiensi biaya pemeliharaan dan reputasi sebagai maskapai penerbangan yang unggul.<br \/>\nKelebihan dari strategi pemasarannya,\u00a0\u00a0 Singapore Airlines selalu menjadi maskapai penerbangan perdana dari setiap jumbo set yang diproduksi Boeing maupun Airbus. Sebagai\u00a0 maskapai penerbangan perdana, maka Singapore Airlines\u00a0\u00a0 bisa mendapatkan\u00a0 publikasi gratis yang amat luas dari berbagai macam\u00a0 media massa di seluruh dunia. Keuntungan yang diperoleh\u00a0 Singapore Airlines\u00a0 terletak pada promosi gratis dan image sebagai maskapai penerbangan tercanggih.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dengan menerapkan strategi bisnis diatas maka maskapai penerbangan\u00a0 Singapore Airlines (SQ) pada saat ini\u00a0 dikenal sebagai salah satu maskapai penerbangan terbaik di dunia.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">(DK\/IC\/BL)<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Foto:plane10.blogspot.com<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(Business Lounge &#8211; Sales) &#8211; Singapore Airlines (SIA)\u00a0 merupakan\u00a0 salah satu maskapai penerbangan terbaik di dunia dengan penerbangan ke Eropa, Amerika Utara, serta Asia dan Australia. Penerbangan ke beberapa kota Asia Tenggara, Republik Rakyat Cina, dan India ditangani oleh SilkAir sedangkan kargonya ditangani oleh Singapore Airlines Cargo.\u00a0 Singapore Airlines\u00a0 adalah maskapai penerbangan nasional Singapura. Kode IATAnya adalah SQ sedangkan ICAOnya adalah SIA. Mengikuti tren pesawat dengan tarif murah (low-cost carrier), Singapore Airlines membuka Tiger Airways yang juga bermarkas di Bandara [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":3,"featured_media":24990,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_editorskit_title_hidden":false,"_editorskit_reading_time":0,"_editorskit_typography_data":[],"_editorskit_blocks_typography":"","_editorskit_is_block_options_detached":false,"_editorskit_block_options_position":"{}","om_disable_all_campaigns":false,"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"_uf_show_specific_survey":0,"_uf_disable_surveys":false,"footnotes":""},"categories":[16],"tags":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/13997"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=13997"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/13997\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/24990"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=13997"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=13997"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=13997"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}