{"id":117151,"date":"2015-06-17T19:41:05","date_gmt":"2015-06-17T12:41:05","guid":{"rendered":"http:\/\/businesslounge.co.id\/?p=117151"},"modified":"2015-06-17T19:41:06","modified_gmt":"2015-06-17T12:41:06","slug":"riset-dan-esensi-berpikir-ilmiah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/2015\/06\/17\/riset-dan-esensi-berpikir-ilmiah\/","title":{"rendered":"Riset dan Esensi Berpikir Ilmiah"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">(Business Lounge &#8211; Manage Your Business)\u00a0Untuk meningkatkan dan mengevaluasi kinerja sebuah perusahaan atau organisasi diperlukan suatu riset.\u00a0Riset atau penelitian adalah sebuah kegiatan evaluasi atau <em>review<\/em> terhadap sebuah proses, produk ataupun layanan.\u00a0Tentu saja sebuah riset tidak dapat dipisahkan dengan metoda yang akan dipakai supaya hasil yang didapatkan <em>valid<\/em> dan akurat. Metoda yang dilakukan tentu membutuhkan suatu pemikiran ilmiah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sebelum membahas langkah-langkah yang perlu dilakukan dalam sebuah riset, kita akan masuk terlebih dahulu dengan berpikir ilmiah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">John Dewey yang dikenal sebagai <em>Father of Pragmatism<\/em> memberikan garis besar tentang tahapan berpikir ilmiah untuk melakukan sebuah riset.\u00a0Dewey membaginya dalam 5 tahapan sebagai berikut:<\/p>\n<ol style=\"text-align: justify;\">\n<li><em>The felt need<\/em><\/li>\n<li><em>The problem<\/em><\/li>\n<li><em>The hypotesis<\/em><\/li>\n<li><em>Collection of data as avidence<\/em><\/li>\n<li><em>Concluding belief<\/em><\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>The felt need<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pada tahap awal, kebanyakan orang akan merasakan suatu kesulitan karena belum memulai.\u00a0Namun, perlu dicatat bahwa tahap ini akan sangat menentukan tahap berikutnya karena pada tahap ini kita harus menentukan apa yang menjadi objek atau pokok persoalan. Karena itu\u00a0dibutuhkan penyesuaian untuk memulai melakukan sesuatu.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Antara tujuan yang ingin dicapai dengan apa yang akan dilakukan pada tahap ini kita akan dihasilkan\u00a0apa yang menjadi ciri-ciri dari suatu objek.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>The Problem<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Menelusuri dan menetapkan apa inti persoalan atau penyebab masalahnya. Seorang pemikir ilmiah pasti akan berusaha menegaskan persoalan dalam bentuk perumusan masalah.\u00a0Sebelum dikaji dan di telaah, maka dibuatkan rumusan masalahnya, sehingga dapat di tentukan langkah selanjutnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>The Hypotesis<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pada tahap yang ketiga, mulai masuk pada kemungkinan-kemungkinan yang dapat dilakukan untuk memecahkan persoalan atau masalah yang terjadi.\u00a0Hipotesis boleh didasarkan atas terkaan, dugaan-dugaan yang berdasar, artinya semua harus\u00a0 ditanggungjawabi.\u00a0Terkaan atau dugaan ini tentu bersifat sangat sementara dan belum tentu benar atau tepat seluruhnya.\u00a0Biasanya akan dipakai juga teori-teori yang menunjang sesuai dengan masalah yang terjadi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Collection of data as avidence <\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Mengumpulkan bukti-bukti pendukung sangatlah perlu.\u00a0Karena pada tahap inilah fakta akan berbicara dan menjadi dasar pemikiran dan pertimbangan.\u00a0Bahan-bahan, informasi-informasi, atau bukti pendukung yang\u00a0 lain, dikumpulkan dan dilakukan pengolahan.\u00a0Melalui pengolahan yang logis mulai diuji untuk mendapatkan suatu gagasan tertentu beserta implikasinya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Concluding believe<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Tahap ini mengacu pada hasil dari bukti-bukti yang sudah dikumpulkan dan diolah tersebut di atas.\u00a0Dengan jalan analisis yang terkontrol atau hipotesis yang diajukan kemudian disusun keyakinan sebagai konklusi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>General value of the conclusion<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Jika pemecahan telah dipandang tepat, dapat disimpulkan implikasi-implikasinya untuk kelanjutan dan penerapan selanjutnya di masa mendatang.\u00a0Ini biasa disebut sebagai refleksi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Berikut <em>Background<\/em> Pengetahuan sebagai <em>framework<\/em>\u00a0yang dapat menunjukan bahwa ia tahu secukupnya atas persoalan yang akan di telitinya<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">a. Dapat membuktikan bahwa dia mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal-hal lain yang berhubungan erat dengan persoalan risetnya<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">b. Tahu batas-batas dari persoalan penting yang akan diselidiki dengan persoalan lain yang tidak termasuk dalam wilayah penelitiannya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">c. Jika proyek itu bukan riset eksploratif, dia dapat mengemukakan hipotesis sebagai pedoman dalam aktivitas riset yang akan dilakukan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Ria Felisha\/VMN\/BL\/Contributor<\/em><br \/>\nEditor: Ruth Berliana<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(Business Lounge &#8211; Manage Your Business)\u00a0Untuk meningkatkan dan mengevaluasi kinerja sebuah perusahaan atau organisasi diperlukan suatu riset.\u00a0Riset atau penelitian adalah sebuah kegiatan evaluasi atau review terhadap sebuah proses, produk ataupun layanan.\u00a0Tentu saja sebuah riset tidak dapat dipisahkan dengan metoda yang akan dipakai supaya hasil yang didapatkan valid dan akurat. Metoda yang dilakukan tentu membutuhkan suatu pemikiran ilmiah. Sebelum membahas langkah-langkah yang perlu dilakukan dalam sebuah riset, kita akan masuk terlebih dahulu dengan berpikir ilmiah. John Dewey yang dikenal sebagai Father [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":36,"featured_media":112667,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_editorskit_title_hidden":false,"_editorskit_reading_time":0,"_editorskit_typography_data":[],"_editorskit_blocks_typography":"","_editorskit_is_block_options_detached":false,"_editorskit_block_options_position":"{}","om_disable_all_campaigns":false,"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"_uf_show_specific_survey":0,"_uf_disable_surveys":false,"footnotes":""},"categories":[1044,17,1051],"tags":[4949],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/117151"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/36"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=117151"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/117151\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":117153,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/117151\/revisions\/117153"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/112667"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=117151"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=117151"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=117151"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}