{"id":134309,"date":"2015-10-05T17:53:18","date_gmt":"2015-10-05T10:53:18","guid":{"rendered":"http:\/\/blj.co.id\/?p=134309"},"modified":"2015-10-05T17:53:18","modified_gmt":"2015-10-05T10:53:18","slug":"budaya-kerja-jerman-bekerja-pada-waktu-kerja","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/2015\/10\/05\/budaya-kerja-jerman-bekerja-pada-waktu-kerja\/","title":{"rendered":"Budaya Kerja Jerman: Bekerja pada Waktu Kerja"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">(Business Lounge &#8211; Empower People) Budaya kerja yang tercipta akan sangat identik dengan siapa yang mendirikan bisnis tersebut, di mana bisnis tersebut dioperasikan, apa yang melatarbelakangi berdirinya perusahaan tersebut, atau siapa yang bekerja pada perusahaan tersebut. Salah satu yang menarik untuk dapat dibahas kali ini adalah budaya kerja bangsa Jerman, seperti yang pernah dilansir oleh huffingtonpost.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Mengacu pada wikipedia maka jumlah jam kerja di Jerman adalah 25.6 jam per minggu atau sekitar 5 jam per hari. Hal ini membuat Jerman memiliki jumlah jam kerja terpendek dibandingkan negara-negara lainnya. Bandingkan dengan 40 jam per minggu untuk Indonesia. Namun demikian, tidak berarti bahwa produktivitas para pekerja Jerman lebih kecil dibandingkan yang lain. Bahkan bila dibandingkan dengan negara-negara lainnya di Eropa, maka Jerman termasuk <span class=\"hps\">lokomotif<\/span> <span class=\"hps\">industri Eropa<\/span>, <span class=\"hps\">dan merupakan produsen<\/span> <span class=\"hps\">terkemuka<\/span> <span class=\"hps\">barang untuk<\/span> <span class=\"hps\">ekspor ke<\/span> <span class=\"hps\">negara berkembang<\/span> <span class=\"hps\">Asia<\/span>. Pada tahun 2012,<span id=\"result_box\" class=\"\" lang=\"id\">\u00a0<span class=\"hps\">Jerman<\/span> tampil\u00a0<span class=\"hps\">menyelamatkan<\/span> <span class=\"hps\">zona euro<\/span> <span class=\"hps\">dari keruntuhan<\/span><span class=\"hps\">.<\/span> <span class=\"hps\">Berikut adalah beberapa budaya kerja yang dimiliki oleh pekerja Jerman yang dapat menjadi sebuah pembelajaran.<\/span><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span id=\"result_box\" class=\"\" lang=\"id\"><span title=\"Working Hours Mean Working Hours\n\"><strong>Jam Kerja Berarti Jam Kerja<\/strong><br \/>\n<\/span><span title=\"Upon further discussion, the Germans reveal that Facebook is not allowed in the office whatsoever, and no private email is permitted.\">Di Jerman tidak ada toleransi bagi para pekerja untuk melakukan hal-hal di luar pekerjaan ketika mereka berada di tempat kerja. Tidak ada Facebook, tidak ada email pribadi, tidak ada bergosip, dan tidak ada pembicaraan-pembicaraan yang tidak ada hubungannya dengan pekerjaan. Sebuah film dokumenter yang dipublikasikan <span class=\"hps\">BBC<\/span> dengan judul <span class=\"hps atn\">&#8220;<\/span>Make Me <span class=\"hps\">A<\/span> <span class=\"hps\">Jerman<\/span>&#8220;, <span class=\"hps\">seorang wanita<\/span> <span class=\"hps\">muda Jerman<\/span> <span class=\"hps\">menjelaskan<\/span> bagaimana dia terkejut <span class=\"hps\">ketika ia harus bekerja di sebuah bursa <\/span>pada negara lain yang juga masih berada di benua Eropa. Ia terkejut dengan mereka yang <span class=\"hps\">berbicara<\/span> <span class=\"hps\">sepanjang waktu tentang<\/span> <span class=\"hps\">hal<\/span> <span class=\"hps\">pribadi mereka, berbagai\u00a0<\/span><span class=\"hps\">rencana, <\/span>dan hal-hal pribadi lainnya.<br \/>\n<\/span><\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Berorientasi pada Tujuan, Komunikasi Langsung Lebih Diharapkan<\/strong><br \/>\nBudaya bisnis Jerman lebih berfokus dengan komunikasi langsung secara intens, jarang bertele-tele. Sering kali berbicara langsung kepada fokus tanpa adanya kata-kata pembuka. Mereka termasuk fokus dan rajin sehingga berpengaruh kepada produktivitas yang lebih tinggi dalam waktu yang lebih singkat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span id=\"result_box\" class=\"\" lang=\"id\"><strong><span class=\"hps\">Jerman<\/span> <span class=\"hps\">Memiliki<\/span> <span class=\"hps\">Kehidupan di Luar Jam Kerja<\/span><\/strong><br \/>\n<span class=\"hps\">Jerman<\/span> <span class=\"hps\">bekerja keras dan<\/span> <span class=\"hps\">bermain keras<\/span>. <span class=\"hps\">Sejak hari<\/span> <span class=\"hps\">kerja<\/span> <span class=\"hps\">difokuskan untuk memberikan<\/span> <span class=\"hps\">produktivitas<\/span> <span class=\"hps\">yang efisien<\/span>, <span class=\"hps\">jam<\/span> <span class=\"hps\">off<\/span> akan <span class=\"hps\">benar-benar<\/span> menjadi jam <span class=\"hps\">off<\/span>. <span class=\"hps\">Oleh karena suasana<\/span> kerja <span class=\"hps\">terfokus<\/span> pada <span class=\"hps\">lingkungan<\/span> <span class=\"hps\">bisnis secara formal, <\/span>maka <span class=\"hps\">karyawan<\/span> <span class=\"hps\">tidak serta merta melakukan\u00a0<\/span><span class=\"hps\"><em>hang out<\/em> bersama<\/span> <span class=\"hps\">setelah jam kerja<\/span>. Budaya <span class=\"hps\">Jerman<\/span> <span class=\"hps\">umumnya<\/span> <span class=\"hps\">menghargai<\/span> <span class=\"hps\">pemisahan antara<\/span> <span class=\"hps\">kehidupan pribadi<\/span> <span class=\"hps\">dan<\/span> <span class=\"hps\">kehidupan kerja<\/span>. Biasanya mereka akan menggunakan kesempatan berkumpul dengan komunitas mereka masing-masing sesuai dengan kepentingan mereka, misanya komunitas olahraga, bermain musik, paduan suara, dan sebagainya. Mereka lebih memilih untuk bersosialisasi di komunitas-komunitas tersebut daripada menonton TV di rumah.<br \/>\n<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span id=\"result_box\" class=\"\" lang=\"id\"><strong><span class=\"hps\">Bisnis<\/span> Mendahulukan Kepentingan sebagai Orang Tua<\/strong><br \/>\n<span class=\"hps\">Sistem<\/span> <span class=\"hps\">Jerman<\/span> <span class=\"hps\">Elternzeit<\/span> <span class=\"hps atn\">(<\/span><span class=\"hps atn\">&#8220;<\/span>waktu <span class=\"hps\">orangtua<\/span>&#8221; <span class=\"hps\">atau<\/span> <span class=\"hps\">cuti<\/span>) <span class=\"hps\">membuat<\/span><span class=\"hps\"> Jerman<\/span> <span class=\"hps\">memiliki<\/span> <span class=\"hps\">beberapa kebijakan<\/span> <span class=\"hps\">perlindungan<\/span> <span class=\"hps\">orangtua<\/span> <span class=\"hps\">yang paling luas<\/span> <span class=\"hps\">di negara maju<\/span>. Orang tua yang telah bekerja selama 12 bulan telah memenuhi syarat untuk mendapatkan manfaat Elternzeit, yang mencakup hingga tiga tahun <em>unpaid leave<\/em>.<br \/>\n<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kerajinan telah membawa para pekerja Jerman pada kehidupan kerja yang dikagumi. Hal yang dapat kita pelajari dari mereka adalah bagaimana waktu bekerja benar-benar dipisahkan dari waktu pribadi. Hal ini jelas akan meningkatkan produktifitas kerja sehari-hari.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>citra\/VMN\/BL\/Journalist<\/em><br \/>\nEditor: Ruth Berliana<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\n<p style=\"text-align: justify;\">\n<p style=\"text-align: justify;\">\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(Business Lounge &#8211; Empower People) Budaya kerja yang tercipta akan sangat identik dengan siapa yang mendirikan bisnis tersebut, di mana bisnis tersebut dioperasikan, apa yang melatarbelakangi berdirinya perusahaan tersebut, atau siapa yang bekerja pada perusahaan tersebut. Salah satu yang menarik untuk dapat dibahas kali ini adalah budaya kerja bangsa Jerman, seperti yang pernah dilansir oleh huffingtonpost. Mengacu pada wikipedia maka jumlah jam kerja di Jerman adalah 25.6 jam per minggu atau sekitar 5 jam per hari. Hal ini membuat Jerman [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":36,"featured_media":118981,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_editorskit_title_hidden":false,"_editorskit_reading_time":0,"_editorskit_typography_data":[],"_editorskit_blocks_typography":"","_editorskit_is_block_options_detached":false,"_editorskit_block_options_position":"{}","om_disable_all_campaigns":false,"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"_uf_show_specific_survey":0,"_uf_disable_surveys":false,"footnotes":""},"categories":[1044,4,1051],"tags":[4927],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/134309"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/36"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=134309"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/134309\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":170877,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/134309\/revisions\/170877"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/118981"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=134309"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=134309"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=134309"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}