{"id":1338,"date":"2013-07-11T10:32:29","date_gmt":"2013-07-11T03:32:29","guid":{"rendered":"http:\/\/wp.vibiznews.com\/?p=1338"},"modified":"2014-03-08T11:02:55","modified_gmt":"2014-03-08T04:02:55","slug":"memanfaatkan-prinsip-pareto-dalam-quality-management","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/2013\/07\/11\/memanfaatkan-prinsip-pareto-dalam-quality-management\/","title":{"rendered":"Memanfaatkan Prinsip Pareto dalam Quality Management"},"content":{"rendered":"<p>(Business Lounge \u2013 Quality) Salah satu prinsip yang paling terkenal di dunia manajemen, termasuk Quality Management adalah Prinsip Pareto. Keunggulan prinsip ini adalah dapat diaplikasikan secara universal di berbagai aspek bisnis.<\/p>\n<p>Sejarah Prinsip Pareto<br \/>\nSeorang ekonom asal Itali bernama Vilfredo Pareto pada awal tahun 1900-an menciptakan sebuah formula matematika yang menjelaskan mengenai perbedaan distribusi kekayaan di negaranya, dimana 20% orang menguasai 80% kekayaan.<\/p>\n<p>Selanjutnya, pada sekitar awal tahun 1940-an, Dr. Joseph M. Juran, yang juga melakukan observasi terhadap operasional bisnis, mengasosiasikan 80\/20 Rule kepada Pareto, dan menyebutnya dengan Prinsip Pareto. Hanya saja, pemberian nama ini banyak dianggap kurang tepat, bahkan American Society of Quality mengajukan nama ini menjadi Prinsip Juran, karena aplikasinya yang universal dan menjadikannya salah satu konsep terpenting dalam manajemen.<\/p>\n<p>Awalnya, Pareto menemukan bahwa 20% orang di Italia mendominasi 80% kekayaan di negara tersebut. Sementara, Dr. Juran menemukan bahwa 20% dari masalah cacat produk mengakibatkan 80% masalah produk. Selain itu, prinsip ini juga dapat diaplikasikan pada berbagai aspek bisnis lainnya, mulai dari karyawan, pelanggan, hingga persediaan, dimana sebagian kecil (20%) punya peran signifikan, sementara yang banyak (80%) justru tidak terlalu penting.<\/p>\n<p>Beberapa aplikasi dari Prinsip Pareto dalam dunia bisnis diantaranya adalah:<br \/>\n\u2022 20% dari persediaan menghabiskan 80% dari ruang gudang Anda<br \/>\n\u2022 80% dari item persediaan Anda datangnya dari 20% supplier<br \/>\n\u2022 80% dari penjualan merupakan kontribusi dari 20% salesperson<br \/>\n\u2022 20% karyawan mengakibatkan 80% masalah Anda<br \/>\n\u2022 20% karyawan memberi kontribusi terhadap 80% produksi<\/p>\n<p>Fokus Pada Prinsip Pareto<br \/>\nIntinya, dalam mengerjakan aktivitas apapun, perhatikan dan fokuslah pada Prinsip Pareto ini. Fokus pada aktivitas-aktivitas yang nampaknya minor namun perannya sangat penting dan mencapai sebagian besar dari hasil.<\/p>\n<p>Dalam Prinsip Pareto, aturannya adalah 80\/20, hanya saja ini bukanlah patokan mutlak untuk segala jenis aktivitas. Ini merupakan hasil observasi yang pada intinya adalah sebagian besar komponen tidak terdistribusi sama persis, melainkan beberapa lebih besar dari lainnya. Jumlahnya pun juga tidak harus 100, melainkan bisa 80\/10, 90\/20 dan lainnya.<\/p>\n<p>Prinsip ini membantu dalam menyadari bahwa sebagian besar hasil datangnya dari input yang kecil. Fokus pada kegiatan yang nampak kecil dan sedikit, namun punya dampak signifikan. Berikut ini adalah beberapa contoh aplikasi Prinsip Pareto dan tindakan yang dapat diambil:<\/p>\n<p>\u2022 10% dari karyawan menghasilkan 80% dari penjualan total. Artinya, perusahaan harus berfokus untuk lebih memberikan reward kepada 10% karyawan ini<br \/>\n\u2022 20% dari kerusakan mesin mengakibatkan kegagalan produksi sebanyak 80%. Artinya, fokus dulu dalam memperbaiki mesin yang rusak tersebut<br \/>\n\u2022 30% pelanggan berkontribusi terhadap 90% penjualan toko. Artinya, berupayalah untuk memuaskan pelanggan yang 30% tadi.<\/p>\n<p>Inti dari Prinsip Pareto adalah identifikasi dan focus pada kegiatan-kegiatan kecil yang memberikan hasil besar. Hanya saja, bukan berarti yang 80% tidak penting dan dilupakan, melainkan lebih focus kepada 20% tersebut. Dengan focus pada 20% tersebut, maka hasil yang dicapai akan jadi lebih optimal.<\/p>\n<p>(RP\/IC\/BL)<\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\"><a class=\"irc_hol irc_itl\" href=\"http:\/\/www.google.com\/url?sa=i&amp;rct=j&amp;q=&amp;esrc=s&amp;source=images&amp;cd=&amp;cad=rja&amp;docid=hWe-ghZMCPskUM&amp;tbnid=uI0cKCVXf-z_HM:&amp;ved=0CAQQjB0&amp;url=http%3A%2F%2Fwww.flickr.com%2Fphotos%2Faldoaldoz%2F2340226779%2F&amp;ei=14tJUsaqAcKFrAfG9ID4CA&amp;psig=AFQjCNEi1G1aHysBnmFKRPGkGnkuzCeIjg&amp;ust=1380637987790554\" data-ved=\"0CAQQjB0\"><span class=\"irc_ho\" style=\"color: #000000;\">Pic: www.flickr.com<\/span><\/a><\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(Business Lounge \u2013 Quality) Salah satu prinsip yang paling terkenal di dunia manajemen, termasuk Quality Management adalah Prinsip Pareto. Keunggulan prinsip ini adalah dapat diaplikasikan secara universal di berbagai aspek bisnis. Sejarah Prinsip Pareto Seorang ekonom asal Itali bernama Vilfredo Pareto pada awal tahun 1900-an menciptakan sebuah formula matematika yang menjelaskan mengenai perbedaan distribusi kekayaan di negaranya, dimana 20% orang menguasai 80% kekayaan. Selanjutnya, pada sekitar awal tahun 1940-an, Dr. Joseph M. Juran, yang juga melakukan observasi terhadap operasional bisnis, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":3,"featured_media":17832,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_editorskit_title_hidden":false,"_editorskit_reading_time":0,"_editorskit_typography_data":[],"_editorskit_blocks_typography":"","_editorskit_is_block_options_detached":false,"_editorskit_block_options_position":"{}","om_disable_all_campaigns":false,"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"_uf_show_specific_survey":0,"_uf_disable_surveys":false,"footnotes":""},"categories":[19],"tags":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1338"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1338"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1338\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":26849,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1338\/revisions\/26849"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/17832"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1338"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1338"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1338"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}