{"id":120605,"date":"2015-07-08T21:17:15","date_gmt":"2015-07-08T14:17:15","guid":{"rendered":"http:\/\/businesslounge.co.id\/?p=120605"},"modified":"2015-07-08T21:17:15","modified_gmt":"2015-07-08T14:17:15","slug":"mastercard-gunakan-foto-selfie-sebagai-password","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/2015\/07\/08\/mastercard-gunakan-foto-selfie-sebagai-password\/","title":{"rendered":"Mastercard Gunakan Foto Selfie Sebagai Password"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">(Business Lounge &#8211; Business Insight)\u00a0Anda mungkin sudah mendengar mengenai ide penggunaan emoji (karakter gambar) sebagai <em>password<\/em>. Ya sebuah perusahaan <em>software financial<\/em><em> asal Inggris, <\/em><em>Intelligent Environments<\/em> telah berhasil mengembangkan <em>software<\/em> yang memungkinkan penggunaan Emoji sebagai <em>passcode<\/em> (sistem keamanan\u00a0 transaksi perbankan) mengantikan <em>passcode<\/em> berupa angka yang biasa disebut PIN (Personal Identification Number). Nah kali ini\u00a0 sebuah ide baru lainnya datang dari Mastercard yang berencana memanfaatkan tren foto <em>selfie<\/em> sebagai <em>password<\/em>.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Mastercard adalah sebuah perusahaan <em>financial<\/em> yang merupakan salah satu penyedia kartu kredit dan debit terbesar di dunia. Perusahaan yang telah beroperasi di lebih dari 200 negara ini mengklaim menguasai 25 % transaksi melalui kartu kredit. Selama ini Mastercard menerapkan sistem yang disebut <em>Secure Code<\/em> untuk melakukan verifikasi identitas penggunanya ketika melakukan pembelian <em>online<\/em>. Dengan sistem ini pengguna harus memasukkan kode <em>password <\/em>kartu kredit mereka, hal ini dinilai kurang efektif karena pengguna harus menghafal kode<em> password <\/em>mereka<em>. <\/em>Selain itu secara keamanan juga beresiko terhadap pencurian<em> password. <\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dengan adanya fitur baru ini, maka nantinya pengguna dapat menggunakan foto <em>selfie<\/em> dalam proses validasi, sehingga tidak perlu susah payah menghafal nomor pin lagi. Untuk alasan keamanan, pengguna akan diminta berpose <em>selfie<\/em> sambil berkedip, hal ini untuk membuktikan bahwa memang wajah asli, bukan sekedar foto. Jika wajah pengguna sesuai dengan data yang ada, maka transaksi akan dinyatakan berhasil. Selain dengan foto <em>selfie<\/em>, teknologi ini juga memberikan pilihan kepada penggunanya untuk menggunakan sidik jari (<em>fingerprint<\/em>) sebagai metode verifikasi, tentu saja jika <em>smart phone<\/em> pengguna mendukung untuk\u00a0 proses <em>scanner<\/em> sidik jari ini.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Adapun teknologi yang digunakan dalam fitur baru ini adalah teknologi biometrik pengenal wajah. Data berupa sidik jari atau foto wajah pengguna ini nantinya akan dikonversi menjadi kode-kode dengan menggunakan teknologi <em>facial recognition.<\/em> Nah kode tersebutlah yang akan dikirimkan ke <em>database<\/em> Mastercard, untuk mencocokkan dengan data foto penggunanya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Untuk menggunakan fitur baru ini, pengguna harus mengunduh aplikasi tersebut terlebih dahulu melalui smartphone mereka. Sejauh ini fitur ini masih dalam tahap uji coba ke 500 penggunanya, dan rencananya baru akan diluncurkan untuk umum pada September 2015 nanti.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Selain penggunaan foto <em>selfie<\/em> sebagai <em>password<\/em>, perusahaan Mastercard juga dikabarkan tengah melakukan riset untuk mengembangkan\u00a0 beberapa metode verifikasi lain yaitu berupa <em>voice <\/em><em>recognition, <\/em>dan juga dengan membaca detak jantung sebagai metode verifikasi identitas pengguna.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sama seperti penggunaan emoji,alasan pengembangan teknologi penggunaan foto selfie sebagai <em>password<\/em> ini juga karena dinilai lebih aman dan lebih mudah dibandingkan metode PIN. Ajay Bhalla selaku Chief Product Security Officer dari Master Card mengatakan bahwa teknologi ini tentunya akan mendapat dukungan dari anak-anak muda yang memang gemar selfie. Hal yang sama yang menjadi alasan penggunaan emoji, karena digemari anak-anak muda.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Nah, terlepas dari semua prediksi ini, sukses tidaknya tergantung dari kebiasaan penggunanya lagi. Bagaimana menurut Anda, apakah Anda berminat mencoba <em>password<\/em> jenis baru ini, atau Anda masih lebih suka dengan metode lama yang menggunakan PIN?<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Rebecca Hayati\/VMN\/BL\/Managing Partner E-Commerce<\/em><br \/>\nEditor: Ruth Berliana<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(Business Lounge &#8211; Business Insight)\u00a0Anda mungkin sudah mendengar mengenai ide penggunaan emoji (karakter gambar) sebagai password. Ya sebuah perusahaan software financial asal Inggris, Intelligent Environments telah berhasil mengembangkan software yang memungkinkan penggunaan Emoji sebagai passcode (sistem keamanan\u00a0 transaksi perbankan) mengantikan passcode berupa angka yang biasa disebut PIN (Personal Identification Number). Nah kali ini\u00a0 sebuah ide baru lainnya datang dari Mastercard yang berencana memanfaatkan tren foto selfie sebagai password. Mastercard adalah sebuah perusahaan financial yang merupakan salah satu penyedia kartu kredit [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":36,"featured_media":111395,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_editorskit_title_hidden":false,"_editorskit_reading_time":0,"_editorskit_typography_data":[],"_editorskit_blocks_typography":"","_editorskit_is_block_options_detached":false,"_editorskit_block_options_position":"{}","om_disable_all_campaigns":false,"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"_uf_show_specific_survey":0,"_uf_disable_surveys":false,"footnotes":""},"categories":[1044,120],"tags":[4909,6678],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/120605"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/36"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=120605"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/120605\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":120606,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/120605\/revisions\/120606"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/111395"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=120605"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=120605"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=120605"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}