{"id":126792,"date":"2015-08-20T13:52:38","date_gmt":"2015-08-20T06:52:38","guid":{"rendered":"http:\/\/businesslounge.co.id\/?p=126792"},"modified":"2022-01-03T23:59:29","modified_gmt":"2022-01-03T16:59:29","slug":"sebuah-budaya-telah-menggeser-arti-sebuah-kantor","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/2015\/08\/20\/sebuah-budaya-telah-menggeser-arti-sebuah-kantor\/","title":{"rendered":"Sebuah Budaya Telah Menggeser Arti Sebuah Kantor"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><img decoding=\"async\" class=\"aligncenter wp-image-173451 size-full\" src=\"https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2015\/08\/Coworking-1.jpg\" alt=\"\" width=\"1300\" height=\"520\" srcset=\"https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2015\/08\/Coworking-1.jpg 1300w, https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2015\/08\/Coworking-1-300x120.jpg 300w, https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2015\/08\/Coworking-1-768x307.jpg 768w, https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2015\/08\/Coworking-1-1024x410.jpg 1024w\" sizes=\"(max-width: 1300px) 100vw, 1300px\" \/><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">(Business Lounge &#8211; Essay on Global)\u00a0Kantor merupakan rumah kedua bagi banyak orang, demikian pendapat yang sering kali terdengar oleh karena lebih dari setengah hari para karyawan akan menghabiskan waktunya di kantor. Itulah sebabnya banyak orang juga memperlakukan ruang kerjanya benar-benar seperti rumah baginya. Ditata sedemikian apik, diletakkan berbagai pajangan dan bantal kursi yang lucu. Memiliki laci untuk menyimpan, mulai dari sepatu, sendal, perlengkapan olah raga, hingga perlengkapan mandi. Belum lagi gelas, piring, dan berbagai perlengkapan makan berikut stoples untuk menyimpan kacang dan sebagainya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><img decoding=\"async\" class=\"wp-image-173453 size-full alignleft\" src=\"https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2015\/08\/office-DeskUnion_Coworking_Glasgow-1.jpg\" alt=\"\" width=\"613\" height=\"405\" srcset=\"https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2015\/08\/office-DeskUnion_Coworking_Glasgow-1.jpg 613w, https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2015\/08\/office-DeskUnion_Coworking_Glasgow-1-300x198.jpg 300w\" sizes=\"(max-width: 613px) 100vw, 613px\" \/><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Berlakunya Kebijakan\u00a0<em>Flexi Office<\/em><\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kantor sebagai rumah kedua tidak berlaku bagi para <em>auditor.\u00a0<\/em>Saya pernah bekerja beberapa tahun di sebuah Kantor Akuntan Publik (KAP) dan cara bekerja di sana memiliki caranya sendiri. Hanya mereka yang memiliki kedudukan cukup tinggi yang memiliki\u00a0<em>cubicle.\u00a0<\/em>Sedangkan\u00a0<em>para auditor\u00a0<\/em>kebanyakan akan bekerja bersama-sama para\u00a0<em>sharing space<\/em>. Sebab para\u00a0<em>auditor\u00a0<\/em>itu memang di-<em>design\u00a0<\/em>untuk bekerja di tempat klien, sehingga mereka akan sangat jarang berada di kantor. Apalagi jika klien\u00a0mereka berada di luar kota. Perusahaan seperti ini tidak perlu menyediakan area kerja yang luas, sehingga si pemilik pun dapat menekan pengeluaran untuk penyewaan kantor.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Hal ini kemudian menginspirasi para pemberi kerja untuk memberlakukan\u00a0<em>flexi<\/em>\u00a0<em>office <\/em>bagi para karyawannya. Tujuannya adalah menekan biaya menyewa kantor.<em>\u00a0<\/em>Maka mulailah timbul kebijakan\u00a0<em>flexi office\u00a0<\/em>yang memungkinkan karyawan tidak bekerja di kantor tetapi di mana saja mereka mau dengan difasilitasi teknologi yang memungkinkan mereka dapat\u00a0<em>online\u00a0<\/em>dari mana pun. Maka area kantor pun hanya digunakan pada saat adanya keperluan untuk melakukan\u00a0<em>meeting\u00a0<\/em>atau kordinasi lainnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><img decoding=\"async\" class=\"wp-image-173455 size-full alignright\" src=\"https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2015\/08\/Coworking_Space_in_Berlin-1.jpg\" alt=\"\" width=\"700\" height=\"467\" srcset=\"https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2015\/08\/Coworking_Space_in_Berlin-1.jpg 700w, https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2015\/08\/Coworking_Space_in_Berlin-1-300x200.jpg 300w, https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2015\/08\/Coworking_Space_in_Berlin-1-360x240.jpg 360w, https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2015\/08\/Coworking_Space_in_Berlin-1-600x400.jpg 600w\" sizes=\"(max-width: 700px) 100vw, 700px\" \/><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Tren\u00a0<em>Virtual Office<\/em><\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Masalah penyewaan area kantor sering kali menjadi masalah bagi para\u00a0<em>startup\u00a0<\/em>bahkan tidak jarang menjadi pertimbangan untuk memulai sebuah usaha. Tetapi ini merupakan hal yang bisa disiasati.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Saya pernah berbincang dengan seorang <em>startup<\/em> yang baru saja mendirikan jasa konsultasi tetapi sudah memiliki beberapa klien yang bisa dikatakan lumayan besar. Pada kartu namanya tercantum alamat kantor yang berlokasi di\u00a0bilangan perkantoran dengan gedung-gedung tinggi menjulang. Setelah lama berbincang maka saya pun tahu bahwa alamat kantor tersebut merupakan alamat <em>virtual office<\/em> yang sangat membantunya untuk memberikan\u00a0<em>good image\u00a0<\/em>pada bisnisnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Menggunakan\u00a0<em>virtual office<\/em> akan memberikan fungsi-fungsi yang sama dengan apabila Anda memiliki kantor yang sesungguhnya. Alamat surat menyurat serta telepon dapat ditujukan ke sana. Akan ada petugas yang menjawab setiap telepon yang masuk untuk kantor Anda seolah-olah ia adalah seorang\u00a0<em>customer service. <\/em>Setiap dokumen yang diterima pun dijamin tidak akan hilang tetapi akan diteruskan kepada Anda.\u00a0Tidak hanya itu, tersedia\u00a0juga ruangan rapat yang dapat digunakan seolah-olah memang ruang kerja Anda. \u00a0Sahkah?Memang masih pro dan kontra, tetapi sejauh ini penggunaan\u00a0<i>virtual office<\/i>\u00a0bagi para <em>startup\u00a0<\/em>tidak menyalahi hukum. Itulah sebabnya mereka yang menawarkan jasa ini makin marak. Tetapi hal ini akan menjadi masalah bagi para Pengusaha Kena Pajak (PKP), yaitu saat\u00a0omzet yang dimiliki mencapai Rp 600 juta\/tahun. Itulah sebabnya pengguna\u00a0<em>virtual office\u00a0<\/em>biasanya adalah para\u00a0<em>startup.<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Mereka yang menawarkan layanan\u00a0<em>virtual office\u00a0<\/em>di gedung-gedung keren pun semakin marak.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong><em>Co-working Space <\/em> sebagai Fenomena yang Baru<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><img decoding=\"async\" class=\"wp-image-173457 size-full alignleft\" src=\"https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2015\/08\/La_Maquinita_Co_-_Cowork_Argentina.jpg\" alt=\"\" width=\"480\" height=\"480\" srcset=\"https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2015\/08\/La_Maquinita_Co_-_Cowork_Argentina.jpg 480w, https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2015\/08\/La_Maquinita_Co_-_Cowork_Argentina-150x150.jpg 150w, https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2015\/08\/La_Maquinita_Co_-_Cowork_Argentina-300x300.jpg 300w, https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2015\/08\/La_Maquinita_Co_-_Cowork_Argentina-125x125.jpg 125w\" sizes=\"(max-width: 480px) 100vw, 480px\" \/>Sekarang tidak hanya\u00a0<em>virtual office\u00a0<\/em>yang menjadi pilihan, tetapi juga <i>sharing office\u00a0<\/i>atau yang biasa dikenal dengan istilah\u00a0<em>co-working<\/em>. Sebuah area dapat dipakai bekerja secara bersama-sama. Saya tahu sebuah cafe yang menyediakan lantai atasnya untuk disewa oleh beberapa\u00a0<em>startup <\/em>dan<em>\u00a0freelancer\u00a0<\/em>yang kemudian menggunakannya secara bergantian.\u00a0Tempatnya dibuat sedemikian\u00a0<em>cozy\u00a0<\/em>sesuai dengan gaya kebanyakan para generasi Y sekarang. Tidak hanya satu atau dua cafe tetapi pengadaan\u00a0<em>sharing office\u00a0<\/em>ini telah dijadikan sumber bisnis baru bagi para pemilik tanah atau pemilik gedung.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Sharing Office\u00a0<\/em>atau yang dikenal juga dengan istilah\u00a0<em>co-working space<\/em>\u00a0yang sebenarnya bukan fenomena baru. Ini sudah ada sejak tahun 2005 ketika sebuah\u00a0<em>co-working space <\/em>yang bernama 9 to 5 group untuk pertama kalinya\u00a0dibuka di San Francisco pada tahun 2005, namun ditutup setahun kemudian. Sejak itu, sejarah singkat ini telah berkembang dengan cepat, dengan lebih dari 3000 ruang <em>co-working<\/em>\u00a0yang beroperasi pada 2013, dan lebih dari 1,6 juta anggota di seluruh dunia. Sebut saja\u00a0Hat Factory, Citizen Space, atau \u00a0Work Only in San Francisco,<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Tidak hanya di San Fransisco, fenomena ini pun terjadi di New York dan menjamur ke kota-kota lainnya. Seperti\u00a0CityDesk di Miami,<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Maka berbagai konsep unik pun diterjemahkan sebagai\u00a0<em>co-working space\u00a0<\/em>bahkan dengan menggabungkan konsep ruang kerja dengan apartment. Berbagai skenario pun dibuat untuk mewujudkan\u00a0<em>co-working space\u00a0<\/em>yang paling diminati generasi sekarang.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pada tahun 2012 sistem <em>co-working <\/em>mulai memasuki Eropa, khususnya Inggris. Lalu kemudian menjalar ke Berlin , seperti munculnya Factory Berlin, betahaus, House of Clouds, co.up, raumstation, United Urbanites. Lalu di Skotlandia pun muncul yaitu ketika pemerintah memperkenalkan undang-undang untuk membawa bisnis kembali ke pusat kota.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u00a0Sedangkan di Asia,<em>\u00a0co-working space\u00a0<\/em>pertama kali diperkenalkan di Singapur dan Hong Kong.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong><em>Co-working Space <\/em>di\u00a0Jakarta<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Co-working space\u00a0di Jakarta pun semakin menjamur seiring dengan berkembangnya dunia bisnis\u00a0online.\u00a0Bagaikan gayung bersambut\u00a0co-working\u00a0pun dimanfaatkan bagi para pelaku bisnis untuk menjadi lahan bisnis yang baru.\u00a0Puluhan atau mungkin telah mencapai seratus tempat dengan system pembayaran mulai dari per jam hingga per tahun dapat Anda temui di Jakarta.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Menarik untuk menyaksikan fenomena keberadaan\u00a0co-working space\u00a0ini. Saya ingat beberapa tahun yang lalu, tempat yang dapat mengakomodir para\u00a0freelancer\u00a0bekerja adalah warnet hingga kemudian muncullah Snapy dan sejenis\u00a0business center\u00a0lainnya yang kemudian tumbuh subur. Semakin berkembang maka dibuatlah tempat makan kecil di sampingnya sehingga para pengguna\u00a0business center\u00a0tidak\u00a0\u00a0perlu pusing untuk mencari makanan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><img decoding=\"async\" class=\"aligncenter wp-image-173459 size-full\" src=\"https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2015\/08\/coworking-Chris-gallegos-interior-co-working-1.jpg\" alt=\"\" width=\"749\" height=\"362\" srcset=\"https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2015\/08\/coworking-Chris-gallegos-interior-co-working-1.jpg 749w, https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2015\/08\/coworking-Chris-gallegos-interior-co-working-1-300x145.jpg 300w\" sizes=\"(max-width: 749px) 100vw, 749px\" \/><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Zaman semakin berkembang dan tempat kerja demikian pun berubah menjadi banyak\u00a0co-working space\u00a0yang semakin\u00a0asyik untuk disinggahi, khususnya bagi mereka yang mengandalkan fasilitas\u00a0online\u00a0untuk bekerja. Di sinilah banyak\u00a0<em>deal<\/em>\u00a0bisnis terjadi serta berbagai peluang untuk melakukan bisnis lainnya.\u00a0Bahkan\u00a0ada juga fasilitas\u00a0<em>co-working\u00a0<\/em>yang disediakan dengan cuma-cuma seperti yang disediakan oleh telkom, yaitu Bandung Digital Valley dan Jogja Digital Valley guna memajukan industri ICT di Indonesia atau\u00a0Freeware di jakarta yang disediakan oleh Medco Energi untuk membantu para\u00a0<em>startup.<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kantor bukan lagi sebuah gedung tinggi yang menjadi tempat untuk bekerja dari jam 8 pagi hingga jam 5 sore. Sebuah pergeseran dalam budaya pun terjadi. Kantor tidak lagi menjadi tempat bagi atasan dapat bersama-sama dengan bawahannya sepanjang hari. Kantor bukan lagi sebuah bentuk fisik yang melekat pada sebuah bisnis, tetapi kantor bagi para pelaku bisnis telah menjadi sebuah tempat yang\u00a0flexible\u00a0untuk mereka dapat melakukan bisnisnya. Sebuah pergeseran budaya telah terjadi bahwa kantor bukan lagi sebuah persyaratan untuk sebuah bisnis dapat dimulai.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify; line-height: 18.0pt; orphans: auto; widows: 1; -webkit-text-stroke-width: 0px; word-spacing: 0px;\">Image: wikipedia<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em><img decoding=\"async\" class=\"wp-image-38337 size-full alignleft\" src=\"https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2014\/06\/ruth_revisi.jpg\" alt=\"\" width=\"120\" height=\"120\" srcset=\"https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2014\/06\/ruth_revisi.jpg 120w, https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2014\/06\/ruth_revisi-90x90.jpg 90w\" sizes=\"(max-width: 120px) 100vw, 120px\" \/>Ruth Berliana\/VMN\/BL\/<\/em><em>Managing Partner Human Capital Development<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(Business Lounge &#8211; Essay on Global)\u00a0Kantor merupakan rumah kedua bagi banyak orang, demikian pendapat yang sering kali terdengar oleh karena lebih dari setengah hari para karyawan akan menghabiskan waktunya di kantor. Itulah sebabnya banyak orang juga memperlakukan ruang kerjanya benar-benar seperti rumah baginya. Ditata sedemikian apik, diletakkan berbagai pajangan dan bantal kursi yang lucu. Memiliki laci untuk menyimpan, mulai dari sepatu, sendal, perlengkapan olah raga, hingga perlengkapan mandi. Belum lagi gelas, piring, dan berbagai perlengkapan makan berikut stoples untuk menyimpan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":26,"featured_media":126939,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_editorskit_title_hidden":false,"_editorskit_reading_time":0,"_editorskit_typography_data":[],"_editorskit_blocks_typography":"","_editorskit_is_block_options_detached":false,"_editorskit_block_options_position":"{}","om_disable_all_campaigns":false,"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"_uf_show_specific_survey":0,"_uf_disable_surveys":false,"footnotes":""},"categories":[1044,1049],"tags":[6951,5169],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/126792"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/26"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=126792"}],"version-history":[{"count":20,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/126792\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":173461,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/126792\/revisions\/173461"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/126939"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=126792"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=126792"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=126792"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}