{"id":126037,"date":"2015-08-13T15:18:37","date_gmt":"2015-08-13T08:18:37","guid":{"rendered":"http:\/\/businesslounge.co.id\/?p=126037"},"modified":"2015-08-13T15:18:37","modified_gmt":"2015-08-13T08:18:37","slug":"kilas-peristiwa-jelang-kemerdekaan-ri-13-agustus-1945","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/2015\/08\/13\/kilas-peristiwa-jelang-kemerdekaan-ri-13-agustus-1945\/","title":{"rendered":"Kilas Peristiwa Jelang Kemerdekaan RI: 13 Agustus 1945"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">(Business Lounge &#8211; Jelang Kemerdekaan RI ke-70) Jepang yang diwakili oleh Marsekal\u00a0Terauchi telah menjanjikan kemerdekaan bagi Bangsa Indonesia. Hal ini disampaikannya pada pertemuan di Saigon, Vietnam dengan ketiga tokoh bangsa yang telah dijemput dalam sebuah perjalanan rahasia. (Baca:\u00a0<a href=\"http:\/\/businesslounge.co.id\/2015\/08\/12\/kilas-peristiwa-jelang-kemerdekaan-ri-12-agustus-1945\/\">Kilas Peristiwa Jelang Kemerdekaan RI: 12 Agustus 1945<\/a>).\u00a0Pada tanggal 13 Agustus 1945, Soekarno bersama Bung Hatta, dr Radjiman Wedyodiningrat dan dr Soeharto (dokter pribadi Bung Karno) menumpang pesawat <em>fighter bombe<\/em>r bermotor ganda kembali ke Indonesia.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Beredarnya Telegram Kekalahan Jepang<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Jepang memang telah kalah, namuan pihaknya masih \u00a0berupaya untuk menutupi kekalahannya yaitu dengan berupaya memperlambat penyebaran berita itu ke wilayah Asia. Namun\u00a0para operator telepon dan telegrap PTT dapat mengetahui berita penyerahan itu karena pesawat-pesawat penerima di Bandung tidak disegel. Telegram resmi dari Tokyo akhirnya diterima di Bandung pada tanggal 13 Agustus 1945. Hal itu pun diteruskan melalui telegram yang dikirimkan\u00a0kepada pernuda-pemuda Jakarta agar mereka mendesak pemimpin-pemimpin bangsa untuk mengumumkan kemerdekaan Indonesia. Jika kemerdekaan tidak segera diumumkan, Indonesia akan kehilangan momentum yang mungkin tidak akan ada lagi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kemudian penyusunan teks proklamasi pun dimulai, dengan\u00a0melibatkan Soekarni, Chaerul Saleh, Eri Sudewo, Johan Nur, dan Abu Bakar Lubis. Penyusunan teks dikerjakan di Asrama Prapatan Nomor 10, Jakarta, pada 13 Agustus. Asrama Prapatan kala itu sering dijadikan tempat nongkrong para anggota gerakan bawah tanah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\n<p><strong>Sekutu Memaksa Jepang Menyerah<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pada 13 Agustus, Dewan Penasihat Militer Jepang dan kabinet terus berdebat mengenai jawaban mereka atas tanggapan Sekutu, namun menemui kebuntuan. Merasa Jepang belum memberikan jawaban yang pas, sekutu berprediksi bahwa\u00a0Jepang sedang menyiapkan sebuah &#8220;serangan <i>banzai\u00a0<\/i>habis-habisan&#8221;. Akhirnya, Presiden Truman memerintahkan untuk dilanjutkannya serangan udara terhadap Jepang dalam intensitas maksimum supaya para\u00a0pejabat Jepang tahu bahwa pihak sekutu benar-benar\u00a0serius untuk Jepang dapat\u00a0menerima usulan damai dari sekutu tanpa ditunda.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pada tanggal yang sama, 13 Agustus 1945, sesuai dengan saran pakar operasi psikologis Amerika Serikat, pesawat-pesawat B-29 diberangkatkan untuk menjatuhkan selebaran-selebaran di atas Jepang. Selebaran-selebaran itu menjelaskan kepada ralyat Jepang tentang tawaran untuk menyerah dan sikap Sekutu.\u00a0Selebaran-selebaran ini pun berdampak drastis terhadap proses pengambilan keputusan Jepang.<\/p>\n<p><a class=\"image\" href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Berkas:B29_leaflet.jpg\"><img decoding=\"async\" class=\"thumbimage alignleft\" src=\"https:\/\/upload.wikimedia.org\/wikipedia\/commons\/thumb\/a\/a7\/B29_leaflet.jpg\/220px-B29_leaflet.jpg\" srcset=\"\/\/upload.wikimedia.org\/wikipedia\/commons\/thumb\/a\/a7\/B29_leaflet.jpg\/330px-B29_leaflet.jpg 1.5x, \/\/upload.wikimedia.org\/wikipedia\/commons\/thumb\/a\/a7\/B29_leaflet.jpg\/440px-B29_leaflet.jpg 2x\" alt=\"\" width=\"220\" height=\"170\" data-file-width=\"1192\" data-file-height=\"920\" \/><\/a><\/p>\n<div class=\"thumb tright\" style=\"text-align: justify;\">\n<div class=\"thumbinner\">\n<div class=\"thumbcaption\">Selebaran yang dijatuhkan di Jepang setelah pengeboman atom Hiroshima. Dalam selebaran ditulis, sebagian isi: <i>Rakyat Jepang sedang menghadapi musim gugur yang sangat penting. Tiga belas pasal mengenai penyerahan diberikan kepada pemimpin-pemimpin militer Anda sekalian oleh kami, aliansi tiga negara untuk mengakhiri perang yang sia-sia ini. Usulan ini diabaikan oleh pemimpin-pemimpin militer Anda sekalian. Amerika Serikat telah mengembangkan bom atom, yang tidak pernah dicobakan terhadap negara mana pun sebelumnya. Kami telah memutuskan untuk memakai bom yang mengerikan ini. Satu bom atom memiliki kekuatan destruktif sama dengan 2000 pesawat B-29.&#8221;<\/i><\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><em>citra\/VMN\/BL\/Journalist<\/em><br \/>\nEditor: Ruth Berliana<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(Business Lounge &#8211; Jelang Kemerdekaan RI ke-70) Jepang yang diwakili oleh Marsekal\u00a0Terauchi telah menjanjikan kemerdekaan bagi Bangsa Indonesia. Hal ini disampaikannya pada pertemuan di Saigon, Vietnam dengan ketiga tokoh bangsa yang telah dijemput dalam sebuah perjalanan rahasia. (Baca:\u00a0Kilas Peristiwa Jelang Kemerdekaan RI: 12 Agustus 1945).\u00a0Pada tanggal 13 Agustus 1945, Soekarno bersama Bung Hatta, dr Radjiman Wedyodiningrat dan dr Soeharto (dokter pribadi Bung Karno) menumpang pesawat fighter bomber bermotor ganda kembali ke Indonesia. Beredarnya Telegram Kekalahan Jepang Jepang memang telah kalah, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":36,"featured_media":126045,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_editorskit_title_hidden":false,"_editorskit_reading_time":0,"_editorskit_typography_data":[],"_editorskit_blocks_typography":"","_editorskit_is_block_options_detached":false,"_editorskit_block_options_position":"{}","om_disable_all_campaigns":false,"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"_uf_show_specific_survey":0,"_uf_disable_surveys":false,"footnotes":""},"categories":[1044,1049],"tags":[6865],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/126037"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/36"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=126037"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/126037\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":126047,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/126037\/revisions\/126047"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/126045"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=126037"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=126037"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=126037"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}