{"id":118365,"date":"2015-06-25T09:25:14","date_gmt":"2015-06-25T02:25:14","guid":{"rendered":"http:\/\/businesslounge.co.id\/?p=118365"},"modified":"2015-06-25T09:28:34","modified_gmt":"2015-06-25T02:28:34","slug":"bila-emoji-digunakan-sebagai-passcode","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/2015\/06\/25\/bila-emoji-digunakan-sebagai-passcode\/","title":{"rendered":"Bila Emoji Digunakan Sebagai Passcode"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">(Business Lounge &#8211; Technology)\u00a0Penggunaan angka, huruf atau kombinasi keduanya sebagai <em>password<\/em> sudah merupakan hal yang biasa, namun\u00a0bagaimana dengan penggunaan emoji sebagai <em>password<\/em>? Ini merupakan ide yang baru. Sebuah perusahaan <em>software financial<\/em> asal Inggris, <em>Intelligent Environments<\/em>, dikabarkan telah berhasil mengembangkan sebuah <em>software<\/em> yang memungkinkan penggunaan Emoji sebagai <em>passcode<\/em> (sistem keamanan\u00a0 transaksi perbankan) mengantikan <em>passcode<\/em> berupa yang biasa disebut PIN (Personal Identification Number). Emoji (karakter gambar) yang biasanya digunakan untuk mengungkapkan ekspresi di dalam aplikasi pesan instant, kini penggunaannya diperluas sebagai teknologi keamanan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Penggunaan emoji sebagai <em>passcode<\/em> dinilai lebih aman dibandingkan dengan penggunaan angka, hal ini dikarenakan jumlah kombinasi yang dihasilkan jauh lebih banyak dari yang dihasilkan oleh kombinasi angka. Emoji yang disediakan terdiri dari 44 kombinasi, sementara PIN konvensional hanya memungkinkan kombinasi angka 0 hingga 9. Dengan sistem empat nomor yang biasa diterapkan, maka jika menggunakan emoji maka akan menghasilkan kombinasi sebanyak 3,2 juta (3,258,024), sedangkan dengan pin angka hanya menghasilkan kombinasi sebanyak 5,040 saja. Selain itu <em>password<\/em> emoji juga \u00a0lebih mudah diingat oleh penggunanya ketimbang password angka. <em>&#8220;Cara ini juga lebih mudah diingat manusia karena manusia lebih mudah mengingat gambar,&#8221;<\/em> ujar Tony Buzan, seorang pakar teknologi. Menurut Buzan, manusia cenderung mengingat informasi dengan lebih banyak dan akurat jika berbentuk gambar. Menurut riset perusahaan ini, sepertiga dari 1300 responden orang pernah lupa dengan <em>password<\/em> atau PIN-nya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><a href=\"http:\/\/businesslounge.co.id\/wp-content\/uploads\/2015\/06\/flickr-downloadsource.fr_.jpg\"><img decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-full wp-image-118371\" src=\"http:\/\/businesslounge.co.id\/wp-content\/uploads\/2015\/06\/flickr-downloadsource.fr_.jpg\" alt=\"flickr - downloadsource.fr\" width=\"640\" height=\"312\" srcset=\"https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2015\/06\/flickr-downloadsource.fr_.jpg 640w, https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2015\/06\/flickr-downloadsource.fr_-300x146.jpg 300w\" sizes=\"(max-width: 640px) 100vw, 640px\" \/><\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Selain faktor keamanan dan mudah diingat, ide mengembangkan <em>passcode<\/em> emoji disebabkan karena temuan perusahaan bahwa kebanyakan orang sekarang berkomunikasi menggunakan emoji, khususnya pada generasi milenial. Penelitian <em>Intelligent Environments\u00a0<\/em>menunjukkan 64% dari generasi Y\u00a0berkomunikasi menggunakan emoji\u00a0secara teratur. Jadi teknologi baru ini memang menargetkan pengguna berusia muda 15-25 tahun.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kendati lebih aman, ahli keamanan komputasi Profesor Alan Woodward menyarankan agar penggunaan <em>passcode<\/em> emoji tetap menyertakan sistem keamanan otentikasi dua langkah. Hal ini penting untuk menghadapi para <em>hacker<\/em> yang terus berusaha membobol sistem keamanan perbankan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Teknologi emoji sebagai <em>password<\/em> saat ini sudah siap digunakan, pihak perusahaan kini sedang mencari mitra untuk mengembangkannya. Kabarnya pihak perusahaan sedang berdiskusi dengan sejumlah bank untuk menerapkan ide ini pada sistem keamanan perbankan mereka. Sejauh ini pihak <em>Intelligent Environments<\/em> tidak mematenkan temuan mereka ini, walaupun mereka merupakan yang pertama dalam menawarkan layanan seperti ini.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Terlepas dari lebih amannya emoji <em>pascode<\/em>, apakah penggunaan emoji sebagai<em> passcode<\/em> ini akan populer atau tidak, tergantung juga pada faktor kebiasaan pengguna. Nah, bagaiamana dengan Anda? Apakah Anda ingin mencoba <em>password<\/em> jenis baru ini, atau Anda masih lebih suka dengan metode lama yang menggunakan PIN?<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Rebecca Hayati\/VMN\/BL\/Managing Partner E-Commerce<br \/>\nEditor: Ruth Berliana<br \/>\nImage:\u00a0flickr &#8211;\u00a0<a class=\"owner-name truncate\" title=\"Go to Fred Benenson's photostream\" href=\"https:\/\/www.flickr.com\/photos\/fcb\/4258021946\/\" data-track=\"attributionNameClick\" data-rapid_p=\"35\">Fred Benenson<\/a>,\u00a0<a class=\"owner-name truncate\" title=\"Go to downloadsource.fr's photostream\" href=\"https:\/\/www.flickr.com\/photos\/downloadsourcefr\/16174110883\/\" data-track=\"attributionNameClick\" data-rapid_p=\"35\">downloadsource.fr<\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(Business Lounge &#8211; Technology)\u00a0Penggunaan angka, huruf atau kombinasi keduanya sebagai password sudah merupakan hal yang biasa, namun\u00a0bagaimana dengan penggunaan emoji sebagai password? Ini merupakan ide yang baru. Sebuah perusahaan software financial asal Inggris, Intelligent Environments, dikabarkan telah berhasil mengembangkan sebuah software yang memungkinkan penggunaan Emoji sebagai passcode (sistem keamanan\u00a0 transaksi perbankan) mengantikan passcode berupa yang biasa disebut PIN (Personal Identification Number). Emoji (karakter gambar) yang biasanya digunakan untuk mengungkapkan ekspresi di dalam aplikasi pesan instant, kini penggunaannya diperluas sebagai teknologi [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":36,"featured_media":118367,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_editorskit_title_hidden":false,"_editorskit_reading_time":0,"_editorskit_typography_data":[],"_editorskit_blocks_typography":"","_editorskit_is_block_options_detached":false,"_editorskit_block_options_position":"{}","om_disable_all_campaigns":false,"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"_uf_show_specific_survey":0,"_uf_disable_surveys":false,"footnotes":""},"categories":[1044,7941],"tags":[6607,1058],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/118365"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/36"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=118365"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/118365\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":118375,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/118365\/revisions\/118375"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/118367"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=118365"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=118365"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=118365"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}