{"id":116284,"date":"2015-06-11T07:05:16","date_gmt":"2015-06-11T00:05:16","guid":{"rendered":"http:\/\/businesslounge.co.id\/?p=116284"},"modified":"2015-06-11T07:05:16","modified_gmt":"2015-06-11T00:05:16","slug":"mengatasi-now-syndrome","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/2015\/06\/11\/mengatasi-now-syndrome\/","title":{"rendered":"Mengatasi Now Syndrome"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">(Business Lounge &#8211; Empower People)\u00a0Seorang manajer di sebuah perusahaan pusing tujuh keliling ketika <em>stakeholder<\/em> perusahaannya\u00a0meminta seluruh hasil pekerjaannya \u201csekarang\u201d. Wajahnya kusut dan dia kebingungan untuk mengerjakan permintaan yang mana terlebih dahulu. Apa yang terjadi ini bisa disebut dengan \u201c<em>now syndrome<\/em>\u201d\u00a0 kondisi ketika\u00a0seluruh <em>stakeholder<\/em>, baik pimpinan sebuah divisi, rekan kerja, bawahan, atau pelanggan, penyelia, pemerintah, partner bisnis semuanya menuntut apa yang menjadi kewajiban seorang karyawan \u201csekarang\u201d. Hal ini disebut <em>syndrome, <\/em>karena tuntutan \u201csekarang\u2019 juga timbul untuk hasil pekerjaan yang tidak membutuhkan waktu penyelesaian dengan segera.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201c<em>Now Syndrome<\/em>\u201d merupakan hasil dari lingkungan bisnis di kota-kota besar dunia yang sangat ketat dalam persaingan, sehingga kecepatan dalam memberikan layanan merupakan janji yang diberikan kepada pelanggan. Setiap kali transaksi dalam bisnis terjadi, manajemen perusahaan akan berusaha menyelesaikannya dengan cepat. Penyebab lain dari timbulnya <em>syndrome<\/em> ini adalah kebutuhan uang tunai yang didapatkan melalui transaksi bisnis. Perusahaan dituntut memiliki putaran uang tunai yang cepat karena efisiensi yang terjadi, semakin cepat perputaran uang semakin sedikit menggunakan modal kerja, dan semakin efisien perusahaan tersebut. Bila janji kepada pelanggan bisa diselesaikan maka pembayaran akan transaksi semakin dapat segera dilakukan. Penyebab <em>syndrome<\/em> yang ketiga adalah terbukanya batas-batas komunikasi dunia melalui dunia maya. Apa yang terjadi di Amerika pada saat itu juga bisa diketahui oleh masyarakat yang ada di Jakarta. Internet memungkinkan komunikasi dilakukan dengan murah, dan sangat mempercepat segala sesuatu. Pada bisnis media, kondisi ini sangatlah terasa, kisah-kisah yang terjadi di Indonesia akan dengan cepat diliput seluruh media internasional dalam hitungan menit saja. Bila tidak menyelesaikan janji atau komitment dengan cepat , yang terjadi informasi yang disajikan akan menjadi tidak berguna, dan membuat kerugian bagi perusahaan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Syndrome<\/em> ini mewabah mejadi perilaku masyarakat perkotaan khususnya dalam segala sisi hidupnya akan segera meminta \u201csekarang!\u201d sekalipun bukan prioritas. Seperti pusaran air yang demikian cepat, arus ini berdampak kepada banyak hal, mulai dari kehidupan pribadi hingga kepada pemerintahan, yang semuanya berlomba agar bisa \u201csekarang\u201d selesai. Tanpa saya sadari, saya sudah ada di arus ini dan perlu memiliki cara untuk tidak terkena <em>now syndrome. <\/em>Memang ada moto yang mengatakan <em>don\u2019t put till tomorrow what you can do today! <\/em>Tentunya ini adalah moto yang bagus, namun saat seluruh hal berubah mejadi sekarang, maka akan terjadi konflik dalam mengatur waktu, dan kalau saya seorang pemimpin, bawahan saya akan kebingungan kalau semua saya minta untuk selesai sekarang. Buat saya untuk menghindarinya perlu ada perencanaan waktu yang benar, pekerjaan yang sifatnya <em>urgent important<\/em> tentu harus diselesaikan sekarang, namun yang sifatnya <em>not urgent <\/em>dan<em> not important <\/em>bisa dipertimbangkan untuk dilakukan tidak sekarang.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><a href=\"http:\/\/businesslounge.co\/wp-content\/uploads\/2014\/08\/Fadjar-Ari-Dewanto.jpg\"><img decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-49231 alignleft\" src=\"http:\/\/businesslounge.co\/wp-content\/uploads\/2014\/08\/Fadjar-Ari-Dewanto.jpg\" alt=\"Fadjar Ari Dewanto\" width=\"120\" height=\"120\" srcset=\"https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2014\/08\/Fadjar-Ari-Dewanto.jpg 120w, https:\/\/www.blj.co.id\/wp-content\/uploads\/2014\/08\/Fadjar-Ari-Dewanto-90x90.jpg 90w\" sizes=\"(max-width: 120px) 100vw, 120px\" \/><\/a><em>Fadjar Ari Dewanto\/VMN\/BD\/Regional Head-Vibiz Research Center<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(Business Lounge &#8211; Empower People)\u00a0Seorang manajer di sebuah perusahaan pusing tujuh keliling ketika stakeholder perusahaannya\u00a0meminta seluruh hasil pekerjaannya \u201csekarang\u201d. Wajahnya kusut dan dia kebingungan untuk mengerjakan permintaan yang mana terlebih dahulu. Apa yang terjadi ini bisa disebut dengan \u201cnow syndrome\u201d\u00a0 kondisi ketika\u00a0seluruh stakeholder, baik pimpinan sebuah divisi, rekan kerja, bawahan, atau pelanggan, penyelia, pemerintah, partner bisnis semuanya menuntut apa yang menjadi kewajiban seorang karyawan \u201csekarang\u201d. Hal ini disebut syndrome, karena tuntutan \u201csekarang\u2019 juga timbul untuk hasil pekerjaan yang tidak membutuhkan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":32,"featured_media":110317,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_editorskit_title_hidden":false,"_editorskit_reading_time":0,"_editorskit_typography_data":[],"_editorskit_blocks_typography":"","_editorskit_is_block_options_detached":false,"_editorskit_block_options_position":"{}","om_disable_all_campaigns":false,"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"_uf_show_specific_survey":0,"_uf_disable_surveys":false,"footnotes":""},"categories":[1044,4,1051],"tags":[4927],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/116284"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/32"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=116284"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/116284\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":116286,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/116284\/revisions\/116286"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/110317"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=116284"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=116284"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.blj.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=116284"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}