{"id":126682,"date":"2015-08-24T20:11:27","date_gmt":"2015-08-24T13:11:27","guid":{"rendered":"http:\/\/businesslounge.co.id\/?p=126682"},"modified":"2015-08-24T20:16:04","modified_gmt":"2015-08-24T13:16:04","slug":"empat-faktor-ini-menjadi-pertimbangan-para-milenium-mencari-tempat-kerja","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/2015\/08\/24\/empat-faktor-ini-menjadi-pertimbangan-para-milenium-mencari-tempat-kerja\/","title":{"rendered":"Empat Faktor Ini Menjadi Pertimbangan Para Milenium Mencari Tempat Kerja."},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">(Business Lounge &#8211; Empower People) Para milenium memang menjadi topik yang hangat saat ini untuk dibicarakan oleh banyak pihak.\u00a0Sebuah laporan mengenai\u00a0The Millennial Impact yang dirilis tahun ini juga menjadi pokok perbincangan bahwa para milenium memiliki sebuah upaya untuk memilih siapa yang akan menjadi atasan mereka. Hal ini memang dapat dikatakan berbeda dengan para generasi pendahulunya, baik gen x maupun\u00a0<em>baby boomer\u00a0<\/em>yang bersikap lebih &#8220;nerimo&#8221;, dalam arti kata mereka akan menerima siapa saja yang kelak ditempatkan sebagai atasannya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Namun hal ini tidak berlaku bagi para milenium. Mereka berkuasa untuk menentukan pada siapa mereka akan bekerja dan siapa yang akan menjadi atasan mereka. Apabila merasa tidak cocok, maka berhenti adalah sebuah pilihan yang tidak sulit untuk dipilih. Ada beberapa faktor pada The Millennial Impact report yang dikatakan merupakan faktor yang paling penting bagi para milenium untuk menentukan kepada siapa mereka akan bekerja, yaitu\u00a0lingkungan kantor, budaya kerja, dan memiliki misi. Tetapi ada\u00a04 faktor utama yang menjadi bahan pertimbangan bagi para milenium dalam mencari tempat kerja.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">1. Tempat kerja yang memiliki\u00a0kolaborasi dan inovasi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sebuah penelitian terbaru menunjukkan bahwa 82% dari milenium percaya bahwa kolaborasi adalah kunci untuk melakukan inovasi. Bagi mereka perusahaan tempat mereka bekerja haruslah memberlakukan hal tersebut.\u00a0Dengan kata lain\u00a0organisasi haruslah memperhatikan bahkan berinvestasi dalam teknologi dan ruang yang mendorong dilakukannya kolaborasi.\u00a0Generasi milenium pada dasarnya menuntut budaya perusahaan yang mendukung dilakukannya\u00a0kolaborasi.\u00a0Teknologi digital dan <em>mobile<\/em>\u00a0tentu saja akan mendukung karyawan untuk menjadi produktif untuk membentuk suatu budaya kolaboratif.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">2.\u00a0Tempat kerja harus fleksibel.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Generasi milenium mencintai kebebasan untuk memilih termasuk dalam\u00a0memilih tempat untuk\u00a0bekerja. Adanya kemajuan teknologi yang menghadirkan laptop, smartphone, dan tablet telah mengakomodir para karyawan untuk tidak lagi hanya bekerja di kantor. Untuk itu para pemberi kerja pun harus menjadi jeli. Apabila mereka ingin mendapatkan para <em>talent\u00a0<\/em>yang berasal dari para milenium maka penting bagi mereka untuk\u00a0menawarkan tempat kerja yang fleksibel yang memungkinkan orang untuk bergerak, dan dapat bekerja pada\u00a0beberapa tempat\u00a0yang berbeda sepanjang hari.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">3.\u00a0Tempat kerja haruslah mendukung misi para pekerja.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Generasi milenium percaya bisnis harus melakukan lebih dari sekedar menghasilkan keuntungan, yaitu mengubah dunia. Berdasarkan <em>Millennial Impact Survey\u00a0<\/em>2015, 97% dari kaum milenium ingin menggunakan keahlian mereka untuk membantu. Ini berarti organisasi harus melakukan lebih dari sekedar menyusun nilai-nilai baru dan pernyataan misi, mereka juga harus mempertimbangkan menyelaraskan kerja mereka di sekitar misi mereka. Misalnya saja apabila perusahaan memiliki visi untuk\u00a0ikut mendukung kelestarian lingkungan hidup,\u00a0maka para milenium akan mengharapkan ruang kerja yang didukung oleh teknologi yang ramah lingkungan. Hal ini sangat penting untuk diperhatikan oleh pemberi kerja.\u00a0Gagal untuk menyelaraskan ruang kerja dengan misi organisasi akan berdampak pada &#8216;hengkang&#8217;-nya para milenium.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">4. Tempat kerja yang mendukung adanya perubahan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Penting untuk mengetahui bagaimana si milenium pada dasarnya selalu menginginkan sebuah perubahan. Karena itu jangan mengabaikan pendapat dari si milenium yang paling junior sekali pun. Berikanlah sistematika sehingga setiap orang dapat terlibat dalam menyalurkan aspirasinya sesederhana apa pun bentuknya. \u00a0Jika perlu buatlah sebuah\u00a0diskusi dengan melibatkan mereka yang memiliki pendapat yang perlu dibahas lebih lanjut. Galilah lebih lagi dan bersiaplah untuk sebuah perubahan yang membawa kepada peningkatan prestasi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>citra\/VMN\/BL\/Journalist<\/em><br \/>\nEditor: Ruth Berliana<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(Business Lounge &#8211; Empower People) Para milenium memang menjadi topik yang hangat saat ini untuk dibicarakan oleh banyak pihak.\u00a0Sebuah laporan mengenai\u00a0The Millennial Impact yang dirilis tahun ini juga menjadi pokok perbincangan bahwa para milenium memiliki sebuah upaya untuk memilih siapa yang akan menjadi atasan mereka. Hal ini memang dapat dikatakan berbeda dengan para generasi pendahulunya, baik gen x maupun\u00a0baby boomer\u00a0yang bersikap lebih &#8220;nerimo&#8221;, dalam arti kata mereka akan menerima siapa saja yang kelak ditempatkan sebagai atasannya. Namun hal ini tidak [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":36,"featured_media":124702,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_editorskit_title_hidden":false,"_editorskit_reading_time":0,"_editorskit_typography_data":[],"_editorskit_blocks_typography":"","_editorskit_is_block_options_detached":false,"_editorskit_block_options_position":"{}","om_disable_all_campaigns":false,"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"_uf_show_specific_survey":0,"_uf_disable_surveys":false,"footnotes":""},"categories":[1044,4,1051],"tags":[4927,7007],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/126682"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/36"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=126682"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/126682\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":127531,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/126682\/revisions\/127531"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/124702"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=126682"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=126682"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=126682"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}