{"id":120774,"date":"2015-07-10T07:57:45","date_gmt":"2015-07-10T00:57:45","guid":{"rendered":"http:\/\/businesslounge.co.id\/?p=120774"},"modified":"2015-07-10T08:02:07","modified_gmt":"2015-07-10T01:02:07","slug":"ainu-suku-yang-dilupakan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/2015\/07\/10\/ainu-suku-yang-dilupakan\/","title":{"rendered":"Ainu, Suku Yang Dilupakan"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">(Business Lounge &#8211; Culture)\u00a0Pernah mendengar tentang suku Ainu? Sejak di Sekolah Dasar yang saya tahu Ainu adalah nenek moyang bangsa Jepang yang sekarang dan mereka pendek-pendek. Setelah mengunjungi Shiraoi (baca:Shirowi) tempat museum Ainu berada, maka barulah saya mengetahui lebih banyak tentang suku Ainu.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Bagi Anda yang tertarik untuk mempelajari lebih banyak tentang Jepang, museum ini layak dikunjungi. Untuk menuju ke sana Anda harus dapat menumpang pesawat Domestik Jepang baik dari Kansai-Osaka maupun dari Tokyo. Saya bertolak dari Kansai, menempuh 1,5 jam menuju Sapporo, menggunakan pesawat domestic nasional Jepang: ANA. Dari Sapporo Anda harus naik bus selama 1,5 jam untuk dapat sampai ke Shiraoi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><a href=\"http:\/\/businesslounge.co.id\/wp-content\/uploads\/2015\/07\/Suku-Ainu-2.jpg\"><img decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-full wp-image-120784\" src=\"http:\/\/businesslounge.co.id\/wp-content\/uploads\/2015\/07\/Suku-Ainu-2.jpg\" alt=\"Suku Ainu 2\" width=\"2200\" height=\"600\" srcset=\"https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2015\/07\/Suku-Ainu-2.jpg 2200w, https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2015\/07\/Suku-Ainu-2-300x82.jpg 300w, https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2015\/07\/Suku-Ainu-2-1024x279.jpg 1024w\" sizes=\"(max-width: 2200px) 100vw, 2200px\" \/><\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Shiraoi Poroto Kotan<\/strong><br \/>\nBerada di kota Shiraoi, museum Ainu dibuat seperti model perkampungan suku Ainu. Penduduk Ainu yang sebenarnya sendiri tinggal lebih banyak di kota Otaru dan juga tinggal di dalam hutan dan lembah. Museum ini terletak di tepi danau Poroto sehingga tempat itu dinamakan Shiraoi Poroto Kotan yang artinya desa tepi danau Poroto di Shiraoi.<\/p>\n<figure id=\"attachment_120779\" aria-describedby=\"caption-attachment-120779\" style=\"width: 2500px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><a href=\"http:\/\/businesslounge.co.id\/wp-content\/uploads\/2015\/07\/Shiraoi-Poroto-Kotan.jpg\"><img decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-120779\" src=\"http:\/\/businesslounge.co.id\/wp-content\/uploads\/2015\/07\/Shiraoi-Poroto-Kotan.jpg\" alt=\"OLYMPUS DIGITAL CAMERA\" width=\"2500\" height=\"1875\" srcset=\"https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2015\/07\/Shiraoi-Poroto-Kotan.jpg 2500w, https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2015\/07\/Shiraoi-Poroto-Kotan-300x225.jpg 300w, https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2015\/07\/Shiraoi-Poroto-Kotan-1024x768.jpg 1024w, https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2015\/07\/Shiraoi-Poroto-Kotan-80x60.jpg 80w\" sizes=\"(max-width: 2500px) 100vw, 2500px\" \/><\/a><figcaption id=\"caption-attachment-120779\" class=\"wp-caption-text\">SHIRAOI POROTO KOTAN<\/figcaption><\/figure>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ainu sesungguhnya merupakan suku bangsa yang tertua di Jepang, merupakan campuran penduduk asli Hokkaido dengan Rusia karena berbatasan dengan Rusia di utara (pulau Sakhalin dan Kuril). Penduduknya lebih mirip dengan orang Mongolia dengan wajah yang cenderung bulat. Mereka juga ternyata tidak pendek, tinggi tubuhnya adalah seperti kebanyakan orang Asia lainnya. Suku Ainu memiliki bahasa asli sendiri dan kebudayaan yang masih dilestarikan hingga sekarang, walaupun menjadi suku minoritas yang hampir lenyap.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Terisolasi<\/strong><br \/>\nSejak jaman dinasti Meiji 1869, pemerintah Jepang justru mendiskriminasikan suku Ainu karena tidak ingin mereka memiliki kebudayaan sendiri yang berbeda dengan Jepang. Suku Ainu dirampas hak-haknya, tanah-tanah mereka diambil pemerintah dan tidak dilindungi. Hingga saat ini diskriminasi terhadap suku Ainu masih bersisa. Mereka tidak terlalu diperhatikan dan populasinya semakin menurun dari tahun ke tahun, dari ratusan ribu penduduk sekarang diperkirakan tinggal sekitar 25.000 orang saja. Jika mereka ingin sekolah, maka mereka harus bisa berbahasa Jepang lebih dulu. Ainu seperti tidak dianggap kehadirannya. Mereka terisolasi baik kebudayaan, bahasa dan kehidupan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Penduduk Ainu adalah suku bangsa pemburu. Mereka memburu beruang dan memakan daging beruang sehingga di rumah-rumah mereka selalu ditemukan kandang beruang. Mereka juga nelayan dan petani tradisional. Ikan kesukaan mereka adalah ikan Salmon yang biasa diawetkan dengan cara diasap di ruang tamu rumah-rumah mereka yang terbuat dari kayu. Pakaian dan sepatu merekapun mereka buat dari kulit ikan Salmon. Suku ini memiliki kepercayaan animisme dengan mempercayai\u00a0setiap benda yang mereka temui mereka yakini memiliki roh (<em>Kamuy<\/em>).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><a href=\"http:\/\/businesslounge.co.id\/wp-content\/uploads\/2015\/07\/Beruang-Suku-Ainu.jpg\"><img decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-full wp-image-120781\" src=\"http:\/\/businesslounge.co.id\/wp-content\/uploads\/2015\/07\/Beruang-Suku-Ainu.jpg\" alt=\"Beruang Suku Ainu\" width=\"1500\" height=\"600\" srcset=\"https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2015\/07\/Beruang-Suku-Ainu.jpg 1500w, https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2015\/07\/Beruang-Suku-Ainu-300x120.jpg 300w, https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2015\/07\/Beruang-Suku-Ainu-1024x410.jpg 1024w\" sizes=\"(max-width: 1500px) 100vw, 1500px\" \/><\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dilihat dari kemiripan dengan suku di Indonesia, suku Ainu lebih menyerupai suku-suku Dayak di Kalimantan. Suku Ainu yang tersisa pada masa kini sudah jarang yang masih merupakan suku asli, melainkan sudah campuran dengan suku lainnya di Jepang. Kebudayaannya perlahan mulai meluntur. Entah kenapa, tiba-tiba saya merasa Indonesia dengan banyaknya suku yang ada namun dapat menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia, sungguh sangat membanggakan.<\/p>\n<figure id=\"attachment_120783\" aria-describedby=\"caption-attachment-120783\" style=\"width: 2500px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><a href=\"http:\/\/businesslounge.co.id\/wp-content\/uploads\/2015\/07\/Suku-Ainu1.jpg\"><img decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-120783\" src=\"http:\/\/businesslounge.co.id\/wp-content\/uploads\/2015\/07\/Suku-Ainu1.jpg\" alt=\"OLYMPUS DIGITAL CAMERA\" width=\"2500\" height=\"1875\" srcset=\"https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2015\/07\/Suku-Ainu1.jpg 2500w, https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2015\/07\/Suku-Ainu1-300x225.jpg 300w, https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2015\/07\/Suku-Ainu1-1024x768.jpg 1024w, https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2015\/07\/Suku-Ainu1-80x60.jpg 80w\" sizes=\"(max-width: 2500px) 100vw, 2500px\" \/><\/a><figcaption id=\"caption-attachment-120783\" class=\"wp-caption-text\">SUKU AINU SEPERTI SUKU DAYAK DI INDONESIA<\/figcaption><\/figure>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Vera Herlina\/VMN\/BL\/CEO of Management Soft Skill Academies Vibiz Consulting Group<\/em><br \/>\nEditor: Ruth Berliana<br \/>\nImage: Vera Herlina<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(Business Lounge &#8211; Culture)\u00a0Pernah mendengar tentang suku Ainu? Sejak di Sekolah Dasar yang saya tahu Ainu adalah nenek moyang bangsa Jepang yang sekarang dan mereka pendek-pendek. Setelah mengunjungi Shiraoi (baca:Shirowi) tempat museum Ainu berada, maka barulah saya mengetahui lebih banyak tentang suku Ainu. Bagi Anda yang tertarik untuk mempelajari lebih banyak tentang Jepang, museum ini layak dikunjungi. Untuk menuju ke sana Anda harus dapat menumpang pesawat Domestik Jepang baik dari Kansai-Osaka maupun dari Tokyo. Saya bertolak dari Kansai, menempuh 1,5 [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":36,"featured_media":120775,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_editorskit_title_hidden":false,"_editorskit_reading_time":0,"_editorskit_typography_data":[],"_editorskit_blocks_typography":"","_editorskit_is_block_options_detached":false,"_editorskit_block_options_position":"{}","om_disable_all_campaigns":false,"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"_uf_show_specific_survey":0,"_uf_disable_surveys":false,"footnotes":""},"categories":[1052,1044],"tags":[6687,2107,591],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/120774"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/36"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=120774"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/120774\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":120791,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/120774\/revisions\/120791"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/120775"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=120774"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=120774"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=120774"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}