{"id":125975,"date":"2015-08-13T07:24:38","date_gmt":"2015-08-13T00:24:38","guid":{"rendered":"http:\/\/businesslounge.co.id\/?p=125975"},"modified":"2015-08-13T07:24:38","modified_gmt":"2015-08-13T00:24:38","slug":"mempelajari-kepemimpinan-seorang-henry-ford","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/2015\/08\/13\/mempelajari-kepemimpinan-seorang-henry-ford\/","title":{"rendered":"Mempelajari Kepemimpinan seorang  Henry Ford"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">(Business Lounge &#8211; Lead &amp; Follow)\u00a0Semua organisasi atau perusahaan tentunya ingin mencapai apa yang menjadi target, sasaran, atau tujuannya masing-masing.\u00a0Seorang <em>leader<\/em> atau pemimpin tentu saja memainkan peranan yang sangat penting untuk tercapainya sasaran atau tujuan tersebut.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Mari kita melihat salah satu keberhasilan seorang <em>expert<\/em> dalam dunia otomotif Amerika, Henry Ford yang di kenal sebagai pribadi yang tidak mau memerintah melainkan akan langsung melakukan atau mengerjakan alias <em>just do it<\/em> kalau kita meminjam slogan dari Nike Air.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Para karyawan dalam perusahaannya berkata sebagai seorang pimpinan atau atasan dia sebenarnya berhak memerintahkan apapun kepada kami, namun itu tidak pernah dilakukannya, dia tidak pernah berkata, <em>&#8220;saya mau ini beres!&#8221;<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Namun sebaliknya, dia akan berkata &#8220;apakah kita bisa melakukan peningkatan di bagian sini atau situ?\u201d Sebagai hasilnya, para karyawan rela bekerja <em>all out<\/em> untuk menjawab apakah peningkatan tersebut memang bisa diwujudkan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Mengapa dapat\u00a0terjadi seperti itu? Apa kira-kira yang mendorong para karyawan melakukannya? Perlu Anda\u00a0ketahui sesungguhnya tidak ada seorangpun yang suka diperintah.\u00a0Apabila atasan memperlakukan bawahan dengan hormat, maka bawahan secara sukarela akan melakukan tugas mereka, bahkan lebih baik daripada seharusnya. Ada motivasi yang murni yang mendorong untuk seseorang melakukannya karena adanya dukungan dari seseorang yang lebih daripada dirinya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Harap dicatat, bahwa cara pandang Anda\u00a0terhadap tugas dan pekerjaan yang diberikan kepada Anda\u00a0akan menentukan keberhasilan itu sendiri. Apakah Anda\u00a0menerimanya sebagai sesuatu yang dibebankan kepada Anda\u00a0atau sebagai sesuatu yang menumbuhkan rasa tanggung jawab?<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Lalu bagaimana hubungan dengan rekan kerja atau bawahan Anda, apakah Anda\u00a0lebih sering memaksakan instruksi, atau lebih suka merangsang kreasi dan inisiatif mereka?<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Henry Ford memahami bahwa suatu tantangan akan menghasilkan karya yang jauh lebih optimal daripada sebuah perintah. Sekarang semua tinggal kembali kepada pribadi masing-masing, apakah cukup puas hanya sebagai pelaksana tugas, atau penakluk tantangan?<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sebuah\u00a0organisasi akan\u00a0lebih kaya karena memiliki banyak anggota, tentunya lebih banyak kekuatan, pemikiran, ide dan kontribusi dari masing-masing orang.\u00a0Ingat, setiap orang pasti mempunyai intelegensia atau bakat yang berbeda-beda.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Berikut jenis bakat atau intelektual yang di gambarkan oleh Thomas Armstrong dalam buku 7 <em>Kinds of Smarts<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">1. Intelegensia Berbahasa (kemampuan menggunakan kata-kata)<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Orang ini cerdas dalam bidang berdebat, membujuk, menghibur atau memerintah\u00a0dengan kata-kata.\u00a0Contoh : Abraham Lincoln, William Shakespear.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">2. Intelegensia Logika &#8211; Matematika (bekerja dengann angka dan logika)<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Orang yang berbakat di sini \u00a0memiliki kemampuan menciptakan hipotesa, berpikir dari sudut\u00a0pandang sebab akibat (<em>cause and effect<\/em>) dan menemukan pola konseptual.\u00a0Contoh: Albert Einstein, Bill Gates.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">3. Intelegensia Ruang (berpikir dalam gambar dan imajinasi)<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Orang yang berkemampuan memiliki visual ruang dan dapat merasa, mentransformasikan, menciptakan ulang aspek yang berbeda dari dunia visual ruang.\u00a0Contoh: Pablo Picasso, Thomas Alfa Edison<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">4. Intelegensia Musik (kepekaan dalam merasakan, mengapresisi dan memproduksi ritme serta melodi)<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Orang ini mempunyai telinga yang tajam, dapat menghitung waktu, bernyayi sesuai \u00a0nada (kepekaan) dan mendengarkan musik dengan ketajaman.\u00a0Contoh: Sebastian Bach, Mozart.<\/p>\n<p>5. Intelegensia Tubuh \u00a0&#8211; \u00a0Kinestetik (mengetahui jasmaniah diri)<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Orang ini handal dalam menguasai gerakan tubuh mereka, lalu dapat menguasai objek dengan terampil dan melakukan aktivitas fisik lain.\u00a0Contoh Michael Jordan, Charlie Chaplin<\/p>\n<p>6. Intelegensia Interpribadi (memahami dan bekerja degan orang lain)<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Mereka yang mempunyai intelegensi ini mampu merasakan dan tanggap terhadap\u00a0perasaan, tempramen, maksud dan keinginan orang lain.\u00a0Contoh : Ibu Teresa.<\/p>\n<p>7. Intelegensia Intrapribadi (mengetahui dalam diri)<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Orang ini sangat instropektif, pandai menilai perasaannya, dan sanggup untuk berpikir secara intelektual.\u00a0Contoh: John Wesley, Laurence Olivier.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Melihat contoh tersebut di atas, maka setiap orang\u00a0pastilah memiliki kekuatan dan kelemahan masing-masing dari segala macam segi, dan itu yang membuat setiap orang menjadi unik, istimewa, dan spesial.\u00a0Motivasi dalam diri sendiri bisa saja mengalami kondisi tertentu seperti sebuah pasang surut, apalagi saat Anda\u00a0menghadapi tantangan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Namun ingat bahwa tantangan hidup itu sendiri membuat perjuangan dan perjalanan hidup Anda akan\u00a0lebih berwarna, karena Anda\u00a0memiliki kesempatan untuk banyak belajar dari kegagalan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dengan motivasi yang kuat, Anda\u00a0akan gigih dalam menjalani segala tantangan\u00a0sebab\u00a0di mana ada kemauan, disitu ada jalan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Jadi kalau Anda\u00a0hanya mengikuti arus saja, hasil yang Anda\u00a0capai juga akan biasa-biasa saja. Namun bila Anda\u00a0selalu termotivasi untuk melakukan lebih baik setiap hari, maka akan selalu ada jalan untuk meraih keberhasilan.\u00a0Apalagi bila Anda\u00a0menjadi pemimpin, bagus juga menerapkan motivasi ala Henry Ford, tidak ada sikap nge-<em>bossy<\/em>, yang ada adalah memperlakukan bawahan dengan hormat dan baik.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dengan menerapkannya Anda akan menjadi salah satu pemimpin yang luar biasa.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Ria Felisha\/VMN\/BL\/Contributor<\/em><br \/>\nEditor: Ruth Berliana<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(Business Lounge &#8211; Lead &amp; Follow)\u00a0Semua organisasi atau perusahaan tentunya ingin mencapai apa yang menjadi target, sasaran, atau tujuannya masing-masing.\u00a0Seorang leader atau pemimpin tentu saja memainkan peranan yang sangat penting untuk tercapainya sasaran atau tujuan tersebut. Mari kita melihat salah satu keberhasilan seorang expert dalam dunia otomotif Amerika, Henry Ford yang di kenal sebagai pribadi yang tidak mau memerintah melainkan akan langsung melakukan atau mengerjakan alias just do it kalau kita meminjam slogan dari Nike Air. Para karyawan dalam perusahaannya [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":36,"featured_media":122867,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_editorskit_title_hidden":false,"_editorskit_reading_time":0,"_editorskit_typography_data":[],"_editorskit_blocks_typography":"","_editorskit_is_block_options_detached":false,"_editorskit_block_options_position":"{}","om_disable_all_campaigns":false,"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"_uf_show_specific_survey":0,"_uf_disable_surveys":false,"footnotes":""},"categories":[1044,15,1051],"tags":[6590],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/125975"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/36"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=125975"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/125975\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":125976,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/125975\/revisions\/125976"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/122867"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=125975"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=125975"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=125975"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}