{"id":135223,"date":"2015-10-09T09:42:15","date_gmt":"2015-10-09T02:42:15","guid":{"rendered":"http:\/\/blj.co.id\/?p=135223"},"modified":"2015-10-09T09:42:48","modified_gmt":"2015-10-09T02:42:48","slug":"berbisnis-chai-di-india-mungkinkah-mengikuti-kejayaan-starbucks","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/2015\/10\/09\/berbisnis-chai-di-india-mungkinkah-mengikuti-kejayaan-starbucks\/","title":{"rendered":"Berbisnis Chai di India Mungkinkah Mengikuti Kejayaan Starbucks?"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">(Business Lounge &#8211; Manage Your Business) Baru-baru ini, Bloomberg memuat hasil <em>research <\/em>yang dilakukan oleh Euromonitor International mengenai perbandingan jumlah konsumsi teh untuk Turki, Irlandia, Kuwait, UK, Pakistan, Russia, dan India untuk tahun 2014. Dari ke-7 negara tersebut maka Turki menduduki tempat yang pertama dengan jumlah konsumsi mencapai 3kg teh per kapita. Irlandia berada di tempat kedua dengan mengkonsumsi 2,1 kg per kapita. Perbedaan yang cukup jauh dengan Turki. Sedangkan di antarake-7 negara tersebut, India memiliki jumlah konsumsi teh yang paling rendah yaitu sekitar 0,3 kg per kapita. Sangat rendah dibandingkan dengan negara-negara lainnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Jeli Melihat Kesempatan Berbisnis<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">India memang tidak memiliki kebiasaan minum teh. Namun jika melihat data konsumsi teh pada tahun-tahun sebelumnya, maka nampak terjadi kenaikan sejak tahun 2007 hingga tahun 2014 yang mencapai\u00a0 sekitar 20%. Apalagi saat ini India sedang keranjingan ramuan minuman baru yang menggabungkan teh manis dan susu yang disebut chai. Hal ini serta merta menggerakkan para pengusaha untuk mulai membangun rumah-rumah teh. Hal seperti ini pernah terjadi ketika kopi masuk ke India dan membuat sebuah revolusi selama 15 tahun yang akhirnya membawa starbucks masuk ke India pada tahun 2012.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Namun kelihatannya t<span id=\"result_box\" class=\"\" lang=\"id\"><span class=\"hps\">eh<\/span> memiliki <span class=\"hps\">kesempatan<\/span> yang lebih <span class=\"hps\">besar daripada<\/span> <span class=\"hps\">kopi karena<\/span> perbandingan <span class=\"hps\">konsumsi<\/span> teh dan kopi adalah <span class=\"hps\">30<\/span> <span class=\"hps\">cangkir<\/span> berbanding 1 cangkir, demikian dikatakan seorang pemilik gerai teh dengan 12 cabang <span class=\"hps\">di dan sekitar<\/span> <span class=\"hps\">New Delhi seperti dilansir oleh Bloomberg<\/span>. <span class=\"hps\">Euromonitor<\/span> <span class=\"hps\">International<\/span> juga <span class=\"hps\">menunjukkan<\/span> <span class=\"hps\">data belanja<\/span> teh per <span class=\"hps\">kapita<\/span> <span class=\"hps\">di negara<\/span> <span class=\"hps\">kedua<\/span> <span class=\"hps\">terpadat<\/span> dunia ini mencapai <span class=\"hps\">USD<\/span><span class=\"hps\"> 1,7<\/span> <span class=\"hps\">per tahun<\/span> <span class=\"hps\">pada tahun 2014<\/span>, <span class=\"hps\">dibandingkan<\/span> <span class=\"hps\">USD 18<\/span> <span class=\"hps\">di Inggris<\/span>, menunjukkan adanya <span class=\"hps\">potensi<\/span> untuk berkembangnya bisnis minuman <span class=\"hps\">versi<\/span> <span class=\"hps\">premium<\/span>.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Fokus kepada yang Sudah Populer<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span class=\"\" lang=\"id\">Belajar dari kesuksesan Starbucks bagaimana perusahaan kopi tersebut menjadikan minuman yang memang sudah populer di Amerika tersebut sebagai komoditinya hanya dengan cara yang lebih baik, maka para pengusaha India pun dapat berpikir untuk menjual chai yang sudah lebih bagian dari budaya India guna mengikuti keberhasilan Starbucks. Tetapi memang teh yang ditawarkan pun harus semakin tinggi kualitasnya terutama untuk mereka yang berada di kelas menengah ke atas.<br \/>\n<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Meskipun penduduk India mengkonsumsi teh dalam jumlah yang kecil, namun jika digabungkan secara total maka tingkat konsumsi negara terbesar kedua di dunia ini pun mencapai terbanyak kedua setelah Tiongkok karena jumlah penduduknya semata-mata. Sehingga berbisnis chai dapat menjadi peluang yang sangat baik. Tetapi memang belum ada jaminan bahwa membuka gerai-gerai teh baru akan membawa teh dapat menyaingi Starbucks. Diperlukan <em>value proposition<\/em> yang lebih baik.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Daerah-daerah yang ditargetkan adalah lingkungan anak-anak muda yang mempunyai daya beli dan menyukai aktivitas nongkrong. Tantangan terbesar untuk bisnis ini akan dalam memilih lokasi yang menonjol yang memikat pelanggan sebab salah satu yang menjadi kendala di India adalah harga sewa yang tinggi untuk tempat-tempat tertentu di lingkungan real estate disewakan dengan harga tinggi sehingga membuatnya sulit untuk menghasilkan keuntungan, demikian seperti dilansir oleh Bloomberg.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Untuk mengulangi kejayaan Starbucks, maka berbisnis chai haruslah dirumuskan dengan menentukan <em>value proposition<\/em> yang berbeda.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">citra\/VMN\/BL\/Journalist<br \/>\nEditor: Ruth Berliana<br \/>\nImage : Business Lounge<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(Business Lounge &#8211; Manage Your Business) Baru-baru ini, Bloomberg memuat hasil research yang dilakukan oleh Euromonitor International mengenai perbandingan jumlah konsumsi teh untuk Turki, Irlandia, Kuwait, UK, Pakistan, Russia, dan India untuk tahun 2014. Dari ke-7 negara tersebut maka Turki menduduki tempat yang pertama dengan jumlah konsumsi mencapai 3kg teh per kapita. Irlandia berada di tempat kedua dengan mengkonsumsi 2,1 kg per kapita. Perbedaan yang cukup jauh dengan Turki. Sedangkan di antarake-7 negara tersebut, India memiliki jumlah konsumsi teh yang [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":36,"featured_media":131579,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_editorskit_title_hidden":false,"_editorskit_reading_time":0,"_editorskit_typography_data":[],"_editorskit_blocks_typography":"","_editorskit_is_block_options_detached":false,"_editorskit_block_options_position":"{}","om_disable_all_campaigns":false,"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"_uf_show_specific_survey":0,"_uf_disable_surveys":false,"footnotes":""},"categories":[1044,17,1051],"tags":[4949],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/135223"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/36"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=135223"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/135223\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":135251,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/135223\/revisions\/135251"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/131579"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=135223"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=135223"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=135223"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}