{"id":127326,"date":"2015-08-24T07:19:38","date_gmt":"2015-08-24T00:19:38","guid":{"rendered":"http:\/\/businesslounge.co.id\/?p=127326"},"modified":"2015-08-24T08:12:03","modified_gmt":"2015-08-24T01:12:03","slug":"para-pelajar-enggan-menjadi-geek-pada-industri-it-di-amerika","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/2015\/08\/24\/para-pelajar-enggan-menjadi-geek-pada-industri-it-di-amerika\/","title":{"rendered":"Para Pelajar Enggan Menjadi \u2018Geek\u2019 pada Industri IT di Amerika"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">(Business Lounge &#8211; Global News) Adanya persepsi bahwa pekerja teknologi disebut sebagai &#8220;<em>geeks<\/em>&#8221; bukanlah hal yang baru. Kata <em>geeks <\/em>pada\u00a0\u00a0awalnya digunakan untuk menggambarkan orang yang eksentrik atau <em>non-mainstream. <\/em>Namun saat ini digunakan untuk menggambarkan\u00a0seorang ahli atau penggemar atau orang terobsesi dengan hobi atau mengejar intelektual, dengan makna yang negatif karena\u00a0dianggap terlalu intelektual. Walaupun dalam beberapa kesempatan, kata ini juga dapat dipakai menjadi\u00a0sumber kebanggaan karena maknanya telah berkembang ke konotasi &#8220;seseorang yang tertarik pada sesuatu subjek (biasanya dalam intelektual atau kompleks) untuk kepentingan diri sendiri&#8221;.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Enggan Masuk Perguruan Tinggi<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Saat ini di Amerika terjadi sebuah fenomena bagaimana para orang muda yang memiliki kemampuan lebih dalam ilmu pengetahuan justru melewatkan kesempatan untuk melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi dan\u00a0memilih untuk mengejar keinginannya menjadi pemain basket profesional untuk mendapatkan uang yang banyak.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pada tahun 2015 dapat dikatakan bahwa orang-orang muda di Amerika lebih berkecenderungan untuk memilih membangun usaha-usaha mengikuti jejak \u201cFacebook Inc.\u201d atau bergabung dengan kelompok basket NBA daripada melanjutkan ke perguruan tinggi . Mereka memiliki persepsi bahwa para pekerja teknologi (terutama mereka yang bekerja pada bidang IT) sebagai &#8220;geeks&#8221;. Anak muda Amerika untuk lebih tertarik menjadi pengguna teknologi daripada menjadi pencipta. Persepsi tersebutlah yang menjadi alasan utama mengapa terjadi ketidak seimbangan dalam industri teknologi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dari sebuah proyek yang dilakukan oleh CNN maka dapat ditarik kesimpulan bahwa\u00a0pekerja teknologi memang dianggap sebagai <em>geeks<\/em> dan kebanyakan <em>geeks<\/em> adalah\u00a0laki-laki!\u00a0Sebuah survei yang dilakukan oleh <em>Stevens Institute for Technology<\/em>\u00a0mungkin dapat membantu menjelaskan\u00a0mengapa.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Pembimbing Geek <\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Stevens Institute for Technology<\/em>\u00a0melakukan sebuah survei yang meneliti bagaimana di New Jersey para pembimbing yang memiliki kualitas mendidik yang baik memahami karir di bidang STEM (<em>Science, Technology, Engineering, and Mathematics<\/em>). Mereka ini dapat memiliki pengetahuan tersebut dengan beberapa\u00a0cara, yaitu mendapatkan langsung dari karir teknologi mereka, mengandalkan hanya pada informasi yang diperoleh dari sesama guru, melalui pelaksanaan lokakarya pengembangan profesional dan media untuk membentuk opini tentang pekerjaan teknologi. Rata-rata sebanyak 87% dari mereka mengatakan bahwa mereka tidak meluangkan waktu untuk memberikan arahan karir kepada\u00a0para\u00a0siswa mereka dalam bidang STEM.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>The College Board Advocacy<\/em> dan <em>Policy Center<\/em> beberapa tahun yang lalu bertanya kepada 5.300 sekolah menengah dan pembimbing sekolah tinggi mengenai peran mereka. Hanya 42% dari konselor sekolah tinggi yang mengalokasikan waktu untuk &#8220;konseling kerja dan penempatan kerja.&#8221; Selain itu\u00a095% dari pembimbing mengatakan mereka akan sangat beruntung bila mendapatkan &#8220;dukungan tambahan&#8221; dalam pekerjaan mereka.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Menurut Pusat Pendidikan Statistik Nasional dari Departemen Pendidikan Amerika Serikat, terdapat 98.328 sekolah umum di Amerika. CompTIA, sebuah organisasi sertifikasi industri, melaporkan ada 6,5 juta pekerja teknologi profesional di Amerika. Bila dirata-ratakan maka seharusnya ada sekitar 66 pekerja teknologi yang tersedia untuk setiap sekolah umum di Amerika Serikat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Bertambahnya Calon Pekerja IT yang Berada di Bawah Bimbingan Para Geek<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Bayangkan dampaknya apabila para profesional\u00a0<em>cyber security\u00a0<\/em>dan\u00a0<em>data scientists\u00a0<\/em>masa depan memiliki <em>talent pipeline\u00a0<\/em>sehingga jutaan pekerja teknologi dan puluhan ribu\u00a0<em>chief information officer\u00a0<\/em>dapat menjangkau para\u00a0konselor sekolah menengah atau sekolah tinggi dengan memberikan bimbingan pada periode musim gugur ini. Mereka dapat memberikan penawaran untuk menjadi mentor bagi para konselor dan mahasiswa yang tertarik, dalam memberik masukan dalam informasi terkait, misalnya \u00a0seperti apa karir di bidang teknologi informasi, apa pekerjaan yang tersedia di sektor teknologi informasi, berapa gaji yang didapatkan pekerja teknologi dan apa proyeksi pertumbuhan pekerjaan di lapangan selama 10 tahun ke depan .<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Berbekal dengan informasi yang menyerupai <em>2015 Robert Half International &#8220;<\/em><em>Salary Guide for Technology Professionals&#8221;<\/em>, tidak akan membutuh waktu lama untuk para relawan pekerja teknologi tersebut untuk mematahkan mitos &#8216;<em>geeks&#8217;\u00a0<\/em>yang ada pada dunia kerja teknologi.\u00a0Apa yang diperlukan adalah menunjukkan bahwa seorang\u00a0<em>Big Data engineer<\/em>\u00a0saja dapat memperoleh bayaran\u00a0sebesar USD 168.000 setahun atau sekitar IDR 182 juta per bulan. Sedangkan seorang atlit\u00a0profesional di Amerika Serikat mendapatkan bayaran sekitar USD\u00a039.000 per tahun atau sekitar IDR 44 juta per bulan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Alvin Wiryo Limanjaya\/VMN\/BL\/Contributor<\/em><br \/>\nEditor: Ruth Berliana<br \/>\nImage: wikipedia<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(Business Lounge &#8211; Global News) Adanya persepsi bahwa pekerja teknologi disebut sebagai &#8220;geeks&#8221; bukanlah hal yang baru. Kata geeks pada\u00a0\u00a0awalnya digunakan untuk menggambarkan orang yang eksentrik atau non-mainstream. Namun saat ini digunakan untuk menggambarkan\u00a0seorang ahli atau penggemar atau orang terobsesi dengan hobi atau mengejar intelektual, dengan makna yang negatif karena\u00a0dianggap terlalu intelektual. Walaupun dalam beberapa kesempatan, kata ini juga dapat dipakai menjadi\u00a0sumber kebanggaan karena maknanya telah berkembang ke konotasi &#8220;seseorang yang tertarik pada sesuatu subjek (biasanya dalam intelektual atau kompleks) [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":36,"featured_media":127344,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_editorskit_title_hidden":false,"_editorskit_reading_time":0,"_editorskit_typography_data":[],"_editorskit_blocks_typography":"","_editorskit_is_block_options_detached":false,"_editorskit_block_options_position":"{}","om_disable_all_campaigns":false,"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"_uf_show_specific_survey":0,"_uf_disable_surveys":false,"footnotes":""},"categories":[1044,120],"tags":[5787,6529],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/127326"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/36"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=127326"}],"version-history":[{"count":6,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/127326\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":127354,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/127326\/revisions\/127354"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/127344"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=127326"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=127326"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=127326"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}