{"id":120516,"date":"2015-07-08T21:12:52","date_gmt":"2015-07-08T14:12:52","guid":{"rendered":"http:\/\/businesslounge.co.id\/?p=120516"},"modified":"2015-07-08T21:12:52","modified_gmt":"2015-07-08T14:12:52","slug":"citi-lakukan-riset-untuk-pemecahan-masalah-yunani","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/2015\/07\/08\/citi-lakukan-riset-untuk-pemecahan-masalah-yunani\/","title":{"rendered":"Citi Lakukan Riset Untuk Pemecahan Masalah Yunani"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">(Business Lounge &#8211; Business Insight) Yunani telah berada dalam masa krisis selama 6 tahun dan kesimpulannya hanya satu, bahwa\u00a0Yunani membutuhkan uang. Untuk itu Yunani perlu mencari dana bantuan yang kemudian akan menambah jumlah hutangnya yang kemudian harus dia bayarkan kembali dan begitu seterusnya bagaikan sebuah siklus yang akan terus berlangsung demikian.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Namun saat ini tidak mudah bagi Yunani untuk memperoleh dana bantuan mengingat persyaratan yang diajukan oleh Uni Eropa yang bagi Yunani dianggap memberatkan Yunani.\u00a0Willem Buiter, chief global economist Citigroup mengatakan bahwa\u00a0ini\u00a0saatnya untuk mematahkan siklus itu, demikian bagaimana Buiter dan timnya membuat sebuah riset bagaimana Yunani dapat keluar dari lingkaran ini. &#8220;<em>It\u2019s Time to Break the Never-ending Cycle of Crises in Greece,<\/em>&#8221; demikian yang dituliskan Buiter.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8230; Untuk perjanjian berikutnya antara Yunani dan kreditor untuk memutus siklus yang tidak pernah berakhir dan berbahaya serta dapat membawa kerugian, maka ada dua\u00a0kondisi penting yang perlu diperhatikan: pertama, untuk memberikan apa yang diharapkan oleh rakyat\u00a0Yunani agar mereka menjadi tuan atas cita-cita mereka sendiri; dan kedua, untuk membatasi eksposur\u00a0dari kreditor.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Untuk mencapai kedua hal ini maka Citigroup mengajukan lima langkah:<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Langkah pertama, untuk menghasilkan kesepakatan dengan Yunani maka Buiter berpendapat sebaiknya diberikan kebebasan bagi\u00a0pemerintah Yunani untuk melakukan apa yang mereka anggap baik\u00a0sesuai dengan keinginan mereka, meskipun kekurangan uang yang dialaminya harus didanai oleh\u00a0pasar. Ini berarti bahwa kebijakan yang diambil akan dimiliki oleh Athena, bukan hanya dikenakan kepada pemerintah Yunani oleh troika dan European Stability Mechanism (ESM). Lagi menurut Buiter adanya pengawasan lembaga-lembaga internasional yang menurutnya terkadang berlebihan\u00a0harus diakhiri.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kedua, utang Yunani yang dimiliki\u00a0oleh negara dan harus dibayarkan kepada ECB dan IMF-sekitar \u20ac 48 miliar (707 triliun rupiah) namun perlu untuk disepakati kembali lewat ESM. Ini adalah kuncinya, demikian menurut Buiter, karena dengan demikian pemerintah Yunani dapat\u00a0&#8220;menyatakan\u00a0penangguhan kewajiban secara terbuka&#8221;. Ini dapat mengubah sebagian\u00a0atau semua kewajibannya hingga mencapai GDP yang sesuai dengan targetnya, katakanlah, tingkat 10 persen di atas tingkat tertinggi\u00a0sebelumnya (2007). Pilihan tersebut akan didorong oleh kepentingan relatif dari akses pasar masa depan terhadap utang saat ini dan penghematan. &#8220;Akibatnya, hal itu akan memungkinkan Yunani untuk memperluas jalan untuk keluar dari resesi.&#8221;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ketiga, Buiter mengatakan, lembaga-lembaga internasional harus menghentikan meminjamkan uang pada\u00a0Yunani sebagai imbalan untuk pendanaan lanjutan dan beberapa bantuan utang dari &#8216;kreditor resmi&#8217; Yunani. Pada dasarnya, pemerintah Yunani harus mandiri\u00a0secara finansial, katanya. Hal ini berisiko karena tidak jelas apakah pasar akan mendukung Yunani pada saat ini.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Keempat,\u00a0untuk menghindari pemberian pinjaman\u00a0lembaga-lembaga internasional secara tidak resmi langsung diterima oleh\u00a0pemerintah Yunani, ECB tidak akan lagi menerima permintaan utang dari pemerintah atau instrumen keuangan yang dijamin oleh negara Yunani sebagai jaminan untuk rutin atau bahkan dana darurat operasi. Obligasi pemerintah Yunani lagi bisa menjadi layak sekali negara telah memenangkan kembali peringkat kredit investasi kelas nya, atau sesuatu yang serupa.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kelima,\u00a0melibatkan Bantuan Likuiditas Darurat (ELA), yang disediakan oleh bank sentral Yunani selama dewan gubernur ECB memberikan persetujuannya. Ini telah menjadi sumber pendanaan utama bagi bank-bank Yunani untuk berbulan-bulan. Citi mengatakan perlu ada &#8220;rekapitalisasi dan restrukturisasi&#8221; di bank-bank untuk memberikan mereka kemampuan untuk berfungsi tanpa agunan terkait pemerintah Yunani untuk mengamankan pinjaman. Otoritas Eropa harus melakukan restrukturisasi ini, mungkin melalui ESM, yang akan meninggalkan mekanisme sebagai main-mungkin satu-satunya-pemegang saham bank-bank Yunani. Setelah ini, bank-bank Yunani masih akan memiliki akses ke dana dari ECB dan ELA, dengan asumsi bahwa mereka dianggap cocok untuk menawarkan jaminan yang memadai yang tidak terkait dengan pemerintah Yunani.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>citra\/VMN\/BL\/Journalist<\/em><br \/>\nEditor: Ruth Berliana<br \/>\nImage : Antara<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(Business Lounge &#8211; Business Insight) Yunani telah berada dalam masa krisis selama 6 tahun dan kesimpulannya hanya satu, bahwa\u00a0Yunani membutuhkan uang. Untuk itu Yunani perlu mencari dana bantuan yang kemudian akan menambah jumlah hutangnya yang kemudian harus dia bayarkan kembali dan begitu seterusnya bagaikan sebuah siklus yang akan terus berlangsung demikian. Namun saat ini tidak mudah bagi Yunani untuk memperoleh dana bantuan mengingat persyaratan yang diajukan oleh Uni Eropa yang bagi Yunani dianggap memberatkan Yunani.\u00a0Willem Buiter, chief global economist Citigroup [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":36,"featured_media":119660,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_editorskit_title_hidden":false,"_editorskit_reading_time":0,"_editorskit_typography_data":[],"_editorskit_blocks_typography":"","_editorskit_is_block_options_detached":false,"_editorskit_block_options_position":"{}","om_disable_all_campaigns":false,"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"_uf_show_specific_survey":0,"_uf_disable_surveys":false,"footnotes":""},"categories":[1044,120],"tags":[4909,2542],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/120516"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/36"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=120516"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/120516\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":120603,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/120516\/revisions\/120603"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/119660"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=120516"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=120516"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=120516"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}