{"id":1372,"date":"2013-02-25T14:54:26","date_gmt":"2013-02-25T07:54:26","guid":{"rendered":"http:\/\/wp.vibiznews.com\/?p=1372"},"modified":"2014-03-08T11:03:23","modified_gmt":"2014-03-08T04:03:23","slug":"kaizen-blitz-kaizen-quick-way","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/2013\/02\/25\/kaizen-blitz-kaizen-quick-way\/","title":{"rendered":"Kaizen Blitz, Kaizen Quick Way"},"content":{"rendered":"<p>(The Manager&#8217;s Lounge \u2013 Quality) Pendekatan Kaizen Blitz merupakan suatu teknik yang digunakan untuk mencapai peningkatan kinerja dengan cepat. Dasarnya memang dari pendekatan Kaizen, yang merupakan bahasa Jepang untuk `continuous improvement`. Sementara itu, `Blitz` yang sama dengan `flash` atau cahaya diumpamakan sebagai sesuatu yang terjadinya sangat cepat. Jadi,Kaizen Blitz merupakan pendekatan Kaizen yang dilakukan dengan cepat dan memberi hasil yang cepat.<\/p>\n<p>Kaizen Blitz, berupa proyek yang sifatnya jangka pendek dan bertujuan untuk meningkatkan suatu ptoses. Proyek Kaizen Blitz ini biasanya memakan waktu sekitar 2 hingga 10 hari. Sementara itu, Kaizen sendiri biasanya dilakukan selama berbulan-bulan dan kontinu.<\/p>\n<p>Langkah melakukan Kaizen Blitz tidak ada bedanya dengan Kaizen. Pada dasarnya, terdapat tiga fase utama:<\/p>\n<p>Pertama, fase Kaizen preparation, yakni menetapkan target dan ruang lingkup, memilih anggota tim cross functional yang tepat, mengalokasikan sumber daya untuk memastikan bahwa proses dapat diobservasi dan data lengkap, serta berkomunikasi dengan stakeholder.<\/p>\n<p>Kedua, fase Kaizen week, dimana tim mulai mengobservasi, mendesain ulang serta menguji metode baru setelah melalui siklus PDCA dan mengaplikasikan berbagai tools untuk menghilangkan waste.<\/p>\n<p>Ketiga, yakni fase follow up, dimana proses baru terus dimonitor kestabilannya. Tindakan-tindakan lain yang diperlukan juga diimplementasikan, serta menyerahkan continuous improvement seterusnya kepada manajer area.<\/p>\n<p>Kaizen Blitz punya beberapa keunggulan, antara lain:<br \/>\n\u2022 hasil yang diperoleh dalam waktu singkat (5 hari) dan SDM lebih sedikit (8 orang) sama saja dengan menaruh orang dengan jumlah yang sama dan durasi yang sama lalu ditambah 2 bulan.<br \/>\n\u2022 Keputusan diambil pada saat itu juga, setelah mengobservasi fakta dan mengujikan metode baru<br \/>\n\u2022 Tim cross functional memberikan perspektif yang berbeda-beda dalam melihat permasalahan, sehingga keputusan bisa lebih berkualitas<\/p>\n<p>Menurut Strategos, salah satu konsultan Kaizen Blitz, pendekatan ini juga mempunyai beberapa kelemahan yang berbahaya, diantaranya.<br \/>\n\u2022 Pelatihan bersifat dangkal, karena dalam tempo waktu yang sebentar tentunya kurang untuk mendalami segala prinsip, tradeoff dan desain metodologi dari Kaizen.<br \/>\n\u2022 Blitz menuntut hasil yang cepat, sehingga tidak memberikan waktu yang cukup untuk mengembangkan elemen-elemen hasil penting dari Lean Manufacturing. TQM saja, misalnya butuh waktu untuk memberikan hasil, dimana tim sendiri perlu waktu bulanan hingga tahunan untuk benar-benar berkembang.<br \/>\n\u2022 Ketika Kaizen Blitz hanya terfokus pada satu area, mungkin saja area itu jadi bagus, namun secara keseluruhan, proses masih tetap buruk. Hasil yang dicapai Kaizen jadi tidak optimal.<br \/>\n\u2022 Perlu diingat bahwa Kaizen Blitz bukanlah pengganti untuk strategi manufaktur. Strategi manufaktut haruslah menyeluruh dan disusun dengan matang.<\/p>\n<p>Sehingga, tantangan utama yang harus bisa dikuasai dalam Kaizen Blitz diantaranya adalah<br \/>\n\u2022 menentukan scope pekerjaan yang ingin dilakukan dalam kurun waktu 5 hari tersebut<br \/>\n\u2022 mendefiniskan project gemba, yakni `TKP` dimana suatu pekerjaan dilakukan dan dengan improvement kemudian jadi optimal.<br \/>\n\u2022 observasi proses secara langsung, mengidentifikasi waste, mobservasi hasil hingga mendokumentasikan dan mengontrol proses baru semuanya harus dilakukan dalam waktu sangat singkat yakni 5 hari saja.<br \/>\n\u2022 melihat dampak Kaizen Blitz secara menyeluruh, tidak hanya pada satu area saja. Jadi, konsekuensi dari Kaizen Blitz di area lain juga diukur.<\/p>\n<p>Di satu sisi, terdapat beberapa kasus kegagalan dalam Kaizen Blitz, namun kisah sukses juga ada. Pada sebuah perusahaan penerbangan, implementasi Kaizen Blitz yang salah justru mengakibatkan PHK, tingkat persediaan yang makin tinggi, struktur biaya mahal, hingga perubahan manajemen. Namun, jika Kaizen Blitz sukses, maka dapat menurunkan lead time dan jumlah persediaan, pabrik lebih teratur, produktivitas meningkat, kualitas membaik sehingga pelanggan pun makin puas.<\/p>\n<p>Intinya, Kaizen Blitz harus diimplementasikan dengan komitmen yang tinggi, didukung oleh tim yang berisikan orang-orang kompeten. Jangan hanya lihat manfaat dari Kaizen Blitz, melainkan pertimbangkan juga risiko-risiko yang terjadi dari setiap keputusan. See the big picture.<\/p>\n<p>(Rinella Putri\/RP\/TML)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(The Manager&#8217;s Lounge \u2013 Quality) Pendekatan Kaizen Blitz merupakan suatu teknik yang digunakan untuk mencapai peningkatan kinerja dengan cepat. Dasarnya memang dari pendekatan Kaizen, yang merupakan bahasa Jepang untuk `continuous improvement`. Sementara itu, `Blitz` yang sama dengan `flash` atau cahaya diumpamakan sebagai sesuatu yang terjadinya sangat cepat. Jadi,Kaizen Blitz merupakan pendekatan Kaizen yang dilakukan dengan cepat dan memberi hasil yang cepat. Kaizen Blitz, berupa proyek yang sifatnya jangka pendek dan bertujuan untuk meningkatkan suatu ptoses. Proyek Kaizen Blitz ini biasanya [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":3,"featured_media":1386,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_editorskit_title_hidden":false,"_editorskit_reading_time":0,"_editorskit_typography_data":[],"_editorskit_blocks_typography":"","_editorskit_is_block_options_detached":false,"_editorskit_block_options_position":"{}","om_disable_all_campaigns":false,"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"_uf_show_specific_survey":0,"_uf_disable_surveys":false,"footnotes":""},"categories":[19],"tags":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1372"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1372"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1372\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":27186,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1372\/revisions\/27186"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/1386"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1372"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1372"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1372"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}