{"id":119951,"date":"2015-07-04T14:51:14","date_gmt":"2015-07-04T07:51:14","guid":{"rendered":"http:\/\/businesslounge.co.id\/?p=119951"},"modified":"2015-07-04T14:51:14","modified_gmt":"2015-07-04T07:51:14","slug":"wanita-jepang-merasa-lebih-cepat-tua-dari-pria-jepang","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/2015\/07\/04\/wanita-jepang-merasa-lebih-cepat-tua-dari-pria-jepang\/","title":{"rendered":"Wanita Jepang Merasa Lebih Cepat Tua dari Pria Jepang"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">(Business Lounge &#8211; Culture)\u00a0Anda mungkin pernah mendengar bahwa Jepang saat ini merupakan negara dengan\u00a0proporsi warga lansia tertinggi dibandingkan dengan negara-negara lain. Sehingga Jepang sangat\u00a0terobsesi dengan anak-anak muda. Namun demikian sering kali Jepang mendiskriminasikan orang berdasarkan usia khususnya terhadap wanita.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sebuah jajak pendapat terbaru diadakan dengan melemparkan pertanyaan &#8220;pada usia berapa seorang wanita menjadi setengah baya?&#8221; dan hasilnya sangat jitu dengan seperti dilansir oleh Japantoday.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Di Jepang, adalah\u00a0wajar untuk menyebut seseorang menggunakan karakteristik yang paling menentukan mereka. Mengatakan &#8220;Anda&#8221; sering dianggap terlalu langsung dan sopan, sehingga cara yang baik untuk menghindari ini adalah untuk mengatasi seseorang sesuai dengan posisi mereka di masyarakat. Dengan demikian, sopir taksi akan disebut &#8220;Mr. Driver &#8220;dan tukang pos akan disebut &#8221; Mr. Postman &#8220;.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Demikian pula, jika Anda tidak tahu nama seseorang atau status, Anda dapat merujuk kepada mereka menggunakan usia mereka sebagai pedoman dasar. Seorang gadis muda mungkin disebut &#8220;ojosan&#8221; (nona muda), seorang wanita muda mungkin disebut &#8220;onesan&#8221; (kakak) dan seorang wanita setengah baya menjadi &#8220;obasan&#8221; (tante). Demikian pula, seorang pemuda mungkin &#8220;oniisan&#8221; (kakak) dan seorang pria setengah baya &#8220;ojisan&#8221; (om).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">MyNavi, sebuah media online\u00a0penempatan kerja terbesar di Jepang mengadakan sebuah jajak pendapat mengenai\u00a0pada usia berapa pergeseran penamaan bagi perempuan ini terjadi. Pertanyaan ini diberikan kepada\u00a0300 pria dan wanita lajang di Jepang, &#8220;Pada usia berapa terjadi pergeseran pada wanita dari &#8220;kakak&#8221;\u00a0menjadi\u00a0&#8220;tante&#8221;? Hasilnya adalah sebagai berikut:<\/p>\n<p>Pria mengatakan:<\/p>\n<p>Pada usia\u00a0dua puluhan 8%<br \/>\nPada usia\u00a0tiga puluhan 9%<br \/>\nPada usia\u00a0empat puluhan 63%<br \/>\nPada usia\u00a0lima puluhan nya: 20%<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dari data ini, kita dapat dengan jelas melihat bahwa kebanyakan pria Jepang berpikir wanita Jepang beralih dari &#8220;kakak&#8221; menjadi\u00a0&#8220;tante&#8221; pada usia\u00a0empat puluhan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Namun, jawaban wanita yang sangat berbeda.<\/p>\n<p>Wanita mengatakan:<\/p>\n<p>Pada usia dua puluhan 6%<br \/>\nPada usia tiga puluhan 55%<br \/>\nPada usia empat puluhan 29%<br \/>\nPada usia lima puluhan nya: 10%<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Lebih dari setengah dari wanita yang disurvei menjawab bahwa seorang wanita Jepang beralih dari &#8220;kakak&#8221; menjadi\u00a0&#8220;tante&#8221; pada usia tiga puluhan. Ini berbicara banyak tentang perempuan Jepang ada dalam kecemasan atas penuaan. Memang, di Jepang nilai sosial utama wanita masih terikat dalam perkawinan dan memiliki\u00a0anak. Sebagaimana banyak pendapat mengatakan bahwa kesuburan mulai menurun dari usia 32, maka tampaknya banyak yang percaya bahwa wanita menjadi &#8220;tua&#8221; pada usia yang jauh lebih muda daripada pria.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Namun apa yang membesarkan hati pada wanita Jepang ini? Bagaimanapun, adalah bahwa para pria Jepang\u00a0yang disurvei tampaknya memungkinkan dekade tambahan untuk perempuan sebelum mempertimbangkan mereka &#8220;setengah baya.&#8221; Ini mengisyaratkan bahwa perempuan jauh lebih keras pada diri mereka sendiri.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>nancy\/VMN\/BL\/Journalist<\/em><br \/>\nEditor: Ruth Berliana<br \/>\nImage : flickr &#8211;\u00a0<a class=\"owner-name truncate\" title=\"Go to mrhayata's photostream\" href=\"https:\/\/www.flickr.com\/photos\/mrhayata\/8257748148\/\" data-track=\"attributionNameClick\" data-rapid_p=\"35\">mrhayata<\/a><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(Business Lounge &#8211; Culture)\u00a0Anda mungkin pernah mendengar bahwa Jepang saat ini merupakan negara dengan\u00a0proporsi warga lansia tertinggi dibandingkan dengan negara-negara lain. Sehingga Jepang sangat\u00a0terobsesi dengan anak-anak muda. Namun demikian sering kali Jepang mendiskriminasikan orang berdasarkan usia khususnya terhadap wanita. Sebuah jajak pendapat terbaru diadakan dengan melemparkan pertanyaan &#8220;pada usia berapa seorang wanita menjadi setengah baya?&#8221; dan hasilnya sangat jitu dengan seperti dilansir oleh Japantoday. Di Jepang, adalah\u00a0wajar untuk menyebut seseorang menggunakan karakteristik yang paling menentukan mereka. Mengatakan &#8220;Anda&#8221; sering dianggap [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":36,"featured_media":119952,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_editorskit_title_hidden":false,"_editorskit_reading_time":0,"_editorskit_typography_data":[],"_editorskit_blocks_typography":"","_editorskit_is_block_options_detached":false,"_editorskit_block_options_position":"{}","om_disable_all_campaigns":false,"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"_uf_show_specific_survey":0,"_uf_disable_surveys":false,"footnotes":""},"categories":[1044],"tags":[5787,620],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/119951"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/36"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=119951"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/119951\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":119954,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/119951\/revisions\/119954"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/119952"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=119951"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=119951"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=119951"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}