{"id":121223,"date":"2015-07-13T12:43:41","date_gmt":"2015-07-13T05:43:41","guid":{"rendered":"http:\/\/businesslounge.co.id\/?p=121223"},"modified":"2020-03-04T10:31:29","modified_gmt":"2020-03-04T03:31:29","slug":"8-karakter-pemimpin-yang-membawa-satoru-iwata-pada-kesuksesan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/2015\/07\/13\/8-karakter-pemimpin-yang-membawa-satoru-iwata-pada-kesuksesan\/","title":{"rendered":"8 Karakter Pemimpin yang Membawa Satoru Iwata Pada Kesuksesan"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">(Business Lounge &#8211; Lead &amp; Follow)<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><a href=\"http:\/\/businesslounge.co.id\/wp-content\/uploads\/2015\/07\/Satoru_Iwata.jpg\"><img decoding=\"async\" class=\" size-medium wp-image-121237 alignleft\" src=\"http:\/\/businesslounge.co.id\/wp-content\/uploads\/2015\/07\/Satoru_Iwata-200x300.jpg\" alt=\"Satoru_Iwata\" width=\"200\" height=\"300\" srcset=\"https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2015\/07\/Satoru_Iwata-200x300.jpg 200w, https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2015\/07\/Satoru_Iwata-683x1024.jpg 683w, https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2015\/07\/Satoru_Iwata.jpg 800w\" sizes=\"(max-width: 200px) 100vw, 200px\" \/><\/a><span class=\"cb-dropcap-small\">P<\/span>erjalanan karir yang sekaligus merupakan \u00a0perjalanan hidup Satoru Iwata baru saja berakhir. Tepatnya pada Sabtu (11\/7), ketika CEO perusahaan raksasa\u00a0<em>video game <\/em>Nintendo ini tutup usia, di usianya yang ke-55. Namun sangat menarik untuk mempelajari sisi kepemimpinannya. Menurut <em>founder\u00a0<\/em><em>followerhip leadership theory,\u00a0<\/em>Bernhard Sumbayak dan menurut survei yang telah dilakukan oleh Vibiz Consulting, maka ada 8 karakter yang wajib dimiliki oleh seorang pemimpin untuk mencapai kesuksesan. Ke-8 karkater ini juga yang ternyata dimiliki oleh\u00a0Satoru Iwata dalam mencapai kesuksesannya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em><strong>Integrity<\/strong><\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Seorang pemimpin harus tahu benar apa yang sedang dilakukannya dan seorang pemimpin harus tahu benar arahan yang diberikannya oleh karena ia pun telah melakukannya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pada saat ia ditunjuk untuk menggantikan pendahulunya,\u00a0Hiroshi Yamauchi, maka Iwata pun mendapatkan pesan,\u00a0&#8220;<em>Iwata has the instincts you need to survive in this business<\/em>.&#8221; Demikian percayanya Yamauchi kepada Iwata. Namun kedua pemimpin ini memiliki karakter yang berbeda. Sepanjang sejarah,\u00a0Hiroshi Yamauchi dikenal tidak pernah memainkan Nintendo Game. Sangat berbeda dengan Iwata yang memulai karirnya sebagai\u00a0<em>programmer.\u00a0<\/em>CEO Nintendo ke-4 yang tidak memiliki hubungan darah dengan <i>founder<\/i>-nya,\u00a0Fusajiro Yamauchi ini bahkan diduga pernah ikut meng-<em>coding<\/em>\u00a0<em>game-<\/em>nya.<\/p>\n<p><em><strong>Persistence<\/strong><\/em><\/p>\n<p>Iwata menjabat sebagai CEO Nintendo sejak tahun 2002, kegigihannya telah pernah membawa Nintendo ke puncak kejayaannya\u00a0hingga nilai sahamnya naik 2 kali lipat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em><strong>Quite Humble<\/strong><\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sementara banyak pemimpin perusahaan yang terkesan &#8216;jaim&#8217; (Jaga <em>Image<\/em>), Iwata malah ikut tampil dalam <em>video\u00a0<\/em>perusahaannya.\u00a0Perlu diakui bahwa penampilan Iwata bisa saja membuat orang berpikir &#8220;sangat konyol&#8221; seorang CEO mau melakukannya. Misalnya saja ia tampil bersama dengan Super Mario, tokoh tukang ledeng\u00a0yang muncul pada\u00a0<em>video game-<\/em>nya. Namun kemunculannya bersama dengan tokoh-tokoh\u00a0<em>video game<\/em>-nya tidak pernah dapat menghapus kewibawaannya serta sifat tenangnya yang sering kali menjadi contoh bagi para eksekutif perusahaan\u00a0<em>game<\/em>\u00a0lainnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Mengapa Iwata mau muncul bersama dengan para tokoh\u00a0<em>video game-<\/em>nya? Iwata\u00a0berupaya untuk mewujudkan komitmen dalam\u00a0mempertahankan pemahamannya yang kuat atas\u00a0bisnis Nintendo, tidak peduli berapa banyak tangan yang mencoba untuk mengarahkan rumah Mario untuk lebih jauh masuk dalam\u00a0<em>platform mobile<\/em> atau <em>software<\/em> di\u00a0masa depan, ia tetap berupaya untuk ada di dalam bisnisnya sehingga\u00a0ia dapat menjawab banyaknya pertanyaan yang mempertanyakan masa depan perusahaan <em>hardware video game\u00a0<\/em>ini.<\/p>\n<p><em><strong>Care &#8211; Sincere &#8211; Abundance Mentality<\/strong><\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Memang diakui bahwa Nintendo memasuki masa yang sulit pada tahun-tahun terakhir ini oleh karena persaingan teknologi telah menghempaskan penjualannya. Namun alih-alih memilih\u00a0untuk memangkas pekerjaan untuk menyelamatkan perusahaan dan menghadapi kekecewaan investor, Iwata memilih untuk memotong\u00a0gajinya dan menolak untuk memberhentikan para pekerjanya. Iwata sangat memperhatikan para pekerjanya dengan sebuah ketulusan hati.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Selain itu bersedia memperoleh pendapatan yang berkurang dengan demikian ia memiliki mental untuk mencukupkan dirinya dengan apa yang ada tanpa menuntut lebih.<\/p>\n<p><em><strong>Visionary<\/strong><\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Memimpin Nintendo selama 13 tahun telah membuatnya menjadi nahkoda yang menentukan arah perusahaan. Ketika dunia telah ramai dengan permainan yang mudah diperoleh di smartphone maka ia pun melakukan terobosan-terobosan baru untuk dapat mempertahankan kepopuleran Nintendo.<\/p>\n<p><strong><em>Decisive<\/em><\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pada tahun 2012, Nintendo pernah mengalami kecerobohan dalam peluncuran produknya. Pada waktu itu ini menyangkut ketidaktersediaan perangkat lunak pada hari pertama peluncuran, harga yang terlalu tinggi dan beberapa keluhan lainnya. Iwata tidak menyalahkan mereka yang harus bertanggung jawab atas kesalahan ini, namun ia mengambil tanggung jawab dan bersedia menerima pemotongan gaji peribadi sebesar 50% dan mengajukan permintaan maaf kepada penggemarnya dan para investor, serta memberikan kompensasi berupa permainan gratis.\u00a0Iwata dengan segara mengambil keputusan dan tanggung jawab berdasarkan intergritas yang dimilikinya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Delapan karakter pemimpin yang dimiliki Iwata ini telah membawa\u00a0Nintendo sampai ke puncak.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em><img decoding=\"async\" class=\"wp-image-38337 size-full alignleft\" src=\"https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2014\/06\/ruth_revisi.jpg\" alt=\"\" width=\"120\" height=\"120\" srcset=\"https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2014\/06\/ruth_revisi.jpg 120w, https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2014\/06\/ruth_revisi-90x90.jpg 90w\" sizes=\"(max-width: 120px) 100vw, 120px\" \/>Ruth Berliana\/VMN\/BL\/<\/em><em>Managing Partner Human Capital Development<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(Business Lounge &#8211; Lead &amp; Follow) erjalanan karir yang sekaligus merupakan \u00a0perjalanan hidup Satoru Iwata baru saja berakhir. Tepatnya pada Sabtu (11\/7), ketika CEO perusahaan raksasa\u00a0video game Nintendo ini tutup usia, di usianya yang ke-55. Namun sangat menarik untuk mempelajari sisi kepemimpinannya. Menurut founder\u00a0followerhip leadership theory,\u00a0Bernhard Sumbayak dan menurut survei yang telah dilakukan oleh Vibiz Consulting, maka ada 8 karakter yang wajib dimiliki oleh seorang pemimpin untuk mencapai kesuksesan. Ke-8 karkater ini juga yang ternyata dimiliki oleh\u00a0Satoru Iwata dalam mencapai [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":26,"featured_media":173231,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_editorskit_title_hidden":false,"_editorskit_reading_time":0,"_editorskit_typography_data":[],"_editorskit_blocks_typography":"","_editorskit_is_block_options_detached":false,"_editorskit_block_options_position":"{}","om_disable_all_campaigns":false,"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"_uf_show_specific_survey":0,"_uf_disable_surveys":false,"footnotes":""},"categories":[1044,15,1051],"tags":[6590],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/121223"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/26"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=121223"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/121223\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":173233,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/121223\/revisions\/173233"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/173231"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=121223"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=121223"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=121223"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}