{"id":128220,"date":"2015-08-29T10:08:08","date_gmt":"2015-08-29T03:08:08","guid":{"rendered":"http:\/\/businesslounge.co.id\/?p=128220"},"modified":"2015-08-29T10:08:08","modified_gmt":"2015-08-29T03:08:08","slug":"ekonomi-dunia-jatuh-india-jadi-sasaran-penjualan-produk-mewah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/2015\/08\/29\/ekonomi-dunia-jatuh-india-jadi-sasaran-penjualan-produk-mewah\/","title":{"rendered":"Ekonomi Dunia Jatuh \u2013 India Jadi Sasaran Penjualan Produk Mewah"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">(Business Lounge &#8211; Global News)\u00a0Sementara pertumbuhan penjualan di Tiongkok\u00a0dan pasar besar lainnya melambatnya, pembuat barang-barang mewah mencari keuntungan ditempat-tempat dimana kekayaan tumbuh. Daerah yang mereka incar merupakan bagian yang sering tak terduga, yaitu India, dengan\u00a0tingkat konsumen yang berkembang untuk merek-merek mewah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Perburuan Orang-orang Kaya<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dalam perburuan pelanggan ini, banyak <em>brand<\/em> besar yang mengirimkan nama mereka ke jantung India, karena mereka berusaha untuk menjual tas, sepatu hak tinggi, dan barang glamor lainnya di India. Tidak hanya di kota-kota besar, sebagian besar kota-kota kecil di India merupakan daerah tempat\u00a0orang-orang kaya berada dan hal ini merupakan kunci tempat\u00a0industri mulai berkembang.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Jumlah\u00a0rumah tangga jutawan di India memiliki\u00a0pendapatan 250 juta rupee (USD 3,8 juta) angka ini tumbuh sebesar 17% dari tahun 2014 ke 2015. Angka tersebut diperkirakan akan meningkat lebih dari tiga kali lipat dengan 348.000 rumah tangga selama lima tahun ke depan, menghasilkan kekayaan bersih gabungan senilai 415 triliun rupee.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Fashion Mewah Menjadi yang Utama di India<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sanjay Kapoor, direktur menager dari Genesis Luxury Fashion Pvt. Ltd. menyampaikan bahwa adanya permintaan untuk produk mewah disebabkan oleh keinginan orang untuk terlihat lebih baik dan merasa lebih baik. Sebuah perusahaan yang menjual merek-merek mewah seperti Canali, Furla, Burberry dan Jimmy Choo di India menyadari tren tersebut dan tidak ingin melewati kesempatan ini.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kebiasaan berbelanja di India semakin mirip dengan rekan-rekan mereka di Eropa atau AS. Wanita India, baik muda maupun tua, menikmati tas Judith Leiber karena produk mereka sangat serasi dengan gaun India formal yang cenderung berwarna cerah dan dibordir dengan mewah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sepatu, jam tangan, dan tas merupakan produk populer di kalangan konsumen India yang kaya. Tetapi jenis barang-barang mewah lain masih sulit untuk dijual. Banyak orang India lebih memilih pakaian tradisional dibandingkan pakaian Barat. Begitu pula dengan perhiasan, konsumen India lebih mengikuti tradisi lokal, dari pada selera internasional.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Tidak ada larangan di India terhadap barang-barang yang terbuat dari kulit, meskipun di beberapa bagian negara ada larangan terhadap konsumsi daging sapi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Tetap Ada Permasalahan<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Namun, ada hambatan dalam mendirikan toko-toko mewah yang menjual merek-merek tersebut di lapisan kota kedua. Beberapa penjual mengatakan tidak ada mal yang cukup bagus. Bea impor dan pajak barang mewah dikenakan pada barang-barang kelas atas, mendorong warga India untuk berbelanja di luar negeri.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Menghampiri Lebih Menguntungkan dari Dihampiri<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Judith Leiber, yang memiliki toko di Delhi dan Mumbai, memperkirakan bahwa hampir sepertiga dari penjualan di India berasal dari <em>trunk shows<\/em>. <em>Trunk shows<\/em> merupakan sebuah acara di mana vendor barang dagangan hadir langsung ke personil toko atau pelanggan di lokasi ritel atau tempat lain seperti kamar hotel. Kebanyakan desainer mengikuti model <em>trunk shows<\/em> karena pembeli kaya yang melakukan pembelian merek mahal untuk pertama kalinya lebih memilih untuk berbelanja secara diam-diam dan kurang menekan, dan mereka tidak perlu melakukan perjalanan ke butik kota besar.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Peningkatan Pada Pasar Mewah<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Perusahaan riset <em>Euromonitor <\/em>memprediksikan bahwa pasar mewah di India akan mengalami peningkatan lebih dari dua kali lipat menjadi USD 5,6 miliar pada tahun 2019. Angka ini masih tergolong kecil bila dibandingkan dengan penjualan senilai USD 23 miliar di Cina tahun lalu.\u00a0 Akan tetapi penjualan di Cina berkembang dengan pesat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Penjualan barang mewah di India pada tahun 2014 naik sebanyak 25% dari tahun sebelumnya, dibandingkan dengan kenaikan 7% di Tiongkok.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Alvin Wiryo Limanjaya\/VMN\/BL\/Contributor<\/em><br \/>\nEditor: Ruth Berliana<br \/>\nImage: Antara<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(Business Lounge &#8211; Global News)\u00a0Sementara pertumbuhan penjualan di Tiongkok\u00a0dan pasar besar lainnya melambatnya, pembuat barang-barang mewah mencari keuntungan ditempat-tempat dimana kekayaan tumbuh. Daerah yang mereka incar merupakan bagian yang sering tak terduga, yaitu India, dengan\u00a0tingkat konsumen yang berkembang untuk merek-merek mewah. Perburuan Orang-orang Kaya Dalam perburuan pelanggan ini, banyak brand besar yang mengirimkan nama mereka ke jantung India, karena mereka berusaha untuk menjual tas, sepatu hak tinggi, dan barang glamor lainnya di India. Tidak hanya di kota-kota besar, sebagian besar [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":36,"featured_media":61071,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_editorskit_title_hidden":false,"_editorskit_reading_time":0,"_editorskit_typography_data":[],"_editorskit_blocks_typography":"","_editorskit_is_block_options_detached":false,"_editorskit_block_options_position":"{}","om_disable_all_campaigns":false,"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"_uf_show_specific_survey":0,"_uf_disable_surveys":false,"footnotes":""},"categories":[1044,120],"tags":[5787,457],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/128220"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/36"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=128220"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/128220\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":128222,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/128220\/revisions\/128222"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/61071"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=128220"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=128220"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=128220"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}